Foto: pixabayBagi pasien dan keluarganya, penyakit jantung memberi beban yang sangat besar, baik secara finansial maupun psikologis. Sementara itu, penyakit jantung merupakan salah satu penyakit yang memberikan beban finansial paling besar untuk pemerintah dibandingkan penyakit tidak menular lainnya. Pembiayaan Jaminan Kesehatan Nasional tahun 2018 menunjukkan pelayanan untuk penyakit jantung menghabiskan 10,5 Triliun rupiah.
Penyakit jantung yang paling umum diderita adalah penyakit jantung koroner, yang disebabkan karena adanya hambatan aliran darah ke jantung. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menemukan bahwa prevalensi penyakit jantung pada wanita mencapai 1,6%. Angka ini lebih besar dibandingkan prevalensi pada laki-laki yang menempati angka 1,3%. Penyakit jantung pada perempuan juga memiliki gejala yang berbeda dibandingkan laki-laki, menjadikannya lebih sulit didiagnosis dan diobati.
Menurut Dr. dr. Sally Aman Nasution, Sp.PD, KKV, Dokter Spesialis Dalam dan Konsultan Kardiovaskular Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM), penyakit jantung pada wanita dapat dikenali lewat beberapa gejala, seperti rasa nyeri atau tidak nyaman pada dada, pegal didaerah tubuh atas seperti leher dan punggung, sesak napas, sering berkeringat dingin, nyeri kepala ringan mendadak, serta mual atau nyeri pada ulu hati.
Namun, gejala-gejala penyakit jantung ini seringkali disalahartikan sebagai penyakit lain seperti maag. Hal ini menyebabkan banyak dari penyakit jantung pada wanita tidak terdeteksi.
“Penyakit jantung pada wanita seringkali tidak terdeteksi karena gejalanya yang tidak disadari. Karenanya, sangat penting mengetahui kondisi tubuh sendiri. Salah satunya dengan menjaga gaya hidup dan pola makan serta melakukan screening jantung teratur,” ujar Dr. dr. Sally Aman Nasution dalam forum diskusi bertema Waspadai Penyakit Jantung pada Perempuan yang diprakarsai Royal Philips (NYSE: PHG, AEX: PHIA), dalam menyambut Hari Ibu yang diperingati setiap tanggal 22 Desember.
Penyakit jantung pada wanita sering kali muncul ketika sudah memasuki masa menopause. Hal ini disebabkan menurunnya hormon estrogen.
Selain faktor kadar estrogen, terdapat beberapa faktor risiko non tradisional (tidak umum) yang hanya dapat terjadi pada wanita, yaitu kehamilan. Saat seorang wanita hamil, tubuhnya akan menyediakan darah dua kali lipat. Namun, jika sang ibu memiliki kelainan jantung bawaan atau pun menderita faktor risiko penyakit jantung seperti hipertensi, atau diabetes, maka kemungkinan sang ibu mengalami gangguan jantung di saat hamil akan meningkat. Hal ini dikarenakan kehamilan menyebabkan stres secara fisik pada tubuh ibu, akibatnya jantung akan dipaksa untuk bekerja lebih keras.
“Kami sadar bahwa ibu merupakan ujung tombak keluarga dan memiliki posisi yang tidak tergantikan. Karenanya, lewat cara ini, kami berharap dapat memberikan edukasi serta meningkatkan kesadaran para kaum perempuan mengenai kesehatannya, ”ujar Tjutya Arumsari, Marketing Lead Philips Health System Indonesia. (f)
Baca Juga:
Menyelamatkan Penglihatan Bayi Prematur
Cegah Wabah Berulang, Ini Pentingnya Vaksinasi Hepatitis A
Cegah Stroke Dengan Rutin Mengukur Tekanan Darah Sendiri Di Rumah
Topic
#kesehatan, #jantung


