Travel
Cartagena, Harta Karun Karibia

1 Feb 2016




 
Travelers menyebut kota pelabuhan romantis di Kolombia ini sebagai destinasi ‘rahasia’ Amerika Selatan yang paling hip.
 
Saat mengikuti ELE FOCALAE 2015, program beasiswa untuk belajar bahasa Spanyol dari pemerintah Kolombia, Redaktur Senior femina, Primarita S. Smita, menjelajah beberapa kota di pesisir Laut Karibia. Cartagena adalah yang paling mencuri hatinya.
 
Saya berdiri sejenak di persimpangan jalan berbatu, di antara gedung-gedung berwarna jingga, kuning, dan biru. Derap kereta kuda yang tadinya samar, lama-kelamaan terdengar makin jelas. Orang-orang berlalu-lalang dari segala arah, bercakap-cakap dalam berbagai bahasa dari segala penjuru dunia. Sinar matahari pukul 2 siang yang begitu menyengat membuat Cartagena yang telah berusia hampir 500 tahun ini makin berdenyut. Sedikit terbawa arus para pejalan kaki, saya pun mulai melangkah untuk mengeksplorasi destinasi wisata tropis kebanggaan Kolombia.
 
Berpijar Siang Malam
Cartagena begitu memabukkan, begitu kesan pertama saya ketika menginjakkan kaki di kota yang terletak di bagian utara Kolombia ini. Ini bukan karena perjalanan bus malam yang harus saya tempuh 14 jam dari kota tempat tinggal saya, Bucaramanga. Ya, sebenarnya itu juga. Tapi, yang saya maksud adalah karena ibu kota dari Departamento de Bolívar ini merupakan kota pantai yang terasa begitu vibrant, energik, dan gaya.
Kalau kebanyakan pueblo atau desa kolonial di Kolombia karakternya didominasi warna putih, semua sudut dan detail Cartagena justru berwarna-warni mencolok. Dari dinding bangunan berarsitektur kolonial Spanyol, gaun tradisional Kolombia yang dipakai oleh para wanita palenquera dengan keranjang buah tropisnya, hingga mochila atau tas anyaman khas Wayuu yang digelar di pinggir jalan. Selain warna neon, warna bendera Kolombia, yaitu merah, biru, dan kuning, seakan hadir di tiap kesempatan.
Tiap kota di Kolombia memiliki feel yang berbeda-beda. Boleh dibilang Cartagena adalah salah satu yang paling istimewa. Berbeda 180 derajat dari Bogotá, ibu kota metropolitan dengan ‘rasa’ Eropa, sibuk dan dingin, Cartagena yang tropis memancarkan aura liburan dan senang-senang sepanjang tahun.
Penduduk Kolombia terdiri dari beberapa etnis, yaitu Kaukasia atau kulit putih, mestizo yang berdarah campuran Eropa, Afro-Colombian atau orang kulit hitam, dan indigena atau suku asli. Dibandingkan kota-kota lain, karakter Cartagena lebih didominasi orang kulit hitam, yang istilahnya costeño atau orang dari costa (pesisir). Aksen Spanyol mereka juga terdengar paling berbeda karena banyak huruf akhir yang hilang dari pelafalan katanya.
Karakter demografi Cartagena ini dipengaruhi oleh sejarah perbudakan, yang diceritakan dalam lagu La Rebelion oleh penyanyi salsa tersohor Kolombia, Joe Arroyo. Pada abad ke-16, bangsa Spanyol membawa budak-budak dari Afrika ke Amerika Selatan melalui jalur laut dan menetapkan mereka di daerah-daerah pesisir. Itu sebabnya, kini Afro-Colombian kebanyakan mendiami daerah pesisir Laut Karibia di pesisir utara dan Samudra Pasifik di pesisir selatan.

         

            Di beberapa spot yang ramai turis, terutama di area kota tua atau Ciudad Amurallada, beberapa palenquera tampak menyambut turis dengan senyum ramah dan tangan yang literally terbuka lebar, menyibakkan gaun tradisional Kolombia yang berwarna putih merah, biru, dan kuning sesekali. Menjajakan buah-buahan seperti pepaya dan semangka, mereka adalah wanita kulit hitam yang berasal dari San Basilio de Palenque, kota di selatan Cartagena yang dulu didirikan para budak yang berhasil melarikan diri dari jeratan majikan.
            Pemandangan yang begitu khas ini sudah pasti tidak disia-siakan oleh para turis untuk berfoto bersama, termasuk saya. Tidak gratis tentunya. Karena, usai berfoto biasanya palenquera ini akan berseru, “Propina, por favor!” atau “Tip, please!” Saya pikir, cukuplah memberi tip seharga sama dengan buah yang mereka jual, yaitu 5.000 COP (Colombian peso) atau sekitar Rp35.000 per potong.
            Begitu matahari terbenam, bukannya meredup, Cartagena justru  makin berpijar, menghipnotis party animals dari seluruh dunia yang memenuhi kelab-kelab malam hingga matahari terbit. Ketika mendatangi klub Bourbon St. dekat Plaza Santo Domingo, saya langsung paham mengapa Cartagena memiliki reputasi sebagai kota fiesta. Dengan sebuah bar di tengah dan panggung kecil di ujungnya, Bourbon St. begitu sesak oleh meja dan kursi tinggi, sampai-sampai nyaris tidak ada ruang untuk jalan, apalagi menari. Tapi ternyata, orang-orang tidak butuh lantai dansa. Mereka tinggal naik ke atas meja atau kursi saja!


Pirates of the Caribbean



Saya mengenal Cartagena pertama kali ketika menonton film adaptasi novel Love in the Time of Cholera (2007) yang diperankan Javier Bardem. Kisah kasih tak sampai ini, yang dalam bahasa aslinya berjudul El amor en los tiempos del cólera (1985), ditulis oleh Gabriel García Márquez. Pria yang akrab dipanggil Gabo ini adalah penulis Kolombia pemenang Nobel bidang literatur yang memulai karier sebagai jurnalis muda di Cartagena. Ketika wafat tahun 2014 lalu, ia meninggalkan warisan yang tak ternilai berupa karya tulis jurnalistik dan cerita fiksi beraliran magical realism.
            Cartagena bukan hanya inspirasi, tapi juga energi bagi banyak tulisan Gabo. Meski Love in the Time of Cholera mengambil latar kota yang tak bernama, ada  banyak kemiripan dengan Cartagena dan Sungai Magdalena yang berlokasi tidak jauh dari sana. Karena belum ada museum khusus yang didedikasikan untuknya, pencinta Gabo dan literatur biasanya mengambil paket tur napak tilas Gabo, yang baru muncul beberapa tahun belakangan ini di Cartagena. Sayang, saya tidak sempat mengikutinya, jadi saya sekarang masih penasaran dengan kafe-kafe terpencil tempat Gabo mojok dan mencari inspirasi untuk menulis.
            Selain karya sastra, peninggalan sejarah Cartagena yang lain begitu antik, kaya, dan terlihat jelas, bahkan dari jauh sekalipun. Berkendara memasuki pusat kota, kita bisa melihat Ciudad Antigua atau Ciudad Amurallada (Walled City). Sesuai namanya, kota tua ini dibentengi dinding sepanjang 3 kilometer, yang pada abad ke-17 dibangun untuk melindungi Cartagena dari serangan perompak atau bajak laut, pirates of the Caribbean yang sesungguhnya.
            Sebagian besar atraksi wisata Cartagena berada di balik dinding benteng yang dirancang oleh Bautista Antonelli, seorang insinyur militer Italia. Termasuk berbagai museum yang menyimpan sejarah Cartagena yang dulunya begitu kaya akan emas. Tidak mengherankan bila wilayah yang dulunya bernama Calamarí ini adalah sasaran empuk bagi bajak laut. Kini, Cartagena justru menjamu tamu-tamu cruise yang berlabuh dari seluruh dunia, dengan deretan restoran, butik, dan galeri mewah.
Semua cerita sejarah Cartagena dari akar bangsa Afrika hingga abad ke-21 ini dikemas dengan apik di beberapa museum, antara lain Museo Histórico de Cartagena yang didirikan tahun 1924, dan Museo Naval del Caribe yang bangunannya berusia 400 tahun dan memamerkan berbagai model kapal perang. Bagi yang lebih tertarik shopping daripada melihat museum, bisa juga mampir ke Las Bóvedas, pusat perbelanjaan yang menjual berbagai kerajinan, suvenir, dan aksesori khas Kolombia yang lucu-lucu.



Layaknya daerah bekas jajahan Eropa, Cartagena memiliki beberapa plaza atau square. Plaza de la Aduana begitu luas dan menjadi tempat singgah mereka yang mengikuti tur naik segway. Plaza de Bólivar ukurannya lebih kecil. Namun, dengan beberapa pohon yang telah berumur ratusan tahun, air mancur, serta lampu taman yang vintage, suasananya sungguh menyenangkan. Saat mampir di sana, saya menyaksikan grup tari tradisional yang sedang mentas memakai beberapa macam kostum untuk tarian yang berbeda-beda.


Saya juga sempat berteduh sejenak dari sengatan matahari sore di salah satu bar di pojokan Plaza Santo Domingo. Saya dan seorang teman memilih tempat duduk di balkon lantai dua supaya bisa mengamati suasana plaza, menyaksikan orang membuat segala rupa selfie dengan patung karya Fernando Botero, seniman kontemporer Kolombia yang terkenal berkat figur-figurnya yang gemuk. Sungguh tempat yang strategis untuk menyesap bir dingin lokal, Club Colombia, sambil melamun dan mensyukuri hidup.
Spot lain dengan pemandangan yang lebih spektakuler adalah Cafe del Mar yang terletak di atas dinding kota yang menghadap ke Laut Karibia. Sudah pasti kafe ini menjadi sasaran mereka yang ingin menikmati sunset. Kalaupun tidak mendapat meja di sana, kita masih bisa membeli minuman dingin yang dijajakan pedagang asongan, lalu duduk-duduk di tepi dinding sambil menikmati pemandangan ‘mahal’ yang terhampar di depan mata.
 
Kawasan Hotspot
Beberapa menit berkendara naik taksi dari Ciudad Amurallada, saya tiba di bagian lain Cartagena yang sepenuhnya berbeda. Bocagrande, yang berarti ‘mulut besar’, adalah bagian kota yang lebih modern dan metropolitan di mana pantai bertemu langsung dengan gedung-gedung tinggi yang didominasi warna putih dan abu-abu. Suasananya serasa di Miami.
            Di sepanjang pantai, payung dan tenda yang disewakan dipasang berjajar. Suasana pantai ini tidak terlalu ramai seperti Ancol, namun airnya juga tidak sebiru yang saya bayangkan, meskipun lautnya adalah Laut Karibia. Ketika perut mulai bergemuruh lapar, saya ingin segera mencari makan siang. Berhubung hari itu lumayan panas, saya dan teman-teman mencari ide, kira-kira di mana, ya, makan siang sambil memandang laut, tapi yang tempatnya dingin? Ternyata, jawabannya adalah di mal!
            Di deretan gedung-gedung tinggi yang kebanyakan adalah mal, apartemen, dan hotel, kami memilih Plaza Bocagrande yang memiliki foodcourt ber-AC dan balkon yang menghadap laut. Pilihan makanannya banyak dan aman. Maklum, sebelum pergi, saya diwanti-wanti supaya berhati-hati saat jajan di Cartagena dan menghindari seafood pinggir jalan dan air minum yang tidak jelas sumbernya. Meskipun saya pikir perut saya kebal layaknya orang Jakarta, rasanya tidak ada salahnya juga memilih-milih makanan dan tempatnya.


            Yang mengherankan, meski Cartagena terletak di pinggir laut, selama di sana saya tidak menemukan seafood yang melimpah ruah seperti di Indonesia. Ada yang mengatakan, ini karena Kolombia tidak memiliki banyak nelayan, ada juga yang mengatakan, karena air lautnya tercemar. Alhasil, di kedai-kedai makan pinggir jalan, saya lebih sering menemui mojarra frita, ikan air tawar yang rasanya mirip gurami goreng, selain daging ayam dan sapi. Ceviche atau shrimp cocktail yang dijual di pinggir jalan  juga memakai udang impor.



            Usai makan siang epic berlatar Laut Karibia, menjelang sore saya pergi ke Getsemaní, barrio atau neighborhood yang berada di seberang Ciudad Amurallada. Katanya, ini adalah daerah hip atau hotspot-nya Cartagena. Karena hostel-hostel dan kafe-kafe yang ada di Getsemaní tidak kalah trendi, namun lebih murah dibandingkan di Ciudad Amurallada, banyak backpackers yang memilih untuk menginap di sana saat di Cartagena.


            Menyusuri gang-gang di Getsemaní, saya merasa seperti memasuki sebuah desa seni. Beberapa rumah tampak mengilap dengan dinding warna-warni polos, tapi kafe dan galeri banyak yang menghias tempatnya lebih meriah dengan aneka gambar dan ilustrasi. Beberapa dinding yang sudah usang justru menjadi kanvas bagi banyak seniman untuk membuat grafiti raksasa dengan warna-warna yang spektakuler. Karakter dan pesan yang digambarkan begitu meriah, khas Amerika Latin.  
Saya pun duduk-duduk sambil makan empanada isi ayam keju dengan sebotol aguila dingin di tempat nongkrong paling ramai, yaitu Plaza de la Santisima Trinidad. Sulit membayangkan bahwa hanya 5 tahun lalu, Getsemaní masih kumuh dengan bangunan-bangunannya yang kebanyakan tidak terawat atau bahkan runtuh. Cartagena sendiri 10 tahun yang lalu sama sekali bukan destinasi wisata yang ideal karena masih banyak kejahatan narkoba dan prostitusi. Karena reputasi Kolombia yang buruk, dulu turis dan traveler yang mengincar Amerika Selatan kebanyakan memilih Meksiko atau Argentina.
Namun, saya membuktikan sendiri bahwa Cartagena, sama halnya dengan negara Kolombia, kini sudah keluar dari bayang-bayang kartel narkoba dan organisasi kejahatan yang begitu melekat selama berpuluh-puluh tahun sebelumnya. Jadi, saya tidak heran kalau sesekali saya melihat sticker atau kaus bertuliskan: ‘Orgullosamente Getsemanisense’, yang artinya ‘Bangga menjadi orang Getsemaní’.


          
Di Luar Cartagena
Bila ada waktu lebih, bisa mengunjungi beberapa tempat yang hanya selemparan batu dari Cartagena. Tur dan travel ke tempat-tempat ini bisa dipesan dari kebanyakan tempat penginapan.

  • Volcan del Totumo, berenang dalam volcano lumpur dingin sedalam 15 meter adalah pengalaman yang cukup ajaib. Jangan khawatir, akan ada orang yang membantu mengambilkan foto dan membersihkan kita dari lumpur, dengan tip kecil.
  • Playa Blanca, Barú, adalah pantai berpasir putih dengan laut hijau toska yang menjadi tujuan getaway orang-orang Cartagena. Anda bisa mengikuti tur sehari atau menginap 1-2 malam di pondok-pondok pantai yang ada. Listrik menyala pukul 18.00-05.00, dan air bersih terbatas.
  • Islas de Rosario, adalah gugusan pulau dengan beberapa atraksi yang bisa dikunjungi dengan biaya tambahan di luar tur dan juga beberapa spot untuk snorkeling. Anda bisa mengamati dari jauh  rumah penulis Kolombia ternama, Gabriel Garcia Marquez, dan reruntuhan kompleks rumah mewah milik kepala kartel narkoba, Pablo Escobar.




TIP
  1. Kolombia bisa dicapai melalui penerbangan rute Amerika Serikat atau Eropa, transit di Bogotá, dilanjutkan ke Cartagena dengan maskapai domestik seperti Avianca atau LAN.
  2. Semua taksi di daerah costa (Cartagena, Barranquilla, Santa Marta) tidak memakai meteran. Jadi, pastikan dulu tarifnya sebelum naik.
  3. Banyak hotel mewah tersebar di Cartagena, namun untuk mendapatkan spirit Cartagena yang sesungguhnya, coba menginap di Hotel El Viajero di Ciudad Amurallada atau Media Luna di Getsemaní.
  4. Hari Rabu adalah hari hostel party di mana semua hostel menggelar pesta untuk tamunya. Saat yang tepat untuk mingle dengan travelers dari seluruh dunia.
  5. Naik bus Chiva yang meriah untuk mendapat pengalaman khas Amerika Latin. Pilih tur siang untuk melihat-lihat kota, atau tur malam untuk fiesta.
  6. Bila ditawarkan regalo atau hadiah dari penjual aksesori atau seafood di jalan atau di pantai, sebaiknya tolak dengan halus karena biasanya Anda akan diminta membayar untuk ‘hadiah’ yang kedua.
  7. Cicipi minuman alkohol kebanggaan Kolombia, aguardiente, yang jernih seperti vodka.
  8. Koleksi tas dan sepatu kulit buatan Kolombia di butik-butik Vélez sungguh menggoda untuk dibawa pulang.
  9. Sistem sanitasi di Cartagena umumnya sudah sangat tua, jadi jangan membuang apa pun ke dalam toilet kalau tidak mau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

 
(FOTO: Primarita Smita)


 



 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?