Dua dekade setelah debut, kini Bigbang dalam format trio yang tetap energik. Foto: IG @bigbang_2xx6
Tahun 2026 menjadi momen besar bagi BIGBANG. Bertepatan dengan 20 tahun debut, supergrup K-pop ini kembali tampil setelah hiatus panjang.
Pemanasan telah dimulai ketika April lalu mereka—dalam format trio, tak lagi berlima—manggung di Coachella 2026. Penampilan ini jadi sinyal bahwa Bigbang belum bubar. Di Coachella pula G-Dragon menyatakan bahwa persiapan album baru telah selesai dan tur dunia akan dimulai pada Agustus.
Sebagai trio, mereka telah memulai BIGBANG 2026-2027 World Tour XX: Cosmos di Goyang, Korea Selatan, pada 21-23 Agustus. Konser pembuka tur ini bukan cuma sold out, tapi berlangsung sangat megah, emosional, dan dipenuhi oleh bintang tamu serta penonton dari berbagai kalangan.
Mereka juga menampilkan single terbaru Biig, dengan gaya dance suka-suka (gerakan sinkron? Apa itu?).
XX: Cosmos dijadwalkan menggelar 31 pertunjukan di 18 kota di AS, Prancis, Inggris, Taiwan, Singapura, Vietnam, Australia, Thailand, Hong Kong, Jepang, Malaysia, Indonesia, Filipina, dan Tiongkok.
G-Dragon sang leader yang menunjukkan siapa the OG untuk fashion darling-nya para idols. Foto: IG @bigbang_2xx6
Di Indonesia mereka bakal manggung di Jakarta International Stadium pada 16 Januari 2027 pukul 19.00 WIB. Ini merupakan tur dunia pertama mereka setelah sembilan tahun.
Ada sesuatu yang terasa berbeda ketika Bigbang comeback. Bukan karena G-Dragon, Taeyang, dan Daesung akhirnya kembali dalam satu panggung dan tetap sekeren itu (Daesung malah terlihat seperti idol Gen 5).
Kemunculan mereka di tengah isu tentang K-pop yang tak seperti dulu lagi, dan lebih terdengar seperti musik Barat untuk meraih popularitas global.
Dalam wawancara dengan The Hollywood Reporter, Vernon, anggota boy group Seventeen, mengatakan bahwa ia merasa kini K-pop lebih terdengar seperti American pop, bukan K-pop yang dia kenal di tahun 2000-an, terutama 2010-an, salah satunya seperti musik Bigbang.
K-pop sejak awal memang bukan genre yang lahir dari satu suara murni. Ia merupakan musik hibrida yang menyerap hip-hop, R&B, pop, funk, elektronik, hingga berbagai pengaruh musik Afrika-Amerika dan Barat, lalu menggabungkannya dengan sistem idol, koreografi, produksi visual, dan industri hiburan Korea.
Biarpun rambut seperti gulali, Taeyang dengan alis khasnya selalu terlihat seksi. Foto: IG @bigbang_2xx6
Kini, semakin banyak lagu K-pop menggunakan lirik berbahasa Inggris, penulis dan produser internasional, struktur lagu yang lebih familiar bagi pasar Barat, bahkan strategi promosi yang sejak awal dirancang untuk streaming global. Secara bisnis, langkah ini masuk akal karena K-pop memang mengincar pasar dunia.
Tetapi secara artistik, muncul pertanyaan, kalau semakin banyak lagu K-pop dibuat agar bisa terdengar seperti pop global, apa yang nantinya membuatnya tetap terasa K-pop?
Bigbang tidak pernah menjadi grup yang sukses karena terdengar “aman.” Mereka justru terkenal karena individualitas.
G-Dragon membawa hip-hop, fashion, elektronik, pop dan eksperimentasi ke dalam musik grup. Taeyang memiliki akar R&B dan soul yang kuat. Daesung punya karakter vokal yang berbeda.
Lagu-lagu mereka tidak selalu terdengar seperti formula yang sedang populer—dan justru karena itulah Bigbang punya identitas. Mereka juga membuktikan bahwa K-pop bisa memiliki kepribadian.
Daesung sekarang jadi maknae berusia 37 tahun, yang tampilannya tak kalah dari idol Gen 5. Foto: IG @bigbang_2xx6
Dari Haru Haru, Lies, Fantastic Baby, Love Story, hingga Bang Bang Bang dan Sober (belum lagi If You), Bigbang bukan hanya menjual koreografi dan visual. Mereka membangun suara, gaya, dan karakter yang dapat langsung dikenali.
Pengaruh itu terasa pada generasi setelahnya. Bigbang ikut membuka jalan bagi idol yang tidak hanya diposisikan sebagai performer, tetapi juga sebagai penulis lagu, produser, fashhion darling, dan figur dengan identitas artistik yang kuat. Bahkan sejumlah grup generasi berikutnya menyebut Bigbang sebagai salah satu pengaruh penting mereka.
Saat ini K-pop sedang berada pada posisi yang luar biasa kuat. Globalisasi telah membuat musik Korea dapat menembus pasar yang dulu sulit dijangkau. Studi terbaru mengenai hubungan musik Korea dan musik populer Amerika juga menunjukkan bagaimana kedua ekosistem musik tersebut semakin tersinkronisasi dari waktu ke waktu.
Ketika BTS menolak mengikutsertakan musik mereka untuk Grammy Awards 2027 setelah muncul kategori Best Asian Pop Music Performance, mereka juga mempertanyakan pembagian musik berdasarkan wilayah dan bahasa. Mereka ingin musik dinilai sebagai musik, bukan dibatasi oleh asal geografisnya.
K-pop ingin diakui sebagai musik global, tetapi pada saat yang sama industri tidak boleh lupa bahwa identitas lokal justru merupakan salah satu alasan dunia tertarik padanya.
Siap-siap war tiket untuk konser di Jakarta Januari nanti! Foto: IG @bigbang_2xx6
Mungkin itu pula yang membuat comeback Bigbang terasa penting, dan perlu, karena mereka membawa sesuatu yang makin mahal di industri musik sekarang, karakter.
Mereka kembali ketika K-pop telah menjadi industri global bernilai miliaran dolar, lagu berbahasa Inggris bukan lagi hal aneh, dan batas antara K-pop dan pop dunia semakin tipis.
Bisa jadi, 20 tahun setelah debut, pesan paling relevan dari Bigbang bukan soal mereka tetap eksis tapi tentang relevansi K-pop. Meski berubah, penuh eksperimen, dan mendunia, K-pop jangan sampai lupa menjadi dirinya sendiri. Fantastic, Baby! (f)
Baca juga:
Gaya Mingyu di Jakarta, Hadiri Pesta Koktail Dior Sebelum Wamil
Memaknai Arti Lagu MIC Drop dan Aliens dari BTS
Gong Yoo Siap Gelar Fan Meeting Perdananya di Jakarta
Zornia Harisantoso
Topic
#koreancorner


