Health & Diet
Hindari Demam Berdarah Dengan 4 Tip Ini

9 Jul 2016


Foto: Fotosearch

Menurut data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, tahun 2014 terdapat 71.688 kasus demam berdarah dengue (DBD) dan menyebabkan 641 kasus kematian. Sementara pada tahun 2015, 129.179 orang terjangkit, dan 1240 di antaranya meninggal dunia. Meski periode puncak kasus DBD di Indonesia biasanya terjadi pada bulan Maret dan April, namun kewaspadaan terhadap virus DBD harus terus dilakukan. Tanggal 15 Juni bahkan disepekati oleh negara-negara anggota ASEAN sebagai ASEAN Dengue Day (ADD).

Asian Dengue Vaccine Advocacy (ADVA), kelompok kerja ilmiah pun berusaha menyebarluaskan informasi dan memuat rekomendasi tentang strategi pengenalan vaksin dengue di Asia. Salah satunya dengan meluncurkan situs www.denguemissionbuzz.org.
Namun, semua usaha itu akan berhasil jika didukung oleh peran masyarakat. Berikut ini beberapa cara yang bisa kita lakukan untuk menekan penyakit DBD dan kematian yang diakibatkan DBD.

1/ Jadi Jumantik   
Jumantik atau Juru Pemantau Jentik adalah anggota masyarakat yang dilatih oleh Puskesmas setempat untuk memantau keberadaaan dan perkembangan jentik nyamuk, guna mengendalikan DBD. Anda bisa kok jadi jumantik dengan melakukan kegiatan 3M, yaitu: menguras penampungan air, menutup tempat penampungan air, dan mendaur ulang barang bekas.Adanya satu jumantik di tiap rumah, memungkinkan untuk memeriksa rumah hingga ke wilayah yang pribadi seperti kamar mandi di dalam kamar tidur. Jika Anda punya kolam ikan, bisa juga meneteskan obat khusus untuk mencegah jentik nyamuk. Kita juga bisa menaburkan bubuk larvasida di penampungan air.
 
2/ Tanaman yang dibenci nyamuk,
Menghijaukan rumah sekaligus mengusir nyamuk, bisa juga lho. Tanam tamanan yang tidak disukai nyamuk, seperti zodia, lavender, geranium, serai, rosemary, dan marigold. Jangan biarkan kebun dan taman Anda malah jadi sarang nyamuk.
 
3/ Perhatikan Gejala
Penelitian yang dilakukan GSK Costumer Healthcare Indonesia terhadap 1000 responden berusia 15 – 64 tahun menemukan, 97% orang Indonesia mengetahui DBD, tetapi hanya bisa menyebutkan 3 gejala dari DBD, umumnya panas dan ruam-ruam. Padahal, masih ada gejala lain yang perlu diwaspadai.

“Gejala awal BD umumnya yaitu demam tinggi, nyeri kepala, perdarahan pada kulit, mimisan, dan nyeri pada otot serta persendian. Pada anak seringkali disertai mual dan muntah, sehingga tidak mau makan. Apabila tidak ditindaklanjuti akan membawa pada kondisi syok dan perdarahan saluran cerna sehingga menyebabkan kematian,” ujar Prof. Dr. dr. Sri Rejeki Hadinegoro, Sp.A(K).

Gejala itu biasanya terjadi 2 – 7 hari setelah masa inkubasi 4 – 10 hari setelah seseorang tergigit nyamuk yang terinfeksi. Menurutnya, pasien yang datang terlambat adalah salah satu penyebab kematian. Karena itu, ia menyarankan, jika anak demam 3 hari tidak turun, segera bawa ke fasilitas kesehatan untuk ditindaklanjuti.
 
4/ Penanganan Cepat & Tepat
Penelitian GSK Costumer Healthcare Indonesia juga menemukan, hanya 10% orang Indonesia yang tahu bahwa obat AINS (Antiinflamasi Non Steroid, seperti ibuprofen dan naprofen). Padahal, menurut rekomendasi WHO, penanganan yang tepat untuk pasien DBD dimulai dengan pemberian cairan yang cukup dan penanganan demam yang tepat. Parasetamol adalah obat yang tepat untuk mengurangi nyeri dan demam, sedangkan asam asetilsalat dan obat AINS akan meningkatkan risiko gangguan lambung dan perdarahan yang akan sangat berbahaya bagi pasien DBD.
 

 


 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?