Trending Topic
10 Kemewahan Yang Mengancam Alam

22 Apr 2016


Foto: Stocksnap.io, Fotosearch
            
Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), khususnya United Nation Environtment Programme (UNEP), keanekaragaman hayati atau biodiversity adalah istilah untuk menggambarkan berbagai macam kehidupan. Tingkatannya ada 3 macam, yaitu keanekaragaman genetik (misalnya pada manusia ada pria, wanita, rambut hitam, hidung pesek), spesies (manusia, harimau, gajah, melati, mawar), dan ekosistem (rawa, sungai, laut, hutan).
           
Keanekaragaman hayati di muka bumi ini makin terancam karena perbuatan manusia. Tanpa disadari, berbagai kemewahan yang kita nikmati telah mengakibatkan kerusakan dan ketidakseimbangan ekosistem alam. Berikut hal-hal di sekitar kita yang turut andil di dalamnya.
 
1/ Kosmetik. 
Selain bahan-bahan kimia, kosmetik juga mengandung bahan yang bersumber dari berbagai area dan jenis pertanian. Yang banyak digunakan adalah minyak kelapa sawit. Di Asia Tenggara, industri kelapa sawit berkembang pesat karena permintaan pasar dunia terus meningkat. Cara cepat untuk memperoleh lahan adalah dengan membakar hutan tropis, rumah dari ribuan spesies tanaman dan hewan. Padahal, masih banyak area kosong tidak terpakai yang bisa diolah menjadi perkebunan kelapa sawit. Akibatnya, Asia Tenggara menjadi kawasan dengan penggundulan hutan terbesar. Terutama, di Kalimantan, Sumatra, dan Irian Jaya. Menurut lembaga konservasi alam Australia, Palm Oil Action, penggundulan hutan di Indonesia memiliki rate yang tercepat di dunia. Selama tahun 2000 hingga 2005, sebanyak 1,8 juta hektar hutan tropis dibersihkan per tahunnya.
 
2/ Perhiasan. 
Semua perhiasan yang terbuat dari batu atau logam seperti emas merupakan hasil dari industri pertambangan. Batu dan logam adalah jenis kekayaan alam yang tidak dapat diperbaharui. Oleh karena itu penambangannya harus diperhatikan. Selain itu, sama halnya dengan kelapa sawit, area pertambangan biasanya mengambil lahan hutan hijau. Padahal setelah isinya dikeruk, tanah di area pertambangan biasanya telah kehilangan kesuburannya sehingga tidak bisa lagi dimanfaatkan. Di dunia internasional, baru-baru ini telah diadakan forum The Initiative for Responsible Mining, yang mengajak pemerintah negara-negara tambang, perusahaan tambang, distributor perhiasan, untuk lebih sadar dan bertanggungjawab akan lingkungan.
 
3/ Tekstil. 
Produsen kain atau tekstil bergantung pada pertanian kapas. Hingga sekarang masih banyak pertanian yang belum organik. Artinya, kegiatan pertanian masih menggunakan pestisida dan pupuk kimiawi yang beracun. Menurut laman Natural Health Care, Kanada, pertanian kapas memakai 22,5% dari total penggunaan pestisida secara global. Pada proses pengairan, zat beracun dari pestisida atau pupuk kimia akan terbawa air ke parit, sungai, kemudian laut. Akibatnya hewan-hewan yang hidup di dalam air seperti ikan dan katak, serta hewan ternak yang minum air sungai akan keracunan bahkan mati. Limbah pabrik tekstil yang mengandung zat beracun yang dibuang ke sungai atau laut juga dapat mengakibatkan kematian banyak hewan dan tumbuhan air.
 
4/ Bahan kulit dan bulu. 
Bahan kulit dan bulu dalam dunia fashion seakan tidak pernah ketinggalan zaman. Meski kampanye perlawanannya (misalnya oleh People for the Ethical Treatment of Animals atau PETA) makin gencar, permintaan kulit dan bulu di pasar dunia masih saja tinggi. Untuk menyanggupinya, banyak produsen yang  mulai beternak hewan sendiri untuk memproduksi bahan kulit atau bulu. Namun sebagian besar masih menggunakan cara lama, yaitu dengan memburu satwa liar. Meskipun bukan termasuk langka, kepunahan hewan seperti ular dan buaya yang diambil kulitnya akan berpengaruh terhadap keseimbangan rantai makanan, di mana mereka menduduki peran predator atau pemangsa tingkat tertinggi. Sedangkan hewan-hewan seperti rusa, biri-biri, dan kelinci meskipun hanya diambil bulunya, seringkali menjadi korban penyiksaan hingga mati.
 
5/ Plastik. 
Sampah plastik
merupakan salah satu masalah lingkungan terbesar di dunia. Meski, kini sudah muncul beberapa produsen plastik yang dapat terurai dalam waktu 24 bulan, sebagian besar bahan plasti membutuhkan waktu 300 tahun untuk terurai. Penggunaannya yang besar-besaran tetap mengakibatkan banyaknya plastik yang menumpuk di tempat pembuangan, yang kemudian terbawa ke sungai atau laut. Celakanya, hewan-hewan yang hidup di daerah perairan, seperti ikan dan burung, tidak bisa membedakan antara plastik dan makanan. Terutama, kantong plastik yang bentuknya mirip ganggang atau rumput laut. Akibatnya, di banyak pantai ditemukan bangkai hewan yang ketika dibedah perutnya, ditemukan berbagai macam barang plastik. Plastik yang dimakan hewan tidak hanya meracuni, tapi juga memenuhi perut hewan tersebut sehingga tidak cukup lagi untuk makanan betulan.
.
6/ Kertas dan tisu. 
Produksi dan konsumsi kertas besar-besaran juga menjadi salah satu penyebab utama penggundulan hutan. Menurut lembaga Global Education, Amerika Serikat, 25% pemakaian kayu dunia ditujukan untuk pembuatan kertas. Padahal kini semakin mudah untuk menghindari pemakaian kertas yang berlebihan. Cara termudah adalah menggunakan kembali lembar kertas yang tak terpakai. Cara yang sedikit lebih kompleks adalah mendaur ulang kertas-kertas yang tak terpakai, untuk dijadikan kertas baru. Di kantor, Anda juga dapat menggunakan sarana surel sebagai alternatif memo dengan kertas.
 
7/ Lapangan golf. 
Meski rumputnya terlihat hijau, lapangan golf ternyata tidak terlalu ‘hijau’ dari segi kelestarian lingkungan. Lapangan golf kerap kali dibangun dengan menebang hutan-hutan kecil di pinggiran kota. Selain itu, beberapa lapangan golf juga memakan lahan masyarakat setempat. Berbagai tanaman seperti pisang dan jagung yang menjadi sumber Tak hanya pembangunannya mengorbankan berbagai satwa dan tanaman liar, lapangan golf juga mengorbankan perekonomian masyarakat kecil.
 
8/ Ekowisata. 
Dengan populernya gerakan hijau di seluruh dunia, istilah ‘eco’ atau ‘green’ semakin banyak dipakai untuk menjual produk yang targetnya kalangan menengah ke atas. Salah satunya, perusahaan-perusahaan yang menawarkan paket ekowisata atau wisata di alam bebas. Menurut yayasan konservasi alam internasional, World Wildlife Fund (WWF), penggunaan istilah ekowisata tidak boleh sembarangan. Ekowisata, seharusnya, adalah wisata yang ditujukan untuk mengenal dan melestarikan alam. Sedangkan, wisata yang hanya sebatas menikmati alam tanpa mempedulikan kelestariannya, tidak bisa digolongkan sebagai ekowisata. Melainkan, hanya wisata yang berbasis alam. Pasalnya, seringkali acara jalan-jalan naik gunung justru mencemari hutan karena sampah yang dibuang sembarangan atau tanaman yang iseng dipetik. Seperti lapangan golf, pembangunan wisata outbound juga kerap mengorbankan ekosistem alami.
 
9/ Hidangan laut. 
Dari dunia kuliner, ada beberapa masalah yang mengancam keanekaragaman hayati. Pertama, masih diminatinya berbagai makanan eksotis, yang umumnya berbahan hewani atau tumbuhan langka, misalnya, sate penyu atau sup sirip ikan hiu yang harganya cukup mahal. Banyak nelayan yang melakukan ‘penyiripan’ tanpa membunuh ikan hiunya terlebih dahulu. Kedua, semakin populernya beberapa makanan yang menyebabkan hewan-hewan yang tadinya tidak langka menjadi terancam punah.   Misalnya saja ikan tuna yang semakin populer sebagai sushi atau sashimi. Beberapa jenis ikan kerapu dan lobster kini juga termasuk dalam daftar hewan yang terancam punah.
 
10/ Hewan peliharaan. 
Memelihara satwa langka
sebagai peliharaan dapat berdampak buruk tidak hanya bagi hewan itu sendiri, tetapi juga bagi hewan lain di habitat asalnya. Misalnya, penangkapan bayi orangutan biasanya dilakukan dengan cara membunuh induknya terlebih dahulu. Hewan liar yang diambil dari habitatnya dan dijinakkan, tidak mungkin sepenuhnya jinak. Selain itu, kalau tidak
 
 


Topic

#HariBumi

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?