
Pengantar:
Sudah 2 minggu lebih aktivis lingkungan yang sangat gigih Emmy Hafild berpulang. Indonesia teramat kehilangan dirinya. Mengenang Emmy, sahabat aktivisnya Sitta Aripurnami menuliskan catatan yang menyentuh.
"Sita, kamu dan Agung kena Covid? Minta alamatmu, aku kirim Lian Hua sekarang," begitu kata Emmy dalam pesan WA kepada saya pada 10 September 2020 lalu. Ketika itu, saya dan Agung terpapar COVID-19. Emmy adalah orang pertama yang mengirimkan supplemen, yang dia percaya dapat menyembuhkan COVID-19.
Saya mengenal Emmy Hafild cukup lama, lebih dari tiga dasawarsa. Kami berkenalan melalui forum diskusi mengenai isu lingkungan di tahun 80an. Siapapun yang mengenal Emmy, pasti setuju bahwa dia orangnya kekeuh dan ngotot bila berdiskusi apalagi berdebat. Tidak jarang kamipun mengakhiri diskusi dan debat dengan saling tidak setuju.
Nurul Almy Hafild, nama aslinya ini adalah sosok yang luar biasa. Dia keras hati, sangat cerdas namun sekaligus mudah meleleh bila emosinya tersentuh. Emmy adalah seorang fighter sejati. Baginya, orang lainpun juga harus seperti dia, selalu mau fight. Emmy menangis menelpon saya ketika mendengar suami saya, Agung wafat, yang menurutnya mendiang suami saya tidak fight melawan COVID-19 yang menyerang tubuhnya. Itulah Emmy.
Baris panjang dan kerja keras Emmy tercatat bahwa dirinya telah giat bekerja untuk isu lingkungan hidup serta isu-isu kemanusiaan lainnya sejak era 80an. Emmy, antara lain pernah menjadi koordinator program lapangan Yayasan Indonesia Hijau (1982-1984), Koordinator Sekretariat kerjasama Kelestarian Hutan Indonesia/Skephi (1984-1988), Koordinator Program untuk Isu-Isu Khusus WALHI dan Friends of the Earth Indonesia (1982-1995), Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia/WALHI ( 1996-1999), Direktur Eksekutif Greenpeace Asia Tenggara (2015).
Capaian Emmy yang paling spektakuler adalah ketika pada tahun 1999, ia terpilih oleh majalah TIME sebagai penerima hero of the planet award. Penghargaan ini diterimanya sebagai upaya dalam kritiknya pada orde baru terhadap penambangan di Freeport Papua.
Sekalipun sudah lama salng kenal, saya dan Emmy baru benar-benr bekerjasama pada tahun 2000. Kami mengerjakan program Komnas HAM bernama “Indonesia Masa Depan”. Saat itu, Emmy merupakan salah satu anggota Dewan Pengarah program itu. Saya sendiri menjadi manajer program memfasilitasi pemikiran tentang bayangan terbaik dan terburuk mengenai Indonesia 10 tahun mendatang dihitung sejak tahun 2000.
Emmy dengan jaringannya yang luas membantu saya memfasilitasi pertemuan-pertemuan di seluruh Indonesia sembari mencari dana ke berbagai lembaga internasional dan perusahaaan swasta nasional. Saat itu Indonesia yang baru saja meninggalkan era Orde Baru dan masuk ke era Transformasi ditandai dengan pendekatan desentralisasi dan mengumpulkan pemikiran Indonesia yang lebih baik.
Kerjasama kami terus bergulir setelah itu dalam macam-macam format. Misalnya kami bersama-sama menjadi advisor pada Partnershio for Governance Reform in Indonesia. Saya bekerja membuat participatory governance assessment dengan perspektif gender, sedangkan Emmy bekerja pada isu lingkungan serta bagaimana hal itu berkaitan dengan isu korupsi.
Emmy lalu aktif beraktifitas di dunia politik, kami menjadi jarang bersinggungan. Kalaupun bersinggungan dan bertemu, tambah seru perdebatan kami karena bersikukuh dengan pandangan kami. Ada satu situasi dimana Emmy mempunyai pandangan yang berbeda dengan saya dan hal ini membuat kami cukup lama menjadi tidak berjumpa dan bertegur sapa. Hingga akhirnya pada September 2019, kita berjumpa di sebuah acara. Kamipun langsung berpelukan dan hanya membicarakan soal lainnya. Masalah perbedaan pendapat itu sampai akhir hayatnya tidak pernah kami singgung.
Perjumpaan September 2019 itu membuat saya menjadi teringat akan Emmy yang selalu bertanya kepada saya, akan saya masukkan ke sekolah mana anak-anak saya. Kemudian, anak-anak kami bersekolah di sekolah yang sama. Anak-anak kamipun bergaul dan berteman hingga sekarang. Emmy bahkan mengajak anak sulung saya, Nino Kayam, bersama grup musiknya untuk menjadi duta komodo dan pergi ke pulau Komodo guna mengangkat persoalan spesies yang perlu dilestarikan. Emmy memang manusia multi dimensi dan banyak sisi yang tak putus bisa dibicarakan.
Pada Jumat, 2 Juli 2021 saya mendapat kabar bahwa Emmy masuk ICU akibat kanker yang dideritanya. Pada hari Sabtu 3 Juli 2021, beberapa pesan masuk dalam WA saya mengajak berdoa bersama dengan para teman “aktivis seangkatan”, demikian istilah yang diucapan Emmy, mengutip teman aktivis Sandra Moniaga.
Sabtu itu kami berkumpul. Kurang lebih 99 orang melantunkan doa terbaik untuk Emmy. Ditengah lantunan doa dari kawan-kawannya, Emmy berpulang. (f)
(Sitta Aripurnami, Direktur Eksekutif Women ResearchInstitute - Kontributor, Jakarta)
Baca Juga:
Inspiratif, 2 Wanita Indonesia Ini Masuk Daftar BBC 100 Women 2020
Kado Hari Ibu, 2 Srikandi Ilmuwan Indonesia Ini Raih Penghargaan Internasional
Sutopo Purwo Nugroho, Pahlawan Kemanusiaan itu Telah Berpulang
Topic
#obituary, #lingkungan, #profil




