
Valencia, kota ketiga terbesar di Spanyol setelah Madrid dan Barcelona. Selain dikenal sebagai kota yang menjadi tuan rumah pertandingan olahraga kelas dunia, seperti sepak bola dan Grand Prix Formula One, kota ini juga menyimpan daya pikat yang mungkin tak sering diungkap. Dibelah Sungai Turia, kota yang terletak di timur Semenanjung Iberia, menghadap ke Teluk Mediterania ini juga dikenal sebagai destinasi musim panas, cruise, dan kota transit menuju ke pulau yang terkenal dengan wild party, Ibiza.

Dilintasi Tiga Peradaban
Musik dance berirama upbeat dalam bahasa Spanyol, memenuhi taksi yang membawa saya dari hotel menuju ke pusat kota. Sambil memegang kemudi, sang sopir menyenandungkan lagu yang ia nyalakan dalam format video dari smartphone-nya. Sopir taksi ini berwajah tampan, tipikal rata-rata pria Spanyol yang saya temui. Berbeda dengan kebanyakan pria dari kota-kota Eropa lainnya, pria Valencia berkulit agak putih cenderung gelap, berambut ikal, dan bercambang. Wajah khas Mediterania.
Perkenalan saya pada Valencia dimulai dari Plaza del Ayuntamiento, alun-alun terluas kota ini, yang berada tepat di depan balai kota. “Valencia adalah kota yang dihadiahkan untuk para pensiunan pejuang, yang telah berjuang melawan pemberontak Iberian, sebagai tempat peristirahatan. Kota ini sudah ada sejak 138 sebelum Masehi,” ujar Alejandro, guide yang menemani saya menelusuri sisi kota tua yang terbentang seluas 169 hektare itu.
Sudut di Ayuntamiento ini sangat sibuk. Hilir mudik warga lokal bercampur rombongan turis tumpah ruah memenuhi tempat pedestrian. Meski begitu, saya tak melihat ketergesaan saat berjalan, seperti yang biasa terlihat di kota-kota besar pada jam sibuk, mengejar waktu untuk sampai di kantor. Menurut Alejandro yang akrab disapa Ale, selain kawasan pusat turis, tempat ini juga menjadi meeting point para Valenciana.
Bangunan di kiri kanan jalan rata-rata berasal dari abad pertengahan, dengan arsitektur renaissance dan gothic, membuat mata tak berhenti mengagumi tiap detailnya yang megah. Mulai dari kantor pos, bioskop tua yang memutar film-film klasik, hingga hotel.
Ale mengajak kami singgah ke pasar tradisional, Mercado Central, dengan simbolnya burung perkutut. Bangunan dari abad ke-8 ini menjadi pusat perdagangan sayuran segar, ikan, daging, ragam keju, minyak zaitun, maupun wine. Kebanyakan berasal dari produk setempat. Valencia merupakan salah satu penghasil sayuran segar, yakni dari kawasan Albufera. Melihat jenis sayurannya yang beragam, di antaranya, yang bentuknya baru saya lihat di sini.

Ale mentraktir saya minuman horchata, semacam susu dari kacang chufa. Tanaman yang banyak tumbuh di Mesir ini merupakan salah satu asimilasi tradisi kuliner yang diperkenalkan oleh bangsa Arab. Biasanya dimakan dengan fartons polo (semacam éclair tapi berukuran besar) yang rasanya manis, lalu dicelup ke dalam horchata.
Salah satu peninggalan penting yang menggambarkan ‘kekayaan’ sejarah kota ini adalah bangunan Katedral Valencia. Dari luar, bangunan berwarna terakota ini tampak seperti kastil. Dibangun pada abad ke-13, tempat ini pernah menjadi kuil di masa Romawi, yang kemudian dijadikan sebagai masjid setelah penaklukkan Islam, lalu menjadi katedral setelah penaklukkan Kristen.
Didekorasi dengan arsitektur yang beragam --gothic, renaissance, baroque, neoclassic-- menggambarkan betapa kayanya sejarah Valencia. Pilarnya yang tinggi adalah peninggalan Romawi. Konon, piala holy grail yang asli (cawan yang digunakan Yesus sewaktu last supper) tersimpan di sini.
Pada abad ke-8, kota ini dikuasai oleh kaum muslim, dengan sebutan Medina bu-Tarab (City of Joy) atau disebut juga Balansiyya. Kaum muslim menguasai kota ini hingga tahun 1238. Peninggalan yang masih bisa ditemukan hingga sekarang antara lain sistem irigasi, kuliner, hingga arsitektur yang sangat memengaruhi tiap bangunan kota, termasuk dekorasi pilar-pilar dan kubah geometris di katedral ini.
Pada abad pertengahan, Valencia adalah kota yang sangat kaya dan maju perdagangannya. Hal ini tampak dari bangunan yang didedikasikan sebagai tempat pertemuan para pedagang, La Lotja de la Seda. Saya terpukau pada kompleksitas pilarnya yang berbentuk spiral, setinggi 17 meter. Dulunya, para pedagang yang datang dari kota-kota lain, diundang dan dijamu di sini. Untuk membuat mereka terkesan, penguasa kota membangun tempat ini seindah dan semahal mungkin dengan dominasi elemen emas sehingga mereka mau berinvestasi di Valencia.
Masa itu memang disebut-sebut sebagai abad keemasan kota ini. Lokasinya yang strategis membuat Pelabuhan Valencia cukup maju dengan perdagangan kertas, sutra, kerajinan kulit, keramik, kaca, hingga perak. Di bangunan ini pula, terdapat ruang pengadilan untuk para pedagang yang menunggak utang atau bertindak curang.

Tepat di belakang katedral, di Plaza de la Virgen, Ale mengajak saya menyaksikan seremoni Water Court. Para pemimpin daerah di penjuru Valencia berkumpul untuk membicarakan tentang pengairan dan irigasi. Diskusi ini berlangsung tiap hari Kamis. Ini adalah tradisi yang masih dilakukan hingga sekarang. Mungkin sekarang diskusinya tidak lagi dilakukan, hanya seremoninya yang masih dipertahankan. Sistem irigasi yang dipakai di kota ini juga merupakan warisan tradisi peradaban islam.
Di alun-alun, ratusan orang sudah berkumpul menantikan detik-detik water court, sejak setengah jam sebelumya. Mereka rela berdiri lama, di bawah sinar matahari, sementara seremoninya hanya berlangsung selama beberapa menit. Saya yang kebagian berdiri tepat di belakang tempat diskusi, karena penasaran, mengabadikan momen itu lewat video. Seremoni ini dinyatakan sebagai intangible cultural heritage of humanity (Patrimonio Cultural Inmaterial de la Humanidad).

Seribu Pohon Jeruk dan Jembatan
Salah satu keunikan Valencia adalah taman yang terbentang membelah kota di bekas Sungai Turia. Sungai tersebut kini sudah tak ada lagi. Hal ini dikarenakan, di tahun 1950, pernah terjadi banjir besar di kota ini. Pemerintah pun mengambil keputusan untuk mengalihkan sungai ke pinggiran selatan kota, dan menyulap bekas sungai yang lebar tersebut menjadi taman.
Betapa tidak, bekas sungai tersebut terbentang hinggal lebih dari 280 km. Area seluas itu kini telah menjadi taman dan hutan kota yang dinamakan Jardín del Turia. Bangunan-bangunan modern dengan desain yang futuristis pun dibangun menempati taman ini, antara lain Bioparc, Oceanografic, museum seni dan sains (Ciudad de les Artes Y Las Ciencias), opera dan teater (Palau de les Arts Reina Sofia), Science Museum Principe Felipe, gedung bioskop imax, exhibition hall (Hemisferic), galeri kebun (Umbracle), dan lainnya. Bangunan dengan dominasi elemen kaca ini pun menjadi ikon baru Valencia yang modern.
Tempat ini juga menjadi pusat aktivitas olahraga para Valencian. Mulai dari jogging, lari, bersepeda, atau sekadar berjalan kaki menikmati hijaunya kota. Tak heran, banyak yang menyebut kota ini sebagai kota dengan banyak jembatan tanpa air. Ketika saya berjalan kaki melewati taman ini pada malam hari, di antara gedung-gedung kaca yang memendarkan cahaya lampu, saya merasa dibawa ke tempat antah berantah.
Keunikan yang lain dari Valencia adalah kota ini menebarkan aroma jeruk yang wangi dan segar. Jika biasanya di Indonesia saya hanya menemui pohon jeruk di perkebunan, di sini di penjuru kota berderet pohon jeruk yang --saat saya berada di sini di bulan November-- tengah berbuah lebat. Pohon jeruk --atau dalam bahasa Spanyol naranjas-- ibarat ornamen yang jamak ditemui, baik di tempat publik, di sepanjang jalan, di kebun-kebun kompleks bangunan heritage, maupun di pekarangan pribadi warga lokal. Konon, pohon-pohon jeruk ini dipopulerkan oleh bangsa Arab di tahun 1300-an. Meskipun ada yang mengatakan, era sebelum itu pohon jeruk sudah banyak ditemui di kota-kota di Spanyol. Tak heran jika Valencia termasuk salah satu kota penghasil jeruk terbesar di Spanyol.
Buahnya yang besar dan berwarna terang menggoda saya untuk memetiknya. Namun, urung saya lakukan karena ketinggiannya tak terjangkau. Menurut warga setempat, meski siapa pun bebas memetik, warga tak berminat memanennya. Biasanya, hanya para turis yang tergoda memetik dan mencicipinya.
Sekali dalam setahun, pemerintah setempat menyewa jasa perusahaan swasta untuk memanen jeruk-jeruk tersebut guna diolah menjadi selai orange marmalade dan pangan olahan lainnya. Dalam kuliner setempat, jeruk (dan juga lemon) memang menempati posisi penting, seperti juga tomat dan minyak zaitun.
Di salah satu kafe yang saya singgahi misalnya, saya mendapat suguhan minuman khas Agua de Valencia. Meski namanya agua, minuman ini sesungguhnya koktail yang dibuat dari campuran jus jeruk, sparkling wine, dan campuran liquor. Rasanya… manis, segar, dan menggigit! Sayang, tidak boleh minum terlalu banyak.

Marc, pemilik Café de Las Horas --salah satu tempat yang menyuguhkan Agua de Valencia terbaik di kota ini-- menyambut saya dengan ramah. “Kafe ini didesain sebagai kafe klasik, perpaduan kafe ala Prancis, tempat minum teh khas Inggris, dan tempat minum cocktail gaya Amerika,” tutur Marc, yang mendesain kafenya dengan gaya neo-baroque, dengan warna merah yang dominan.
Valencia adalah kota pantai. Di musim panas, pantai yang hanya 15 menit dari pusat kota ini disemuti manusia. Playa de la Malvarrosa dan Playa de Las Arenas adalah dua pantai yang paling populer, karena memiliki promenade yang sangat luas dan deretan tempat makan yang memanjakan lidah.
Valencia sedang menggenjot pariwisata lewat pantai, dengan salah satunya menjadi tuan rumah America’s Cup, yakni perlombaan sailing internasional. Pemerintah menggelontorkan dana untuk membangun klub dan mendandani pelabuhan. Cruise dan yacht pun berdatangan ke kota ini.
Dari Pelabuhan Valencia ada feri yang bisa membawa Anda ke Ibiza, pulau kecil yang dikenal sebagai pusat destinasi nightclub para selebritas dunia. Butuh waktu 3-5 jam menyeberang dengan feri. Atau, cukup 50 menit terbang dengan pesawat. Sayang, Ibiza hanya ramai saat musim panas.

Siesta dan Paella
Paella adalah makanan kebanggaan Spanyol, yang berasal dari Valencia. Kuliner ini diperkenalkan oleh bangsa Arab, yang mulai banyak menanam padi di Valencia, pada abad ke-8. Nama paella berasal dari nama wajan khusus yang digunakan untuk memasak paella. Dulunya, secara tradisional paella dimasak menggunakan tungku kayu bakar.
Salah satu pengalaman yang menarik adalah ketika saya berkesempatan untuk belajar memasak paella autentik di sebuah restoran yang memberi paket kursus memasak paella, Escuela de Arroces Y Paella Valenciana di Calle Juristas. Di bawah arahan chef Benito, satu kelompok, terdiri dari 3 orang, mendapatkan satu peralatan memasak lengkap dengan bahan-bahannya.
Bahan-bahan tersebut antara lain daging ayam, daging kelinci, kerang, tomat, kacang-kacangan (garrofo-kacang yang kulitnya berwarna putih, tavella-semacam buncis, ferradurra-semacam kacang kapri), saffron, rosemarry, bubuk paprika, dan garam. Tiap bahan dimasukkan satu per satu ke dalam wajan. Begitu daging ayam matang digoreng, lalu disisihkan. Selain diletakkan di dalam masakan, rosemarry juga ditaruh di kuping wajan sehingga menebarkan aroma yang kuat.
Sebelum beras dimasukkan, wajan yang sudah diberi 1 liter air dibiarkan dulu selama 30 menit, supaya bumbu meresap menjadi air kaldu. Sembari menunggu, kami kembali duduk di meja, menikmati minuman, appetizer, sembari mengobrol dengan teman semeja.
Setelah 30 menit, kami dipanggil kembali ke dapur. Bumbu dibelah menjadi dua, giliran beras yang dimasukkan ke tengahnya. Setelah itu, chef tidak mengizinkan kami menyentuh beras sedikit pun. Sembari menunggu, Nacho penerjemah kursus memasak kami, memutarkan musik. Dia mengatakan, tiap tahun warga Valencia mengadakan festival memasak paella, dan mereka memutar musik tersebut. Lalu, ia memperagakan bagaimana warga lokal memasak sambil berpesta. Ia mengajak kami bergandengan tangan, sembari bersenandung tat a tara tata… mengikuti irama musik, dan menggoyang-goyangkan kaki, seolah itu kebiasaan yang dilakukan Valencian saat memasak paella. Yang jelas, saat itu kami memasak dengan gembira.
Waktu makan (baik lunch maupun dinner) adalah momen yang sangat menyenangkan di sini. Selain di sekolah paella, saya menikmati makan siang di sebuah kasino satu-satunya di kota ini. Jika biasanya di Jakarta saya makan siang selambatnya pukul 12.00, maka di sini kebiasaan makan siang baru dimulai pukul 14.00. Makan tidak bisa sebentar, sebab hidangan keluar satu demi satu. Hidangan umumnya terdiri dari 3 macam appetizer, di antaranya valencian tomato with dried tuna, russian salad, dan cumi goreng dengan saus alioli (semacam mayones khas Spanyol yang dibuat dari campuran telur, bawang putih, dan minyak zaitun). Main course-nya, arroz del senoret (semacam paella dengan bahan seafood), dan dessert puding rasa kopi. Alhasil, butuh waktu lebih dari 2 jam untuk menyelesaikan semua makanan. Dari yang amat kelaparan, perut pun langsung kekenyangan.
Pada jam tersebut, dikenal juga sebagai waktu siesta. Di hari weekend, siesta adalah waktu tidur siang. Pada hari kerja, tentu saja tak memungkinkan untuk tidur siang. Siesta diartikan sebagai waktu break. Dimulai dari pukul 14.00, para pekerja kembali ke kantor setelah pukul 16.00 hingga rata-rata jam kerja berakhir pukul 18.00 atau 19.00. Lain lagi bagi para pegawai kantor pemerintah atau bank. Mereka tidak mendapatkan waktu siesta, namun mereka bisa pulang kantor pada pukul 15.00.
Karena sore hari baru selesai lunch, tak heran jam makan malamnya pun terbilang larut, yakni mulai pukul 21.00. Terpaksa, jam biologis makan saya pun menyesuaikan jam makan di sini. Lagi-lagi, dengan urutan appetizer dulu, hingga dessert, ditambah segelas koktail atau sangria, dinner baru usai menjelang tengah malam. Sungguh, hari berlangsung terlampau panjang di Valencia.

Tip Berlibur di Valencia
- Keliling Kota Valencia bisa menggunakan sepeda yang disewakan di beberapa parkiran khusus sepeda. Sewa 1 jam hanya 1 euro (Rp14.500), untuk tiap kelipatan sejam berikutnya bayar 3 euro (Rp43.500).
- Ada puluhan restoran di pusat kota yang menyediakan kursus memasak paella. Biaya kursus memasak paella sekitar 60 euro (Rp870.000) per orang.
- Waktu yang festive untuk berpesta di Valencia adalah saat musim panas. Atau, datanglah di pertengahan bulan Maret, saat diadakannya Fallas Festival, yakni festival yang berlangsung 5 hari, ketika seluruh warga setempat keluar rumah, membuat ratusan patung raksasa dari kertas dan membakarnya. Festival ini menandai datangnya musim semi.
- Jangan lewatkan berkunjung ke Albufera Park, taman nasional terbesar di Eropa. Danaunya yang indah, hamparan sawah, dan hutan subtropis menjadi destinasi yang tepat untuk romantic getaway. Jaraknya hanya 15 menit dengan bus atau mobil dari pusat kota.




