
Foto: Fotosearch
Banyak di antara kita yang selalu mengeluh nggak punya uang—bahkan baru seminggu setelah gajian. Ternyata, oh, ternyata… kebiasaan kita sendiri yang bikin keuangan berantakan. Kita sering kali membohongi diri sendiri demi membenarkan perilaku konsumtif atau situasi kepepet. Nggak percaya? Yuk, cari tahu bersama Natalia Seoni, CFP®, QWP™, financial planner dari MoneynLove.
1. “Upgrade bujet untuk ponsel, ah, biar komunikasi dengan teman dan klien lebih lancar.”
Iya, sih, kita jadi merasa leluasa untuk ngobrol, chatting, bahkan mengakses internet. Tapi biasanya, nih, setelah meng-upgrade bujet, kita bakal tetap merasa kurang. Yang awalnya bujet untuk telepon dan SMS hanya Rp 100 ribu, gara-gara sering mengakses internet akhirnya malah berlangganan paket data 500 MB biar lebih hemat. Dua bulan kemudian bujet telepon meningkat jadi Rp 150 ribu sementara pemakaian internet juga melonjak jadi 1GB. Padahal kalau memang lebih sering ngobrol via WhatsApp atau BBM seharusnya, kan, bisa mengurangi bujet pulsa. Sebelum menaikkan bujet pulsa, menurut Soeni, sebaiknya kita mengecek dulu kebutuhan pribadi.
"Sebaiknya cari tahu dulu kebiasaan kita menggunakan ponsel. Apakah sekadar untuk telepon, SMS, chatting, atau membuka e-mail? Kalau sering telepon mending pakai pascabayar. Soalnya kalau prabayar, pemakaiannya nggak akan terkontrol. Jika sering menelepon ke nomor tertentu, ya, sekalian saja ganti kartu biar pulsa lebih murah. Bila lebih sering menggunakan internet bisa pilih paket unlimited,' jelas Seoni. Semua bergantung pada kita sendiri, kok.
2. “Mending tarik dana tunai dari ATM bersama daripada pusing mencari bank penerbit kartu ATM.”
Ngaku, deh, kita pasti pernah mengalaminya. Berhubung ogah ribet dan diburu waktu, kita rela tabungan dipotong sekitar Rp 5.000 saat mengambil uang di ATM. Eits, kalau dalam sebulan kita bolak-balik ke ATM bersama hingga sepuluh kali, ya, berasa juga, dong.
“Kalau untuk alasan emergency, sih, silakan mengambil di ATM bersama. Tapi kalau belanja juga sampai kepepet, artinya Anda nggak punya planning. Kalau sudah punya rencana belanja, kita pasti sudah tahu ketersediaan ATM di tempat tersebut atau minimal sedia uang tunai,” saran Soeni.
3. “Nggak masalah beli baju atau tas mahal, kan, kalau dipakai berkali-kali nanti juga impas.”
Salah banget, tuh, pemikiran ini. Semakin mahal barang yang kita beli, biasanya, sih, kita semakin sayang untuk menggunakannya terlalu sering. Maklum, banyak ketakutan yang muncul: takut rusak, takut hilang, dan masih banyak lagi. Biar nggak rugi—bahkan melakukan pemborosan—sebelum membeli sesuatu, Soeni mengajak kita berhitung untuk menilai barang tersebut.
“Misalnya dengan gaji Rp 3 juta, kita ingin membeli baju Rp 600 ribu. Kira-kira Anda rela nggak hasil kerja selama lima hari untuk membeli barang tersebut? Perhitungannya, Rp 3 juta dibagi 25 hari kerja sehingga 1 hari kita menghasilkan Rp 120 ribu. Lagi pula, bila barang mahal dipakai berkali-kali juga bakal rusak. Biasanya setelah berpikir ulang, nih, seseorang jadi nggak konsumtif,” tegasnya.
4. “Mumpung dapat bonus, wajib memanjakan diri, nih!”
Soeni setuju bahwa kita harus memanjakan diri sendiri agar tidak stres terhadap pekerjaan. Namun, sebelumnya kita juga harus sudah punya bujet dan planning, dong, supaya nggak perlu mengandalkan bonus maupun THR untuk bersenang-senang.
“Paling bagus setiap gajian kita punya pos-pos tersendiri. Kalau dulu tahunya tabungan adalah sisa uang jajan, sekarang justru kita menyisihkan dulu dana kebutuhan untuk jangka panjang. Sisanya baru boleh dipakai bersenang-senang.”
Jangan sampai mau senang-senang, tapi masih ada utang atau mengorbankan biaya-biaya yang lain. Sebaiknya, sih, setiap bulan kita menyisihkan Rp 200-300 ribu untuk bersenang-senang, sehingga bonus maupun THR bisa disimpan untuk keperluan yang lebih urgent.
5. “Bayar pakai kartu kredit dulu, deh. Nanti kalau gajian langsung dilunasi.”
Kenyataannya: kita selalu mencicil tagihan. Kadang malah hanya membayar minimum payment. Nggak heran utang kita jadi membukit! Nah, Soeni menyarankan agar kita memiliki rekening terpisah untuk membayar tagihan kartu kredit.
“Contoh, saat membeli barang seharga Rp 100 ribu, kita harus langsung transfer ke rekening B. Maksudnya agar saldo tabungan di rekening A berkurang untuk nantinya membayar tagihan kartu kredit. Jadi, kita terbiasa berpikir, 'Ada uang nggak di rekening B untuk belanja?' untuk mengontrol pengeluaran.” Sst, cara ini lebih praktis dibandingkan kita harus mencatat setiap kali berbelanja menggunakan kartu kredit. Begitu tagihan datang, kita tinggal membayarnya dari rekening B, deh.
6. “Beli makanan take away saja. Kan, kalau nggak habis masih bisa disimpan untuk dimakan lagi.”
Yap, ini memang kebiasaan anak kos buat mengirit pengeluaran, he he he. Tapi, kalau akhirnya kita malah malas memakannya—sudah dingin, sih—ya, akhirnya mubazir. Yang lebih murah lagi, tuh, kalau kita sharing makanan dengan teman kos.
“Buat anak kos, bila cuma sendirian, sih, lebih hemat membeli makanan jadi daripada masak sendiri. Nggak masalah juga kalau mau menyisakan makanan buat besok, misalnya. Kalau pun beli lauk, ya, mending dimakan ramai-ramai biar murah—jadi tinggal masak nasi. Bisa juga, kan, masak bareng,” ungkap Soeni.
7. “Belanja produk kemasan besar pasti lebih murah dibanding kemasan kecil.”
Nggak heran, deh, isi troli belanjaan kita akhirnya penuh dengan barang-barang dalam kemasan jumbo! Padahal, belum tentu, kok. Apalagi bila kita jarang menggunakan produk tersebut.
“Kemasan besar umumnya lebih murah, kecuali ada promo. Lihat juga pemakaian kita dan tergantung pada jenis produk. Misalnya, pasta gigi. Mau ukuran besar atau kecil, kan, pemakainnya segitu-segitu saja. Jadi akan lebih hemat kalau beli yang besar,” ujar Soeni.
Nah, untuk camilan, kita juga harus lebih selektif. Memang keripik kemasan besar lebih murah, tapi kalau kita nggak bisa menyimpannya pasti rasanya bakal berubah—jadi nggak kriuk-kriuk lagi, misalnya. So, bijak sebelum membeli, deh. (f)
Topic
#konsumtif


