Niatnya, sih, ingin olahraga teratur demi membentuk tubuh sekeren Rihanna. Awalnya, latihan berjalan seminggu sekali. Makin lama, olahraganya jadi dua minggu sekali, sebulan sekali, bahkan meninggalkan olahraga berbulan-bulan. Alasannya: malas!
Sebenarnya, nih, malas bukan alasan utama nggak olahraga. Rasa lelah dan lemas setelah berolahraga biasanya yang bikin Anda enggan bergerak. Padahal, kalau Anda sampai nggak nyaman dan superlemas setelah olahraga, berarti ada yang salah dalam latihannya. Nih, contoh 'dosa' olahraga yang biasanya Anda lakukan.
Nggak pemanasan
Sering, kan, Anda mengabaikan pemanasan—saking nggak sabarnya ingin cepat-cepat olahraga. Padahal, tanpa pemanasan, otot mudah cedera (keseleo) dan kram, sendi terasa kaku, serta tubuh jadi pegal banget. Akibatnya usai latihan inti, tubuh malah ngilu semua.
Makan kenyang sebelum olahraga
Maksudnya, sih, biar usai olahraga nggak nggak usah makan lagi. Berolahraga dalam keadaan perut kenyang malah membuat otot perut berkontraksi karena tubuh berusaha untuk mencerna dan mempertahankan energi untuk berlatih. Jangan heran jika perut melilit sesudahnya. Harusnya, makan 1-2 jam sebelumnya untuk menstabilkan gula darah.
Salah sepatu
Merasa sepatu kets Anda multifungsi, Anda menggunakannya untuk seluruh jenis olahraga. Padahal, masing-masing olahraga membutuhkan jenis sepatu yang sesuai. Jika nggak, sendi kaki mudah cedera. Misalnya, untuk lari, tuh, membutuhkan sepatu ringan dengan sol empuk yang nggak tebal, sebaliknya sepatu bersol tebal cocok untuk main basket karena banyak melakukan gerakan melompat.
Malas pakai otot
Jangan harap asal bergerak bisa membuat tubuh kita mengeluarkan kalori. Jika kita hanya bergerak asal-asalan, nggak akan menambah massa otot, berarti nggak ada kalori yang terbakar. Lakukan seluruh gerakan olahraga dengan penuh power agar otot terlatih dan kalori pun terbakar. Asal gerak hanya mengurangi cairan dan panas tubuh, bukan kalorinya. (SM/FOTOSEARCH)


