Sebagian pendukung Pangku. Foto: Dok. Gambar GerakSetelah tayang perdana (World Premiere) di Busan International Film Festival (BIFF) 2025, film debut penyutradaraan Reza Rahadian dan persembahan pertama rumah produksi Gambar Gerak, Pangku, akan tayang di jaringan bioskop Indonesia mulai 6 November 2025.
Film Pangku menghadirkan kisah tentang perjuangan seorang ibu dengan narasi sederhana, membumi namun dengan pesan universal, sehingga sangat relatable dan mudah dinikmati oleh berbagai kalangan penonton.
Dengan setting tahun 1998 ketika Indonesia (dan dunia) dilanda krisis ekonomi, Sartika (Claresta Taufan), yang tengah hamil besar dan mencari pekerjaan, bertemu pasangan paruh baya Maya (Christine Hakim) dan Jaya (Jose Rizal Manua) yang kemudian menampungnya.
Sartika terpaksa bekerja sebagai pelayan warung kopi yang biasa dikunjungi sopir truk di Pantura, dan mau dipangku untuk mendapat uang ekstra. Kelak ia menemukan kehidupan baru untuk membesarkan anaknya, Bayu (Shakeel Fauzi), dan bertemu dengan cintanya, Hadi (Fedi Nuril) si sopir truk ikan.
Reza Rahadian menampilkan kisah ibu tunggal dengan penuh kasih, berbekal pengalamannya selama 38 tahun sebagai anak ibu tunggal dan 20 tahun karier aktingnya. Reza dengan cermat menggali perspektif seorang ibu agar penonton bisa menyelami perasaan ibu yang menjalani hidup tanpa pilihan.
“Setelah berada di industri film selama lebih dari 20 tahun, saya merasa membutuhkan tantangan dan ruang baru untuk berkembang lagi sebagai seorang seniman, dan menyutradarai adalah hal yang sudah saya impikan sejak lama,” ujar Reza Rahadian, di acara pemutaran perdana film ini di Jakarta beberapa waktu lalu.
Diproduseri Arya Ibrahim dan Gita Fara, dengan produser eksekutif Melyana Tjahjadikarta, Pangku ditulis Reza Rahadian bersama Felix K. Nesi. Film ini dibintangi di antaranya oleh Claresta Taufan, Fedi Nuril, Christine Hakim, Shakeel Fauzi Aisy, Jose Rizal Manua, Devano Danendra, Lukman Sardi, Nazira C. Noer, Happy Salma, dan Nai Djenar Maesa Ayu.
Akting Claresta Taufan dan Christine Hakim yang memikat. Foto: Gambar Gerak“Film Pangku berbicara tentang ibu dan bagi banyak ibu di luar sana, yang hidupnya harus bekerja keras berkali lipat. Film ini untuk semua orang yang berjuang tanpa kemudahan dan pilihan-pilihan. Mau tidak mau hidup harus dijalani, suka dukanya adalah yang kadang kita harus nikmati, kadang juga kita harus syukuri,” ujar Gita Fara.
Penampilan apik dari Claresta Taufan dan Christine Hakim serta chemistry kuat di antara mereka membuahkan hasil manis. Keduanya mendapatkan nominasi untuk Pemeran Utama Perempuan Terbaik dan Pemeran Pendukung Perempuan Terbaik untuk Piala Citra FFI (Festival Film Indonesia) 2025.
“Bagiku, film Pangku adalah film yang jujur tentang kehidupan di Indonesia, spesifiknya di kawasan Pantura. Aku yang memerankan Sartika merasa film ini bisa memotret secara real apa adanya seperti itu kehidupan yang dilalui, tanpa disedih-sedihkan atau dibagus-baguskan,” kata Claresta Taufan, yang mengaku adegan menarik gerobak, yang diambil dengan one-shot, jadi tantangan tersendiri.
Pangku juga menggunakan lagu Rayuan Perempuan Gila dari Nadin Amizah. Film ini satu-satunya yang mendapatkan izin lisensinya untuk menggunakan lagu tersebut sebagai OST , meski selama ini banyak yang meminati. Lagu ini juga akan memberikan dimensi yang lebih dalam tentang karakter Sartika.
Pangku juga memiliki OST dari lagu legendaris Iwan Fals, Ibu. Spesial untuk Pangku, Iwan Fals merekam ulang lagu Ibu.
Film Pangku telah memenangkan 4 penghargaan di Busan International Film Festival (BIFF) 2025 dalam kompetisi program Vision Asia. Penghargaan itu adalah KB Vision Audience Award, FIPRESCI Award, Bishkek International Film Festival-Central Asia Cinema Award, dan Face of the Future Award.
Di FFI 2025 yang akan diumumkan pada 20 November 2025, Pangku total meraih 7 nominasi Piala Citra: Film Cerita Panjang Terbaik, Pemeran Utama Perempuan Terbaik (Claresta Taufan), Pemeran Utama Pendukung Perempuan Terbaik (Christine Hakim), Penulis Skenario Asli Terbaik (Reza Rahadian, Felix K. Nesi), Penata Artistik Terbaik (Eros Eflin), Penyunting Gambar Terbaik (Ahmad Fesdi Anggoro), dan Penata Musik Terbaik (Ricky Lionardi). (f)
Baca juga:
Rossa Rilis Mini Album Asmara Dansa dengan Sentuhan Magis Dipha Barus
Abadi Nan Jaya: Wabah Zombi Lokal Gara-gara Ramuan Misterius
Murder Report: Wawancara Menegangkan dengan Pembunuh Berantai
Topic
#feminaindonesia, #reviews, #RezaRahadian


