Kita yang biasanya dikenal sebagai cewek tegar mendadak jadi sensitif. Komentar teman soal berat badan tiba-tiba bikin kita tersinggung berat. Diajak bercanda oleh pacar, buntutnya malah berantem dan nangis sambil mengurung diri di kamar. Pokoknya selera humor kita seakan menguap, deh....
Situasi seperti ini nggak jarang mengisi hari-hari kita menjelang menstruasi. Kayaknya semua, tuh, salah banget di mata kita sehingga memancing emosi berlebihan.
Jadinya kita sering mengeluh, sebentar senang beberapa detik kemudian marah-marah, dan begitu terus—normal nggak, sih?
Umumnya, cewek selalu mengalami sekumpulan gejala yang menyertai proses terjadinya menstruasi. Istilah kedokterannya, sih, premenstrual syndrome, atau biasa kita singkat jadi PMS.
Menurut dr. Sofani Munzila, SpOG, meski bukan penyakit, gejalanya kebanyakan nggak enak. Biasanya berupa keluhan dari segi psikologis maupun fisik yang hanya muncul sekitar satu minggu sebelum menstruasi.
“Secara fisik keluhannya seperti orang sakit. Paling sering, nih, sakit kepala, demam, dan nyeri perut atau payudara. Sementara dari psikis terjadi ketidakstabilan emosi, seperti marah-marah tanpa sebab, depresi, hiper sensitif, ceroboh, napsu makan meningkat, atau nggak mau makan,” terang dr. Sofani.
Setelah diselidiki, PMS terjadi karena faktor hormonal, yaitu ketidakseimbangan antara hormon estrogen dan progesteron berdasarkan siklus haid. Ternyata tingginya hormon estrogen inilah yang menimbulkan keluhan-keluhan tadi.
“Rata-rata kita mengalami PMS saat 5-7 hari sebelum menstruasi, kemudian hilang begitu saja. Ini sering terjadi pada usia reproduksi, sekitar 17-30 tahun. Setelah berusia di atas 35 tahun gejalanya mulai berkurang—mungkin karena faktor kematangan hormonal,” kata dr. Sofani. CC
Situasi seperti ini nggak jarang mengisi hari-hari kita menjelang menstruasi. Kayaknya semua, tuh, salah banget di mata kita sehingga memancing emosi berlebihan.
Jadinya kita sering mengeluh, sebentar senang beberapa detik kemudian marah-marah, dan begitu terus—normal nggak, sih?
Umumnya, cewek selalu mengalami sekumpulan gejala yang menyertai proses terjadinya menstruasi. Istilah kedokterannya, sih, premenstrual syndrome, atau biasa kita singkat jadi PMS.
Menurut dr. Sofani Munzila, SpOG, meski bukan penyakit, gejalanya kebanyakan nggak enak. Biasanya berupa keluhan dari segi psikologis maupun fisik yang hanya muncul sekitar satu minggu sebelum menstruasi.
“Secara fisik keluhannya seperti orang sakit. Paling sering, nih, sakit kepala, demam, dan nyeri perut atau payudara. Sementara dari psikis terjadi ketidakstabilan emosi, seperti marah-marah tanpa sebab, depresi, hiper sensitif, ceroboh, napsu makan meningkat, atau nggak mau makan,” terang dr. Sofani.
Setelah diselidiki, PMS terjadi karena faktor hormonal, yaitu ketidakseimbangan antara hormon estrogen dan progesteron berdasarkan siklus haid. Ternyata tingginya hormon estrogen inilah yang menimbulkan keluhan-keluhan tadi.
“Rata-rata kita mengalami PMS saat 5-7 hari sebelum menstruasi, kemudian hilang begitu saja. Ini sering terjadi pada usia reproduksi, sekitar 17-30 tahun. Setelah berusia di atas 35 tahun gejalanya mulai berkurang—mungkin karena faktor kematangan hormonal,” kata dr. Sofani. CC


