
Cap Go Meh, perayaan puncak Imlek di hari ke-15, dirayakan masyarakat Tionghoa di mana mereka bersyukur atas hasil panen, serta berharap agar musim berikutnya rezeki akan terus berlimpah ruah. Tahun ini, perayaan Cap Go Meh di Kota Singkawang, Pontianak, dan beberapa daerah pinggiran Kota Kalimantan Barat lainnya terasa lebih meriah dari tahun sebelumnya.
Singkawang merupakan kota yang wajib dikunjungi saat Cap Go Meh. Kota San Keow Jung dalam bahasa Hakka yang dijuluki kota seribu kelenteng ini jaraknya 140 kilometer dari ibu kota Provinsi Kalimantan Barat, Pontianak.

Cap Go Meh di Singkawang selalu disemarakkan dengan pawai tatung sepanjang jalan utama. Tatung adalah orang terpilih oleh leluhur, yang ilmunya tidak bisa dipelajari sembarang orang. Kemampuan ini lahir dengan sendirinya dan biasanya akan menurun dalam satu garis keturunan.
Tahun ini ada sekitar 400 tatung yang akan melakukan atraksi. Dimulai dari Pasar Hongkong lalu berakhir di Tugu Naga, yang menjadi salah satu landmark Kota Singkawang.
Mulai pukul 06.00 WIB, masing-masing tatung akan datang ke kelenteng-kelenteng yang jumlahnya ratusan di Singkawang, untuk memohon persetujuan dewa agar roh leluhur bisa dipanggil dan merasuk ke dalam tubuh mereka. Tiap kelenteng paling tidak menjadi tempat untuk 3-4 tatung bersiap.
Tampak 3 orang tatung menggunakan baju panglima perang beserta aksesori pelengkap, seperti mandau, tombak, juga tandu yang penuh senjata tajam. Ada juga panji dan bendera yang menggambarkan dari kelenteng dan kelompok mana mereka datang. Di depan tandu sudah dipasang jimat yang diberi dupa. Asapnya yang menyeruak wangi mulai membangkitkan aura mistis. Dari jauh tetabuhan berupa gendang dan simbal mulai terdengar.
Satu kelompok berisi puluhan orang berseragam. Masing-masing memiliki tugas yang sudah disematkan. Satu tatung didampangi satu asisten yang mempersiapkan semua kebutuhan tatung dan menjaga supaya tatung tidak membahayakan penonton. Sesembahan dan sesajen juga tersimpan rapi di tas para asisten ini. Ada juga yang membawa dan memikul tandu, membawa simbol dan bendera kebesaran, serta memastikan roh tetap ada dalam tatung.
Para tatung kemudian diarak menuju kelenteng. Tetabuhan dimainkan tiada henti. Ritual dibuka dengan menyembah dewa dan dupa yang dibakar makin banyak. Tetabuhan dibunyikan makin kencang, suasana mistis makin terasa saat mantra dan air mulai diperciki.
Para tatung mulai menggeram dan mengeluarkan teriakan memekik. Mereka mulai berlarian ke sana kemari, namun tetap didampingi oleh asistennya. Mereka diberi makan sesajen, lalu seperti kuda lumping, mereka memakan apa saja yang diberikan. Keadaan makin mencekam saat semua tatung sudah benar-benar dirasuki roh. Mereka menari sembari berteriak dan menggosok-gosokkan badan dengan parang tajam, bahkan memotong lidah dan bibir, tapi tidak sekali pun terluka dan berdarah.

Go Kong & Kwan Im
Setelah upacara tersebut selesai, semua orang berkumpul dan bergerak menuju lokasi perayaan pembukaan arakan tatung di Pasar Tengah, di mana sudah banyak turis mancanegara dan lokal menanti dengan antusias. Untuk masuk ke area ini, pengunjung dikenakan biaya Rp150.000 per orang. Bagi yang tidak memiliki tiket dapat menunggu di sepanjang Jalan Kalimantan, Jalan Niaga, dan Jalan Sejahtera.
Lokasi pembukaan dipenuhi oleh hiasan lampion merah yang cantik di antara langit biru yang cerah. Perlahan-lahan arakan mulai bergerak, musik bertalu-talu dengan kencang dan mengentak, aroma dupa makin menusuk hidung. Namun, penonton kebanyakan hening menikmati pertunjukan ini, seakan menyambut roh para leluhur yang sedang turun ke Singkawang.
Satu per satu tatung muncul dengan berbagai macam baju kebesarannya. Di atas tandu, dari jauh mereka terlihat gagah perkasa. Beberapa pengawal dengan baju yang tidak kalah sangar ada di sekitarnya. Ada yang memakai berbagai atribut dan jimat, ada juga yang mencoreng moreng wajahnya dengan jelaga.
Tatung pria, wanita, lansia, bahkan anak-anak, semuanya sudah dirasuki roh leluhur. Mata mereka terlihat nanar namun tetap sangar. Ada yang menjadi Sun Go Kong lengkap dengan pakaian kebesarannya. Mimiknya meniru monyet sembari menggaruk-garuk tubuhnya. Kaki tuanya menginjak mata pedang tanpa terluka sama sekali, tangannya memegang mata tombak dengan santainya.
Atraksi lainnya adalah gerakan akrobatik di atas tandu. Kaki dan tangan mereka dengan santainya beradu dengan senjata tajam tanpa terluka. Pertunjukan khas lainnya adalah memasukkan jarum besi panjang dengan bagian ujung yang dihias bunga teratai atau buah jeruk.
Yang lebih berani biasanya menusukkan pedang atau batang besi yang lebih besar dari pipi kiri ke pipi kanan. Sementara itu, tatung yang lapar juga tetap harus diberi makan. Ada yang menggigit-gigit buah, ada yang memakan bunga, sampai menggigit leher ayam. Tidak semua atraksi yang disuguhkan membuat bergidik. Ada juga deretan tatung wanita cantik yang kerasukan roh Dewi Kwan Im, yang duduk manis dengan sikap doa teratai di atas kursi tandu yang penuh senjata tajam.

Liukan Naga
Tidak hanya di Singkawang, Pontianak juga tidak mau kalah untuk menunjukkan atraksi wisatanya di saat perayaan Cap Go Meh. Tiap tahun akan ada bazar Chinatown yang diisi berbagai macam stan makanan dan minuman, serta panggung gembira yang berisi pemilihan Koko dan Mei Mei.
Berjalan di sepanjang Jalan Diponegoro mata akan dimanjakan oleh banyak sekali lampion dan patung monyet di dekat gerbang masuk, sebagai penanda dimulainya tahun Monyet. Sedangkan di gerbang keluar ada rumah hantu yang cukup menarik sebagai hiburan. Bagi penggemar kuliner, banyak sekali tenda yang menyajikan makanan dari berbagai rumah makan di kota Pontianak.
Pukul 5 sore warga Pontianak berkumpul untuk menonton pertunjukan naga bercahaya. Salah satu naga yang tampil panjangnya hingga 100 meter dengan diameter 2,80 meter. Besarnya seukuran city car. Ada 120 orang yang memainkannya dan di sepanjang tubuhnya dipenuhi lampu.
Ada pula 13 naga yang berukuran lebih kecil dan barongsai. Pertunjukannya sendiri berpusat di sepanjang Jalan Gajahmada, Jalan Pahlawan, Jalan Tanjung Pura dan Jalan Agus Salim. Begitu matahari terbenam, semua lampu di tubuh naga sudah bercahaya dengan indahnya. Penonton sudah mengular untuk menonton pertunjukan ini.
Sebelum naga ini dimainkan, harus dilakukan ritual buka mata, dimana naga diarak menuju kelenteng, salah satunya adalah Kwan Tie Bio. Di sana akan ada seorang tatung yang memiliki kemampuan memanggil roh naga dari langit dan memasukkannya ke dalam naga tersebut.
Biasanya ritual dibuka dengan mantra, kemudian bagian kepala dan ekor dilukis menggunakan kuas dan tinta, setelah itu dupa dibakar dan air dipercikkan. Biasanya pada saat ini akan ada ritual membagikan jenggot naga yang dipercaya bisa memberikan keberuntungan. Kepercayaan lain mengatakan, yang melewati bagian bawah perut naga sebanyak tiga kali pada saat dimainkan akan mendapat keberuntungan.
Pertunjukan naga ini sendiri dipercaya dapat membersihkan kota dari pengaruh jahat dan kesialan. Daerah yang dilewati adalah kawasan pecinan yang cukup luas dan berada di tengah kota. Pertunjukan ini berputar beberapa kali melewati rute yang sudah ditentukan.
Naga pun meliu-liuk dengan ganasnya, seperti turun dari langit dan menari nari di awan. Para pemain terlihat berusaha keras mengikuti irama bola api. Kepala, badan dan ekor meliuk ke sana ke mari. Keterampilan dan kekompakan para penarinya diuji, apalagi mereka bermain di impitan penonton yang tumpah ruah di jalanan.
Tips Menonton Cap Go Meh
- Pesanlah tiket pesawat dan hotel minimal 3 bulan sebelum festival Cap Go Meh, karena harganya bisa 3-4 kali lipat jika sudah mendekati pelaksanaan.
- Tiket menonton menggunakan tempat duduk bisa dibeli saat perayaan Cap Go Meh, Rp100.000 sampai Rp150.000.
- Bawa pakaian yang nyaman serta sopan dan membawa perlindungan yang cukup dari sinar matahari (sunblock dan topi) karena cuaca akan sangat panas dan biasanya akan berdesakan.
- Bawa makanan dan minuman yang cukup saat menonton karena akan sangat susah bergerak dari posisi berdiri saat menonton.
- Jika ingin mengambil gambar dengan baik, disarankan membawa tripod atau monopod, tapi harus menjaga etika dan tidak menghalangi pandangan orang lain.
DONY PRAYUDI


