
Foto: Fotosearch
Bingung meletakkan ‘garis’ antara Anda dengan mantan suami? Psikolog klinis dan dosen Universitas Bina Nusantara, Pingkan C.B. Rumondor, S.Psi, M.Psi., mengungkapkan bahwa perlu tidaknya berteman baik dengan mantan suami/istri akan sangat tergantung pada alasan, proses, dan jangka waktu perceraian.
Menurutnya, pasangan yang baru bercerai, atau bercerai karena alasan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) tidak disarankan membina hubungan baik dengan mantan suami. Dalam situasi seperti perceraian karena KDRT, sangat disarankan untuk menjaga jarak dari mantan suami, bahkan tidak melakukan kontak sama sekali, jika memungkinkan.
Kalaupun terpaksa kontak dengan mantan suami, Pingkan menyarankan untuk membuat jurnal yang merinci kapan Anda mengontak mantan suami dan untuk tujuan apa. Jurnal ini akan membantu mengevaluasi alasan masih mengontak mantan suami dan mengurangi kontak yang tidak perlu. Bisa dibilang, satu-satunya alasan positif yang membuat Anda perlu berhubungan dengan mantan suami adalah anak. Hal ini tidak mudah, tapi dengan adanya co-parenting, maka anak merasa lebih aman. Co-parenting ini misalnya meliputi jadwal bertemu dengan anak, pemilihan sekolah untuk anak, jadwal menjemput anak. “Prinsipnya, anak perlu mendapatkan kesempatan untuk membina hubungan dengan orang tuanya, meskipun sudah berpisah,” lanjutnya.
Melalui co-parenting, anak akan merasa dicintai oleh kedua orang tuanya dan juga mendapatkan pola asuh yang konsisten. Tetapi, sekali lagi, Pingkan tidak menyarankan hubungan yang terlalu intens dengan mantan suami atau istri, jika pernikahan mereka tidak dikaruniai anak.
“Hubungan intens dengan mantan suami di awal perceraian selain bisa mempersulit perpisahan emosi, juga dapat mengganggu proses seseorang membentuk identitas dirinya yang baru dan siap menjalani hidup terpisah,” jelas in-house psychologist setipe.com ini.
Seseorang yang bercerai perlu waktu untuk benar-benar bisa berpisah dari mantan suami. Bukan hanya perpisahan fisik, tapi juga emosi. Selain itu, setelah perceraian, seseorang sangat disarankan untuk berkonsentrasi pada proses pemulihan diri. (f)



