
Pernikahan selayaknya membuat dua orang mencapai tujuan bersama yang lebih hakiki: mewujudkan mimpi bersama, serta membuat keduanya menjadi manusia yang lebih baik dan bahagia. Pasangan-pasangan ini tak hanya berpartner membangun rumah tangga dan membesarkan buah hati. Mereka juga saling menularkan semangat untuk melakukan aktivitas positif hingga mewujudkan mimpi yang barangkali tak akan jadi nyata jika mereka tak bersama. Simak penuturan Gina S Noer, penulis skenario film Rudy Habibie tentang kekompakannya dengan suami, Salman Aristo.
Gina S. Noer
Penulis Skenario, co-founder Wahana Penulis
Waktu seakan berhenti tiap kali kami berdua bicara tentang film. Rangkaian adegan dalam layar itu jugalah yang pertama kali menghubungkan saya dengan suami, Salman Aristo. Saat itu Aris, panggilannya, adalah wartawan film sebuah majalah, sementara saya masih mengenakan seragam putih abu-abu. Ia meliput film pendek yang sedang saya buat bersama beberapa sahabat.
Awalnya, hubungan kami tak lebih dari sekadar murid dan mentor. Namun, kesamaan passion dan visi tentang film membuat kami makin dekat. Tiga tahun kemudian, kami menikah. Akar dan pijakan kami, film, membuat saya dan Aris bertumbuh bersama, bukan sekadar sebagai suami-istri, tapi juga partner untuk membentangkan mimpi.
Pada tahun 2008, saya dan suami bersama-sama menulis skenario film Ayat-Ayat Cinta. Setahun kemudian, kami kembali menulis skenario bersama, berjudul Hari untuk Amanda. Selain itu, kami masing-masing juga mengerjakan skenario sendiri ataupun berpartner dengan orang lain. Bukan hal mudah, karena kami juga harus membagi waktu mendampingi buah hati kami, Biru Langit Fatiha (7) dan Akar Randu Furqan (5). Syukurlah kini mereka mulai mengerti jika orang tua mereka sedang bekerja.
Tantangan sekaligus keseruan dalam proses penulisan naskah bersama adalah kami sama-sama keras kepala. Apalagi, karena suami-istri, kami merasa lebih bebas ngotot. Positifnya, proses pengembangan cerita dapat kami lakukan sepanjang hari, bahkan hingga menjelang tidur! Bagaimanapun, Aris adalah partner yang menyenangkan untuk brainstorming.
Selain itu, tak hanya berkarya dan berkembang sendiri, makin mendalami dunia film, kami makin menyadari masih terbatasnya kualitas penceritaan dalam skenario film-film Indonesia. Saya dan Aris sudah sejak lama bermimpi ingin tumbuh bersama para penulis dan calon penulis skenario Indonesia. Mimpi itu kemudian kami wujudkan dalam sebuah ‘kendaraan’ bernama Wahana Penulis (WP). Tak hanya jadi tempat belajar bersama, WP juga menjadi sindikasi penulis skenario dan penyusun cerita untuk TV dan film layar lebar.
Hal terberat yang kami rasakan bersama adalah mencari klien yang memahami dan bersedia menunggu proses pengembangan cerita. Keuletan kami akhirnya berbuah manis, karena film televisi (FTV) karya penulis WP telah ditayangkan di banyak stasiun TV.
Apa pun kendala yang kami hadapi, saya selalu ingat hal yang selalu ditekankan Aris: “Jangan pernah kerja cuma karena uangnya. Reputasi dibangun karena kerja keras dan keseriusan kita. Jangan hancur cuma karena mau uangnya saja.” (f)


