
Malnutrisi anak masih jadi masalah besar di Indonesia (Foto: Pixabay)
Laporan bersama antara badan dunia yang menangani anak-anak (UNICEF), WHO, dan ASEAN (2016) mengungkap bahwa sebanyak 12 persen anak-anak di Indonesia mengalami obesitas. Sementara itu, 12 persen lainnya mengalami kekurangan gizi. Riset Kesehatan Dasar (2013) juga mengungkap bahwa anak usia sekolah yang menderita anemia juga cukup tinggi, yaitu 26,4%.
Ahli nutrisi dr. Grace Judio-Kahl melihat ada beberapa hal yang melatari kondisi ini. Di antaranya ketidaktahuan para orang tua terhadap pentingnya pemenuhan nutrisi bagi anak selama masa tumbuh kembang mereka. Sedihnya lagi, di Indonesia, membeli sayuran dan sumber protein bagi kebutuhan gizi anak ini masih ada di nomor urut belakang.
“Bahkan ada data yang mengatakan bahwa orang Indonesia lebih suka menghabiskan uangnya untuk membeli rokok daripada membelanjakannya untuk sayuran,” ungkap dr. Grace, usai acara talkshow Aksi Ibu Peduli Nutrisi di Surabaya, Senin (26/02) dalam program Aksi Ibu Peduli Nutrisi dari Minute Maid Nutriforce.
Kondisi ini apabila tidak diperhatikan secara serius berpotensi pada penurunan kualitas generasi penerus bangsa. Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (2016) mengungkap bahwa pengeluaran untuk rokok pada rumah tangga termiskin setara dengan 13 kali dari pembelian daging, lima kali lebih besar dari pembelian susu dan telur, dan dua kali lebih besar dari pembelian ikan dan sayuran. (f)
Topic
#nutrisi




