Home
Dari Editor

29 Sep 2024



Catatan editor ini mengakhiri perjalanan saya di Femina sebagai Editor-in-Chief, dan di Prana Dinamika Sejahtera sebagai Editorial Director dan Chief Brand Officer Akademi Femina yang dilahirkan awal tahun ini. Bersyukur dan senang hati ada banyak kesempatan penting sudah terselesaikan dan memberi dampak pada kemajuan perempuan modern Indonesia, seperti yang diamanatkan DNA Femina sendiri.

Saya masuk ke Femina pada tahun-tahun pertama di era 2000-an, saat majalah ini dipersiapkan untuk transformasi besar-besaran, dari segi isi maupun desain dengan membawa 'mata baru' konsultan dari benua lain yang biasa menangani majalah gaya hidup nomor satu dunia. Bagi saya, ini adalah kesempatan emas untuk ikut serta dalam perjalanan sejarah baru dari media yang sangat ikonis ini. 

Tapi itu adalah tahun-tahun yang sangat sulit dan menantang. Tidak hanya untuk  menyatukan isi kepala  secara internal  tapi juga audiens lama dan loyal yang kaget karena Femina menjadi berbeda di mata mereka. Saya ingat dibombardir kritik tajam tentang huruf Femina yang semakin kecil, artikel jadi pendek dan memuda. 

Memang perubahan selalu tidak mudah. Nyatanya perubahan itu membawa hasil. Pada paruh pertama dan kedua era 2000-an, Femina mendapat banyak sekali penghargaan jurnalistik dan desain cover di tingkat nasional maupun Asia.

Pada masa ini, program ikonis Wajah Femina bertransformasi menjadi kompetisi multitalenta, tidak hanya fokus pada karier sebagai model. Pasar merespons sangat baik dan dari sini lahir banyak sekali alumni yang menjadi tokoh nasional yang bekerja di industri kreatif film, musik, televisi, media dan mode, serta berprestasi hingga ke mancanegara. 

Paruh kedua era 2000-an ketika digital merangsek masuk, Femina dan grupnya saat itu bereksperimen dengan formula baru untuk survived: Komunitas! Audiens didalami dan dipilah berdasarkan minat dan pekerjaan utama mereka. Lalu masing-masing diberikan strategi konten dan layanan yang spesifik. Dari sini lahir Wanita Wirausaha Femina, komunitas pemberdayaan untuk ekonomi perempuan yang bertahan hingga saat ini.

Dalam pengembangan komunitas ini, saya jadi mengerti bahwa di luar soal-soal algoritma dan mesin pencari yang  humanless, sentuhan personal dan tulus justru dibutuhkan. Kekuatan feminin menjadi kunci. Hal ini membuahkan hasil luar biasa. Tidak hanya reputasi sebagai pionir pengembang komunitas untuk media namun pengakuan dari dunia internasional. 

Pada tahun 2010 Femina hadir pada The Presidential Summit On Entrepreneurship di Washington DC atas undangan pemerintah Amerika Serikat, mewakili pengembang komunitas kewirausahaan perempuan di Indonesia. Pada tahun 2014 Femina mendapat Asia Media Award dari WAN-IFRA Asia untuk kategori Best Community yang dimiliki oleh media di kawasan Asia.

Ketika pandemi datang, sekali lagi perubahan terjadi. Segala sesuatu yang tatap muka menjadi virtual. Belajar hal baru lagi dari nol karena semua mendadak live. Tapi dari era ini kami menemukan banyak perempuan hebat dari pelosok Indonesia yang bahkan kotanya belum pernah kami kunjungi selama ini. Sekitar 20 ribu wanita mengikuti berbagai pelatihan, dan mentorship pada masa pandemi itu. 

Ketika peluang bisnis media menurun drastis karena gerusan digitalisasi dan iklim bisnis yang tidak favorable terhadap media, tidak terkecuali media-media kami, saya pikir dalam jangka panjang pengembangan komunitas mungkin bisa menjadi solusi membangun bisnis media yang berdikari dan sehat. Namun hal ini butuh banyak pemikiran dan eksperimen.

Saya yakin Femina akan selalu menjadi rumah mencerahkan bagi perempuan Indonesia. Menjadi oase menyejukkan bagi kehidupan perempuan yang semakin kompleks dan menantang. 

Terima kasih, terima kasih, dan terima kasih untuk kebersamaan selama ini; para pembaca, teman-teman komunitas, Wajah Femina dan tim terbaik yang selalu mengatakan bisa! 'Till we meet again.  

Petty S Fatimah


 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?