“Di hotel itu Nenek pernah dikurung bersama kawan-kawannya sesama wanita, juga anak-anak. Itu masa Jepang berkuasa di negerimu.”
Aku menerawang jauh. Mataku menatapi barisan roti di etalase. Aku tak bisa bersedih atau marah karena kenyataan bahwa keberadaan bangsanya dan para leluhurnya telah membuat bapakku menjadi yatim piatu. Kakekku pejuang pemberani. Bisa jadi peluru yang menembus tubuh Brigjen Mallaby itu peluru dari pistol kakekku. Siapa tahu, karena memang kakekku dan kawan-kawannya turut mencegat iring-iringan kendaraan yang melintasi Jembatan Merah. Dan jauh sebelumnya kakekku beserta kawan-kawannya terus-menerus memerangi Kakek dan para leluhur wanita di hadapanku ini.
Bapak sering mendongengkan tentang banyak pertempuran dan betapa tangguhnya Kakek.
“Bukan obrolan menyenangkan, ya, Kus?”
Aku tersentak. Tangan Erica terulur menarik gambar Hotel Ngemplak dari tanganku, tetapi aku menahannya.
“Apakah kedatanganmu ke sini ingin melihat ke belakang, melihat sejarah keluargamu?”
“Terlalu pahit untuk dikenang, Kus. Itu sejarah pedih keluargaku.”
“Apakah menurutmu kami senang bangsamu datang ke sini, Ric? Kurang pedih apa bangsaku?”
Dia tersentak, aku juga kaget mendengar suaraku sendiri. Dia menggigit-gigit bibir, lalu lama memandangku. Menjatuhkan mata di cangkir kopi beberapa saat, lalu mendongak menatapku lagi.
“Bapakku kehilangan keluarga karena leluhurmu ingin terus berada di sini!”
Aku melihat Erica gelisah, tetapi hanya sebentar karena kemudian dia berbicara cukup jernih di telingaku. “Memang perang tak memberikan apa-apa selain luka, janda, dan yatim piatu, Kus. Maafkan para leluhurku.”
Aku terdiam. Meneliti kembali silsilah keluarga.
Perlukah aku marah kepadanya? Aku dan dia adalah generasi kesekian, lalu duduk berhadapan sebagai orang yang mengaku sebagai korban.
“Mamaku disekap di hotel yang sekarang menjadi rumah sakit tempatmu bekerja, Kus.”
Aku terperanjat. Tak masuk akal karena aku menafsir usianya masih terlalu muda. “Mama masih berusia empat tahun ketika dalam gendongan nenekku.”
Oh, hanya itu kukatakan. “Mereka diangkut dari rumahnya, mendapat perlakuan buruk oleh militer Jepang.” Mata birunya berkacakaca, tetapi tak sampai pecah menumpahkan air mata.
“Dan Papa disekap, dipenjara, di hotel tempatku menginap. Ketika itu bernama Hotel Yamato, tetapi sebelumnya bernama Hotel Oranje.” Erica mengambil jeda, mencecap kopinya, lalu kembali menatapku. “Hotel berubah fungsi menjadi penjara. Di situ kakekku disiksa.”
“Bangsa kami le….”
“Kus! Kakek tak bisa menghindar tugas dari negerinya. Masih beruntung Nenek bisa menyusulnya. Aku minta maaf kalau kedatanganku mengungkit marahmu. Tolong, dengarlah dulu ceritaku, setelah itu kamu boleh tidak berurusan lagi denganku.”
Topic
#fiksifemina, #cerpen


