Home Interior
Tip Ciptakan Rumah Ramping (2)

17 Jul 2016


Foto: dok.pribadi

Inspirasi membangun rumah bisa datang dari mana saja. Bahkan, dari fashion sekalipun. Seperti yang tampak pada ‘House of Trimmed Reform’ yang dibangun oleh arsitek sekaligus pemilik, Muhammad Sagitha.  Gaya fashion di era Victoria dijadikan konsep dalam membentuk rumahnya.
 
Body Shaping
Di Inggris, pada  pertengahan tahun 1800-an hingga awal 1900-an bentuk tubuh jam pasir dianggap ideal  bagi tiap wanita. Untuk mendapatkan siluet tubuh  idaman itu wanita di era ini  mengenakan korset yang sedemikian ketat untuk menarik pinggang agar ramping.
           
Berangkat dari ide fashion yang memperlihatkan ‘body shaping’ itu, Agit, begitu panggilannya,  menerjemahkannya ke dalam bahasa arsitektur dengan  ‘menggunting’ sebagian sudut bangunan. Teknik ‘pengguntingan’ ini dipraktikkan ke dalam bangunan rumahnya yang berlokasi di Tangerang. Hasilnya, arsitektur mengalami efek ramping dengan bentuk baru dan berbeda.

Bagi Agit, perampingan bangunan yang dilakukannya itu juga  didasarkan pertimbangan dua faktor lain: ketersediaan dana dan iklim tropis. Dari segi dana, yang harus digunakan  secara efektif, ia memilih atap rumah dengan jenis datar karena lebih hemat biaya. Sementara dari segi iklim, ia menyikapi perilaku alam dengan membuat teritisan, yaitu perpanjangan atap utama. Di rumah yang banyak memiliki bukaan besar, teritisan sangat dibutuhkan sebagai penyaring sinar matahari dan pencegah tempias air hujan.
           
Menyesuaikan kondisi alam dan model atap datar ini, maka model teritisan diciptakan dengan cara membuat massa bangunan lebih lebar sebagai pengganti atap konvensional. Akibatnya, bangunan jadi terkesan lebar dan ‘gendut’. Dari sinilah Agit, dibantu arsitek Wiyoga Nurdiansyah, mengakalinya dengan metode ‘menggunting’ (trimmed) pada tampak muka bangunan dan membentuknya agar terkesan ‘slim’.
           
“Dengan metode menggunting, tampilan rumah terlihat unik. Sebuah kolaborasi selaras antara respons terhadap alam, efektivitas dana, dan seberapa ramping bangunan yang diinginkan,” ucap Agit.
 
Material Fungsional & Murah             
Karena faktor dana yang terbatas, maka rumah didesain dengan gaya sederhana, tapi fleksibel. Caranya, dengan memilih beberapa material yang tidak terlalu mahal, tetapi memiliki fungsi penting, seperti penggunaan atap PVC (polivinil klorida), kaca, dan papan semen gelombang. Untuk atap, bahan PVC tergolong murah dan memiliki banyak fungsi, seperti mampu meredam panas cahaya matahari, tidak berisik saat hujan, dan antibocor karena bentangannya panjang, membuat derajat atap menjadi landai.
           
Begitu pula penggunaan kaca di ruang keluarga dan ruang makan yang membuat dinding transparan seolah tidak berjarak dengan taman dalam. Penggunaan kaca yang umumnya selalu sukses menghadirkan kesan futuristis, juga menyediakan pasokan besar cahaya alami. Gaya arsitekturnya pun menjadi terlihat kekinian.
           
Sementara, papan semen gelombang yang tahan air dan kelembapan, digunakan sebagai material finishing dinding di service area. Selain sebagai aksen, material ini juga memberikan kejutan menjadi panel yang bisa dibuka-tutup sebagai pintu dan jendela service. Respons terhadap bayangan matahari juga menjadi lebih menarik dan playful di dinding yang bergelombang.
 
Ruang Efektif            
Karena kondisi lingkungan yang tidak memperbolehkan adanya pembatas pekarangan luar, maka keamanan dan kenyamanan menjadi isu desain. Agit membuat tembok pembatas sebagai facade di lantai bawah yang memiliki bukaan-bukaan kecil. Ia juga menyatukan indoor dan outdoor untuk memaksimalkan space yang terbatas menjadi maksimal. Cara penyatuan ini turut menjadi strategi meminimalkan biaya.
 
Furnitur & Warna
Untuk efektivitas penggunaan ruang, furnitur ringan bergaya modern kontemporer  menjadi pilihan. Sementara pertimbangan warna berangkat dari material eksterior, dengan dominasi gradasi tone abu-abu muda ke abu-abu tua. Agar harmonis dengan interior, furnitur di ruang dalam menggunakan warna yang lebih terang, seperti putih  mengarah ke abu-abuan agar ruang terkesan lapang.
           
Khusus untuk  foyer, ornamen kayu dengan warna gelap menciptakan kesan tersendiri. Warna tersebut menjadi aksen dan membuat ruang terasa hangat.
           
Meski tidak ada sekat, pembagian antar-ruang terlihat nyata. Mulai dari area penyambutan dengan ornamen kayu pada lantai parket dan credenza, ruang makan dengan atap berongga dan lampu gantung yang eye-catching, ruang keluarga dengan sofa santai dan kabinet TV, hingga ruang pojok dengan lampu sudut yang menyempurnakan ruang multifungsi itu. (f)
 
 
 

 
 


 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?