Health & Diet
Sehat Dengan Trekking

31 Jul 2012


            Siapa bilang mau sehat kudu ribet? Banyak, kok, cara seru yang bisa kita lakukan untuk mewujudkannya. Salah satunya lewat trekking, alias melakukan perjalanan panjang ke alam terbuka yang kadang sulit dicapai dengan sarana transportasi umum.
            Tetapi, trekking agak berbeda dari hiking atau pendakian (climbing) yang biasanya dilakukan di lereng pegunungan atau medan 'berat'. Trekking jauh lebih santai dengan lintasan (trek) yang cenderung datar sehingga rasanya seperti berjalan kaki sambil berpetualang untuk menjelajahi alam. Yuk, kenal lebih jauh!

Aktivitas suka-suka

       Trekking bisa dikategorikan sebagai olahraga petualangan yang semakin berkembang belakangan ini. Soalnya, trekking bisa dilakukan oleh siapa saja dengan tujuan kesehatan, kebugaran, plus memperoleh kegembiraan.
            Meskipun nggak kejar target alias suka-suka, kita tetap kudu berhati-hati saat melakukan trekking. Terutama dari segi lintasan dan kondisi cuaca. Kalau nekat masuk hutan saat musim hujan, ya, kudu siap menanggung akibatnya, tuh!



Siap-siap...

            Modal awal yang wajib dimiliki yaitu kita memang doyan jalan-jalan plus punya jiwa petualang. Tahu sendiri, kan, perjalanannya justru menjauhi keramaian kota, makanya jangan berharap menemukan toilet bersih untuk pipis, he he. Selain itu, kita juga harus siap capek karena perjalanannya kadang memakan waktu hingga berjam-jam. Mau nggak mau tubuh kita dituntut harus fit, dong....
            Jangan lupa menyiapkan perlengkapan yang sesuai. Mulai dari pakaian hingga sepatu yang kita pakai selama trekking. Pilih pakaian yang sesuai supaya pergerakannya enak dan nggak kepanasan. Sepatu termasuk paling penting karena yang bergerak lumayan lama, kan, tungkai dan kaki kita.

Dag, dig, dug!
            Sebagai aktivitas fisik, trekking cukup bermanfaat untuk kebugaran tubuh kita, terutama bagi daya kerja jantung. Jika kita jalan selama 30 menit dengan kecepatan sedang, kalau dihitung denyut jantungnya bisa masuk ke denyut jantung latihan, ya, sama seperti kita berolahraga aerobik.
            Kalau mau ada dampaknya, jalannya harus agak cepat—hampir kayak jogging tapi lebih ringan. Lalu dipertahankan setidaknya 15 menit dan waktunya terus ditingkatkan dengan kecepatan yang kurang lebih sama. CC


 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?Â