Travel
Wonosobo, Negeri Para Dewa

7 Jul 2016
























Satu kesempatan paling sempurna bisa menjejak Dieng, dataran tinggi nan memesona berjuluk Negeri di Atas Awan. Terletak di Provinsi Jawa Tengah, Dieng menawarkan alam pegunungan nan cantik, lengkap dengan telaga-telaga, mata air, dan kawah-kawah. Mengunjungi Curug Sikarim dan Telaga Menjer, merasakan serunya tubing di Saluran Wangan Aji, dan menikmati mi ongklok, membuat  saya, Katerina, hanyut dalam keindahan Dieng yang tersembunyi di balik perbukitan.



Gemercik Air Menenangkan

Dieng terletak di Wonosobo, dengan jarak tempuh sekitar 3 jam perjalanan menggunakan bus dari Semarang. Mendekati Kota Wonosobo, mata saya dimanjakan oleh pemandangan jajaran gunung-gunung, ladang, dan kebun sayur  yang memberikan warna hijau pada lereng-lereng pegunungan. Sangat asri dan menyegarkan mata.

Waktu menunjukkan pukul 8 pagi ketika saya tiba di Terminal Mendolo, Wonosobo. Suasana terminal yang sepi dan tenang itu tampak bersih, rapi, dan sangat teratur. Rasanya, saya jarang menemukan terminal seperti ini di kota lainnya di Indonesia.  Saya pun bergegas mendekati minibus berwarna merah dan kuning, yang telah berisi teman-teman satu rombongan. Inilah bus yang akan membawa saya menjelajah Wonosobo.

Tujuan pertama kami adalah Curug Sikarim yang berada di Desa Mandi, sekitar 18 kilometer dari pusat Kota Wonosobo. Bus mulai bergerak perlahan ke utara menuju wilayah Kecamatan Garung, melalui Jalan Raya Dieng. Dari Kecamatan Garung, bus mengambil jalan arah barat dengan medan jalan yang didominasi oleh tanjakan berkelok. Di sisi kanan dan kiri terhampar ladang dan perkebunan milik warga. Sembari menikmati suhu udara yang sejuk, mata pun disuguhi suasana alam yang benar-benar alami. Dari kaca jendela bus saya dapat menyaksikan aktivitas petani sayur di kebun mereka.
Tapi, tak dipungkiri, jalan berbatu, menanjak, dan berkelok sepanjang perjalanan menuju Curug Sikarim sempat membuat saya tegang di perjalanan. Ngeri juga jika melihat tebing di sisi jalan yang curam dan lembah nan dalam. Syukurlah akhirnya kami tiba di pemberhentian bus di area perkebunan ginseng. Saya sangat antusias, inilah  pertama kalinya saya melihat tanaman ginseng tumbuh di alam terbuka. Daunnya bulat lebar, berwarna hijau mengilat dengan permukaan penuh urat (urat daun).

Dari tempat pemberhentian bus, saya sudah bisa melihat penampakan air berwarna keperakan yang mengalir di permukaan tebing. Untuk benar-benar sampai di ujung air terjun, saya berjalan kaki tak jauh, hanya sekitar 50 meter saja melewati hutan kecil yang ditumbuhi pepohonan dan ilalang. Tak ada karcis masuk ke kawasan wisata ini.
Tak salah jika air terjun ini dijuluki mutiara yang tersembunyi dari Dieng. Pemandangan air terjun yang mencapai ketinggian 50 meter ini memang atraktif, dengan latar belakang Bukit Sikunir yang menjulang dan banyak ditumbuhi perdu dan tanaman langka. Air terjun mengalir deras menyusuri dinding batu-batu cadas, turun hingga ke kaki bukit dengan dua jalur aliran air.

Derasnya air menimbulkan efek warna silver, laksana selendang yang panjang. Ada rasa ingin bermain air, tetapi sayangnya tidak ada genangan yang bisa dijadikan tempat berendam. Termasuk kawasan yang belum dijadikan sebagai objek wisata, tak ada fasilitas yang menunjang di lokasi ini. Bahkan,  sekadar tempat untuk duduk-duduk atau toilet. Lokasinya pun jauh dari permukiman penduduk.

Sejauh mata memandang hanya ada perbukitan menjulang dan tumbuhan pakis galar yang tumbuh subur. Menikmati ‘selendang air’ diiringi suara gemercik air terjun, ditambah udara sejuk dan pemandangan yang begitu elok, benar-benar mampu menenteramkan jiwa. Membuat saya betah berlama-lama.



Kabut di AtasTelaga

Bus kembali menyusuri perbukitan, menuju Telaga Menjer yang berjarak sekitar 3 kilometer dari Curug Sikarim. Suasana jalan masih sama, tampak lengang. Kami bahkan tak berpapasan dengan satu kendaraan pun. Fasilitas transportasi di kawasan ini masih sangat minim. Mungkin itu sebabnya, sangat jarang wisatawan yang datang.
Telaga Menjer  terletak di Desa Maron, Kecamatan Garung, Kabupaten Wonosobo. Lokasinya dekat PLTA Garung, di kaki Gunung Pakuwaja. Untuk memasuki kawasan telaga,  tiap pengunjung dikenakan  tiket masuk seharga Rp4.000. Selain area parkir yang cukup luas, di kawasan wisata ini juga sudah tersedia kios-kios dagang, warung makan/minum, kamar mandi, toilet, dan saung-saung di tepi danau.

Suasana Telaga Menjer terasa sunyi. Hari itu, selain dua bus kami, hanya beberapa sepeda motor dan sebuah ELF yang terparkir. Saung-saung di tepi telaga membisu menanti pengunjung. Kedatangan rombongan kamilah yang membuat suasana sekitar telaga jadi ramai. Sebelum menjelajahi telaga, kami berkumpul di salah satu saung untuk menikmati santap siang berupa masakan tradisional khas Wonosobo.

Telaga Menjer berada di ketinggian 1.300 meter di atas permukaan laut, dengan luas 70 hektare dan kedalamannya mencapai 45 meter. Di sekelilingnya terdapat pepohonan pinus yang rimbun. Ada tangga semen yang dapat digunakan untuk turun mencapai tepian telaga. Di tepian telaga itu tertambat perahu-perahu getek yang siap mengantar wisatawan mengelilingi seluruh sudut. Jika tertarik, Anda cukup membayar ongkos Rp10.000 per orang.

Bukit-bukit hijau memagari telaga, puncaknya ditutupi kabut. Menyisakan pemandangan separuh bukit. Ketika angin berembus kencang dan terus berulang, kabut pun bergerak terbawa angin, turun membelah pohon-pohon pinus. Gerakannya indah seperti tarian.
Saya mengajak seorang teman pergi naik bukit, sejenak berpisah dari rombongan yang berebut naik perahu. Saya ingin mengambil gambar telaga dari ketinggian. Beruntung saya naik bukit, sebab di sana saya menjumpai kebun sawi yang subur, pohon labu yang lebat berbuah, kebun teh yang sangat indah, serta pemandangan pedesaan tradisional. Alangkah suburnya tempat ini. Apa pun yang ditanam, pasti tumbuh dan berbuah.
Telaga Menjer termasuk danau vulkanis dan merupakan telaga terbesar di Kabupaten Wonosobo. Itu sebabnya, telaga ini digunakan sebagai PLTA. Telaga elok ini juga digunakan sebagai tempat budi daya ikan nila. Keramba-keramba ikan berjajar di tepian telaga.

Di bagian barat telaga ada pohon besar menyatu dengan batu besar mirip sandaran dan di antara batu ada lubang seperti pintu yang ditutup tiga buah batu. Jika batu dibuka, akan terlihat mata air dalam lekukan yang biasa disebut Goa Song Kamal. Dari tempat inilah muncul kepercayaan masyarakat setempat bahwa apabila mereka melihat permukaan air tinggi, hal itu menjadi pertanda datangnya kemakmuran bagi rakyat desa. Apabila permukaan air surut, pertanda ada hal-hal yang perlu diwaspadai.

Pemandangan di Telaga Menjer masih sangat asri dan cantik. Udaranya pun sejuk. Derasnya suara aliran sungai dari PLTA berpadu dengan suara-suara alam sekitar. Tempat ini cocok bagi wisatawan yang mencari ketenangan dari hiruk pikuk kota. Menyegarkan kembali lahir dan batin yang penat.



Tubing Seru!
Menjelang sore, hujan turun rintik-rintik. Udara menjadi lebih dingin. Namun, semua itu tak menyurutkan keinginan kami untuk tubing (mengarungi sungai dengan menggunakan ban karet) di saluran irigasi Wangan Aji di Desa Kalianget, Kecamatan Wonosobo. Di dalam bus, semangat anggota rombongan masih menyala. Bahkan, kami semua sudah mulai bersiap-siap, jauh sebelum lokasi dicapai.

Desa Kalianget ternyata kering, tak ada hujan yang turun setitik pun. Cuaca sepertinya mendukung kami. Kru lokal yang mengelola kegiatan tubing di saluran Wangan Aji langsung menyambut kami dengan ban-ban besar berwarna hitam. Lalu mereka membagikan perlengkapan keselamatan berupa life jacket dan helm pelindung kepada kami. Kami pun berganti pakaian. Bersiap main air di saluran.

Saluran Wangan Aji bukan serupa sungai lebar berarus deras penuh batu seperti Sungai Cicatih Sukabumi. Saluran Wangan Aji lebih mirip parit. Saya tak percaya awalnya, bagaimana mungkin parit kecil itu bisa dilalui ban-ban yang membawa tubuh kami. Setelah melihatnya, baru saya percaya. Jangan menyepelekan ukurannya, parit itu memang mampu memancing nyali.

Tidak seperti parit biasa, Wangan Aji berukuran agak lebar, airnya jernih dan deras dengan kedalaman air tidak lebih dari 1,5 meter. Dasar air di sini aman sebab batu dan ranting yang membahayakan telah dibersihkan. Merasakan hanyut terbawa arus air sejauh 100 meter membuat saya bersenang-senang karena bisa mendapatkan pengalaman aktivitas luar ruang yang mampu memacu dopamin. Ada juga beberapa spot yang ketika dilewati membuat badan seperti diputar kencang, bahkan jika tak mampu menjaga keseimbangan, bisa jatuh dan masuk air. Seru!



Mencicipi Mie Ongklok
Hari mulai berganti malam  ketika rombongan kami tiba kembali di pusat Kota Wonosobo. Perut pun mulai keroncongan, minta  segera diisi dengan makanan khas Wonosobo. Mi Ongklok Pak Muhadi menjadi tujuan kami untuk wisata kuliner malam itu. Bisa dibilang, inilah trademark kuliner Wonosobo yang sudah terkena dan dikejar wisatawan yang berkunjung ke sini.

Di tengah remangnya malam, bangunan bertingkat dua di Jalan A.Yani, Wonosobo, itu di tembok depannya terpasang papan nama: Kios Mie Ongklok Khas Wonosobo Pak Muhadi. Konon, nama Muhadi sudah melekat sebagai spesialis mi ongklok. Testimoni para traveler yang pernah mampir ke kedai ini kerap berpesan bahwa tidak sah pergi ke Wonosobo tanpa mencicipi mi ongklok Pak Muhadi.

Ternyata, sajian mi-nya memang sangat khas. Mi ongklok menggunakan mi kuning seperti layaknya olahan mi  lain. Yang membedakan adalah campurannya. Jika olahan mi  lain biasa menggunakan taoge atau sawi sebagai campuran, mi  ongklok mencampur kubis dan kucai sebagai sayurannya. Mi  dan potongan sayuran ditata sedemikian rupa  hingga membentuk kerucut, lalu diguyur kuah kental. Rasa kuah inilah yang membuat mi  ongklok terasa istimewa, lezat memanjakan lidah.

Katanya, kuah mi  yang lezat ini merupakan campuran saripati singkong, gula merah, dan udang kering, yang ditambah bumbu kacang, taburan lada, dan bawang goreng. Cara membuat mi  ongklok juga unik. Mi  beserta sayuran dimasukkan ke dalam wadah berupa saringan bambu, lalu dicelup-celupkan ke dalam air mendidih.

Menikmati mi  ongklok ternyata ada seninya. Jika diaduk justru akan berkurang nikmat kuahnya. Mi cukup dinikmati sesuap demi sesuap tanpa merusak bentuknya. Menikmati mi  ongklok akan lebih lengkap jika ditemani satai sapi. Konon, tekstur dan rasa daging sapi dinilai paling cocok di lidah saat dikunyah bersamaan dengan mi. Bagi yang menyukai rasa pedas, bisa menambahkan sambal khusus mi ongklok. Sambalnya berupa cabai rawit yang dihaluskan, bukan saus cabai botolan.

Sebetulnya, kedai mi ongklok bertebaran di Wonosobo. Namun, hanya ada dua nama yang bisa dibilang terjamin cita rasanya, yakni Mie Ongklok Pak Muhadi yang terletak di Jalan A. Yani, dan Mie Ongklok Longkrang di Jalan Pasukan Ronggolawe. Pak Muhadi  ternyata tak lain dan tak bukan adalah pencipta resep mi  ongklok. Mencicipi mi  ongklok untuk pertama kali dan langsung di tempat pencipta resepnya, membuat acara kuliner ini jadi terasa istimewa dan sulit dilupakan. (f)


Tip:
  • Tidak ada angkutan umum roda empat, tapi di Desa Mlandi tersedia ojek yang bisa disewa untuk mencapai Telaga Menjer maupun Curug Sikarim. Sangat disarankan untuk menyewa kendaraan, jika ingin mengunjungi objek wisata di kawasan ini.

Katerina
 

 


 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?