Sex & Relationship
Wanita Juga Bisa Lempeng Terhadap Kejutan dari Pasangan, Ini Cerita Mereka

16 Apr 2017


Foto: 123RF

 
Para ilmuwan dari University of Notre Dame, Amerika Serikat (2015), membuktikan bahwa romantisisme lebih memengaruhi identitas seksual pada wanita. Tidak heran jika dalam sebuah hubungan, wanita seolah lebih menuntut perhatian atau ekspresi kasih sayang dari pasangannya. Lucunya, fakta ilmiah ini tidak berlaku untuk semua wanita. Setidaknya, tidak bagi 4 wanita yang ditemui femina ini. Keempatnya mengaku tidak ekspresif saat menerima ungkapan kasih sayang atau kejutan penuh cinta dari pasangan mereka. Ternyata, bukan pria saja yang ‘lempeng.com’!

 
Ratih Marantina (29), Ibu Rumah Tangga, Yogyakarta
Kurang Ekspresif
Suami saya, Edy (33), suka memberikan kejutan-kejutan. Suatu kali, di sebuah toko elektronik, tidak ada angin tidak ada hujan, ia meminta saya memilih mesin cuci sesuai keinginan, dan membelikannya untuk saya! “Biar Bunda lebih mudah melakukan pekerjaan rumah dan lebih semangat,” kata suami.

Respons saya saat itu kaget, tapi lebih pada kaget tidak menyangka bahwa suami saya yang sejak pacaran pendiam dan cenderung kaku, bisa juga romantis seperti ini. Apalagi,  saat itu   ia pakai acara mendekap saya. Rupanya, sejak menikah ia berubah jadi sosok romantis. Sementara, suami merasa bahwa saya berubah menjadi sosok yang ‘lempeng’! Ha haha….

Menurut suami, respons saya saat menerima kejutan-kejutannya terbilang biasa saja, kurang emosional. Paling hanya mengucapkan terima kasih dan tersenyum. Gara-gara ini, ia suka kesal pada saya. Nah, sebagai ‘balas dendam’ terhadap kekesalannya, biasanya suami mulai membuat saya cemburu dengan menceritakan kisah asmaranya bersama para mantan pacar. Ia tidak tahu bahwa triknya yang cukup menyebalkan ini tidak mempan untuk saya.

Setelah dipikir-pikir, kasihan juga, Ia sudah berusaha sedemikian rupa membuat saya senang, tapi tidak mendapat respons yang setimpal. Tiap kali menyadari ini, saya langsung akan minta maaf dan mencoba merayunya dengan meluluskan apa pun yang diinginkannya saat itu.

Untuk membuatnya senang, saya juga akan mengenakan baju atau perhiasan pemberian suami dan memujinya. Padahal, jujur saja, barang-barang itu selama ini lebih sering tersimpan rapi di lemari karena saya memang kurang suka dengan modelnya! 


Tia Tatiana W. (35), Karyawati Swasta, Jakarta
Risi, Ah!
Akhir-akhir ini suami, Baruno (36), sering mengirimkan foto-foto kami berdua yang sudah diedit dan ditambahi kata-kata romantis. Kalau boleh jujur, sebenarnya saya selalu merasa risi kalau pasangan sudah mengeluarkan jurus-jurus romantisnya. Pernah, saat merayakan Valentine di sebuah restoran di Kemang, ia memberikan kado kalung. Di depan berpasang-pasang pengunjung restoran, ia mengalungkannya ke leher saya. Malu bukan main rasanya saat itu!

Ia memang tipe pria romantis. Sejak kami pacaran, ia kerap mengirimkan pesan singkat via ponsel berisi puisi-puisi romantis. Tanpa menunggu hari spesial, ia akan membuat kartu sendiri, dan menuliskan betapa jatuh cintanya ia kepada saya. Walau merasa geli membaca kalimatnya yang sangat berbunga-bunga, kartu-kartu itu masih saya simpan!

Suami adalah cinta pertama saya. Semua hal yang ia lakukan benar-benar menjadi pengalaman yang pertama buat saya. Terkadang, saya jadi tidak ngeh dengan usaha romantisnya ini, sehingga momen itu sering terlewat begitu saja. Ini membuat suami jadi ambekan, mengatakan bahwa saya kurang menghargai usahanya untuk membuat saya senang dan merasa diperhatikan.

Gara-gara sikap cuek saya ini juga suami belakangan jadi jarang membuat kejutan-kejutan romantis. Lama-kelamaan saya merasa kehilangan juga. Kalau sudah begini, saya akan mulai bermanja-manja, sehingga suasana kembali mencair dan suami kembali mesra. Saya mulai belajar mengimbangi sisi romantis pasangan. Kali ini, saya tidak mau kalah set.

Februari lalu, saat suami ulang tahun, saya belikan ia hadiah kejutan mobil baru. Saking bahagianya, ia memeluk tubuh saya dengan erat sambil berteriak mengucapkan, “Terima kasiiiih!” Sesekali ia melompat kecil kegirangan sambil tersenyum pada saya. Ia tidak menyangka,  saya yang selama ini ‘lempeng’ juga bisa memberikan kejutan spesial.
 

Vikastri Damayanti (35), Guru, Jakarta
Respons Menyebalkan
Didit (38), kekasih saya, pernah memberikan kejutan dengan mengajak saya ke rumahnya di hari ulang tahun saya. Padahal, saya selalu melewati hari jadi seperti hari yang lain, tidak pernah ada yang spesial. Ternyata, ia sudah menyiapkan makanan lengkap, mulai dari hidangan pembuka, hidangan utama, sampai hidangan pencuci mulut. Bahkan, semua makanan itu ia yang memasaknya. Dia juga menaruh bunga krisan, yang merupakan bunga favorit saya, di atas meja makan.
Lucunya, karena saya tidak biasa menerima suasana romantis seperti itu, saya pun hanya berujar, “Wiihh, hebat. Pesan di mana ini? Memangnya agen pembersih online bisa sekalian bikin kayak gini, ya?”  Ucapan tersebut keluar dari mulut saya karena takjub. Kesannya, sih, memang sedikit sarkastis.

Mendengar respons saya yang menyebalkan,  ia pun menjelaskan bahwa semua itu ia siapkan sebagai kejutan ulang tahun. Lagi-lagi saya hanya menanggapinya dengan, “Ooh….” Dia pun hanya geleng-geleng kepala. Mau bagaimana lagi, karakter saya memang seperti ini. Cenderung risi  kalau menjadi pusat perhatian.

Karena karakter saya yang tanpa ekspresi inilah, kekasih jadi sering ngomel ngalor-ngidul dan mengatakan   saya ini adalah wanita yang tidak punya perasaan. Kaget, sih. Tapi, saya hanya tertawa.

Demi hubungan kami yang lebih baik, saya tidak tinggal diam. Saya pun belajar memperbaiki diri agar menjadi lebih peka dari sebelumnya. Sejauh ini hal paling romantis (menurut saya) yang pernah saya lakukan untuk pasangan adalah membelikannya jaket yang fashionable untuk di kantor, ketika ia mengeluh soal  ruangan di kantornya yang sangat dingin.
 

Oriana (26), Pegawai Swasta, Bandung
Tidak Peka
Tepat di hari ulang tahun saya, Irvan (27), kekasih saya, tidak seperti biasanya, menjemput saya dengan membawa mobil. Padahal, ia tipe pria yang tidak suka mengendarai mobil, karena alasan macet. Anehnya lagi, sepanjang perjalanan, mata saya ditutup menggunakan kain. Awalnya saya menolak, tapi, toh, ia bersikeras karena ingin memberikan saya kejutan. Sepanjang perjalanan saya hanya ngedumel soal kelakuannya yang saya anggap berlebihan.

Saat kain penutup dibuka, ternyata saya sudah berada di dalam kamar saya sendiri. Dengan lampu yang dimatikan hingga terkesan remang-remang, lantai kamar saya dihiasi lilin kecil yang menyala dan membentuk ucapan “Happy birthday, my love” lengkap dengan taburan kelopak mawar merah. Di tempat tidur sudah ada beberapa hadiah boneka, jam tangan, bingkai foto kami berdua, dan buket bunga mawar putih. Ia juga membuatkan saya kue ulang tahun. Setelah meniup lilin, ia memainkan lagu favorit saya dengan gitar. Usai semua adegan romantis itu, saya hanya berkata, “Terima kasih.”

Walaupun apa yang ia lakukan terbilang romantis, sejujurnya saat itu saya justru merasa aneh jika saya harus menunjukkan ekspresi yang berlebih terhadap suatu kondisi. Mungkin karena saya tipe orang yang sulit untuk mengungkapkan emosi. Rasanya seperti bukan bagian dari diri sendiri.

Tanggapan saya yang datar-datar saja ternyata membuat kekasih kesal. Ia merasa sudah mempersiapkan segala sesuatunya dengan matang, tapi saya cuek. Mungkin ia menginginkan saya terkejut dan langsung memeluknya, ya… hahaha…. Setelah kejutan romantis itu dan kejutan lainnya yang ternyata tidak juga membuat saya ikutan romantis, ia akhirnya tidak pernah lagi melakukan hal-hal yang romantis.
Melihat pasangan seperti itu, entah mengapa saya juga tak merasa bersalah. Biasa saja, seperti tidak terjadi apa-apa. Menurut saja, hal-hal romantis seperti itu bukanlah prioritas dalam suatu hubungan. Hubungan saya dan pasangan juga baik-baik saja. Ia sudah memahami dan menerima karakter saya yang serba datar ini.(f)


Topic

#romantiswanita

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?