“Nana, Nana, Nana...,” lengkingan bernada tinggi menarik kesadaran Nana. Ia membuka mata waspada. Suara burung-burung di kepalanya belum berhenti. (Beberapa waktu terakhir, Nana bahkan sudah tidak lagi merasa terganggu.) Namun, ia yakin burung-burung itu kembali memanggil namanya.
“Nana, ini kami. Kau tak mengenali kami?”
“Kami? Siapa?” balas Nana cepat.
“Kami teman-temanmu, yang selalu kau ajak bicara tiap pagi saat kau menyapa pohon-pohon di halaman. Tidakkah kau ingat?”
Mendengar itu, perut Nana bergejolak. Ia girang luar biasa, dan secara bersamaan, takut tak terkira. “Oh, kalian burung-burung yang membuat sarang di lubang angin kamarku! Kalian benar-benar berbicara kepadaku?”
“Tentu saja! Itu kan, yang selalu kita lakukan?”
Nana mengerang pelan, sedikit frustrasi. “Aku hampir tak ingat apa pun tentang hidupku. Ceritakan, apa lagi yang biasa kukerjakan tiap hari?”
“Hmm, kau sangat suka duduk di bawah pohon sambil menghadap benda putih besar. Kau memenuhinya dengan warna. Terkadang, ada kami dan pohon-pohon di sana. Lalu, seseorang mengambil benda itu darimu. Dan kau selalu tersenyum cerah bila hal itu terjadi.”
Nana tertawa, mengerti. “Ah, aku melukis dan menjual lukisanku! Rasanya itu satu-satunya hal yang bisa kulakukan dengan mata tertutup.”
“Lalu, kau tak pernah lagi menyapa kami! Kau tak pernah keluar. Sepanjang hari, kau hanya berbicara sendiri di dalam ruangan ini. Karenanya, kami memutuskan pindah ke dalam kepalamu. Apa yang terjadi, Nana?”
Apa yang terjadi? Sungguh Nana ingin membuka tabir yang menyelubungi ingatannya. Pikirannya mulai bergerak mundur, mencoba merekonstruksi peristiwa-peristiwa yang telah menjadi milik masa lalu. Tentu saja, yang pertama kali melintas di pikirannya adalah sore yang dipenuhi angin yang kering. Tanah merah di kakinya. Jasad ibunya yang menghilang dari pandangannya. Aroma bunga kematian.
Ingatannya kembali bergerak ke belakang. Wajah pucat ibunya saat mendengar berita yang ia sampaikan hari itu. Berita yang membawa tubuh ringkih ibunya ke ujung batas pertahanannya. Berita yang berawal dari ponsel di dalam genggamannya. Sebuah pesan singkat dari Gi. Hanya pesan singkat.
Maaf, aku tak bisa melanjutkan rencana kita.
Hanya empat puluh delapan jam menjelang hari pernikahan Nana. Di saat kertas-kertas undangan sudah menjumpai alamatnya masing-masing. Gedung, katering, bunga-bunga, dan perabot rumah tangga sudah dipersiapkan dengan sempurna. Nana ingat mata ibunya yang kosong saat menelepon teman dan kerabat mereka untuk mengabarkan acara yang urung. Kekosongan yang menjadi akhir waktu ibunya di dunia yang seketika terasa absurd.
Dan Gi. Pria itu. Apakah ia sadar bencana apa yang sudah ia ciptakan di dalam hidup Nana? Kehancuran seperti apa yang merekah di tiap sudut hatinya? Ia tak pernah tahu itu (juga segala makian dan umpatan yang tumpah ruah di dalam hati Nana untuknya).
“Gi? Bukankah ia yang suka menemanimu di luar?”
Hampir saja Nana menjerit. Ya. Kenangan yang paling ia ingat dari pria itu adalah tentang tawa yang, sejujurnya, tak terlalu banyak mereka bagi. Sekaligus juga, ironisnya, kebencian menusuk yang mengingatkan Nana pada tanah merah ibunya.
“Akulah penyebab kematian ibuku,” isak Nana pilu. Betapa ibunya telah teramat lama cemas menantikan hari di saat putri kecilnya akan bersanding di pelaminan --mengingat buruknya akhir tiap kisah percintaan di dalam hidup Nana.
“Apakah alam mengutukku dan tak mengizinkanku bahagia?” ratap Nana lagi, penuh duka.
“Bagaimana bisa? Kau teman kami, Nana. Kami sayang padamu.”
“Teman priaku itu, Gi, tak cukup mencintaiku.”
“Kau mungkin akan lega mendengar ini. Gi tidak bahagia setelah meninggalkanmu.”
“Omong kosong! Dari mana kalian tahu?”
Burung-burung itu bersuara bising, terdengar seperti mencemooh. “Tentu saja ia tak bahagia! Kami melihatnya bersama seorang gadis di rumahnya. Rumahnya kering, Nana. Seperti jiwanya. Berbeda denganmu yang membiarkan pohon-pohon buah tumbuh rindang di halaman. Dan kami mencintaimu karena hal itu! Kau tentu tahu, kami tak mau mendatangi tempat yang hanya tertutup atap.”
Nana termenung. “Hanya kalian yang bisa mencintaiku karena hal aneh.”
Burung-burung mulai bersuara ribut, dan Nana menyadarinya sebagai gelak mereka.
“Itu tidak benar! Ada teman pria baik, bukan Gi tentu saja, yang tinggal di ujung kota. Ia melakukan hal yang sama denganmu. Ia menyayangi pohon-pohon buah yang ia tanam di halamannya. Ia membiarkan teman-teman kami membuat sarang di sana. Kami bercakap-cakap dengannya. Kebanyakan tentangmu! Ia sangat ingin bertemu dan mengenalmu, Nana!”
Nana terpana, lalu mulai tertawa. “Kalian pasti bercanda!”
“Tidak, Nana. Ia sungguh tertarik padamu. Akan kami kenalkan kau kepadanya. Tapi, sebelum itu, berjanjilah kau akan kembali menjadi Nana yang kami sayang.”
“Nana yang kalian sayang?”
“Ya. Nana yang tertawa dan bernyanyi di beranda. Nana yang menyapa kami dan pohon-pohon tiap pagi. Nana yang melukis penuh warna. Nana yang….”
Oh, Nana tak hafal apa saja yang dipinta burung-burung itu. Namun, ia berjanji. (Di kemudian hari Nana akan mengingat. Di antara percakapan mereka yang panjang, beberapa kali Lira atau ayahnya hadir dan mendengarkan mereka).
***
Nana terbangun dalam keheningan yang sempurna. Tidak ada yang berlompatan di dalam kepalanya. Tidak juga pekikan burung yang membuatnya sakit kepala. Ia merasa ganjil. Namun, damai.
Dengan gembira ia bangun, lalu pergi ke kamar mandi. Ia berlama-lama menyikat gigi dan mencuci rambutnya. Ia juga berulang kali menggosok tubuhnya dengan sabun cair yang meninggalkan aroma kesukaannya. Setelahnya, ia memilih pakaian terbaiknya, mengeringkan rambut panjangnya, lalu memulas wajahnya dengan warna-warna pastel. Saat memandang pantulan dirinya di cermin, ia merasa cantik dan bahagia.
“Selamat pagi, Ayah!” sapanya riang, saat menemui ayahnya yang sedang membaca koran di ruang tamu. “Hari ini aku akan mulai melukis lagi. Alat-alat melukisku masih ada? Tak ada? Tak apa. Biar nanti aku pergi ke toko untuk membelinya. Ayah mau menemaniku? Pasti akan menyenangkan jika kita bisa pergi bersama.”
Ayahnya menatap takjub. Mulutnya terbuka, tapi tak ada suara yang keluar dari sana. Seringai muncul di wajah Nana. “Oh, sebelum itu, aku harus menyapa burung-burung di luar terlebih dahulu.”
Nana terkikik geli membayangkan janji burung-burung yang akan mempertemukannya dengan seorang pria baik yang bukan Gi. Ia membuka lebar pintu ruang tamu, menghirup dalam udara pagi, lalu berjalan menuju beranda. Mendadak ia berhenti, lalu mulai menggigil hebat. Ia seperti berdiri di tempat asing yang bukan rumahnya sendiri.
“Ayah,” panggilnya dengan suara gemetar. “Di mana halaman dan pohon-pohonku?”
Ayahnya menyusul cepat dan berdiri di sampingnya. “Maaf, Sayang. Ayah sudah menebang semua pohon dan menutup halaman rumah kita lima bulan lalu, saat kau mulai berkicau di kamarmu sepanjang hari.”
Dalam udara pagi yang kini terasa membekukan, Nana dapat merasakan semua burung telah terbang meninggalkannya.
*****
http://www.femina.co.id/fiction/
Topic
#cerpen, #fiksi


