Fiction
Cerber: Kota Kelahiran [3]

16 Oct 2017


COTE VERTU
Pukul 11.00 nanti aku check out dari hotel. Sesuai dengan tiket, pesawat aku akan berangkat malam ini. Rencananya, sebelum ke bandara aku akan mengajak Rose makan siang. Namun, ia ngotot untuk makan siang di bandara saja.

“Biar ngobrol-nya tenang, agar kamu tidak terus-menerus melihat jam tangan,  takut ketinggalan pesawat, saat kita ngobrol.” Begitu alasannya.  Aku setuju, meski sebenarnya aku paling tak suka makan di bandara, makanannya standar dan mahal!

Setelah berjam-jam bersama Rose, aku bisa merasakan kebaikan, ketulusan, dan kehangatan Rose padaku. Pantaslah kalau  Nemah memercayakan semua wasiat padanya.  Sepanjang kebersamaanku  dengannya, aku juga mendengar banyak cerita tentang Ibu, mengunjungi tempat-tempat yang dianggap bersejarah bagi aku dan Ibu.

Cerita selama  13 tahun itu memang diceritakan terpotong-potong. Mungkin masih banyak cerita lain yang belum terungkap. Namun,  itu  sudah cukup menggoyahkan anggapanku terhadap Ibu yang selama ini bersemayam di relung hati dan otakku.  Sikap Ibu, setidaknya terhadapku, tidaklah sejahat apa yang kubayangkan selama ini.

Sambil berbaring kudekap foto Ibu dan botol perak bekas tempat abunya. Kuucapkan permintaan maaf dan rinduku yang tiba-tiba bersemi. Kuucapkan keprihatinanku pada perjalanan hidupnya.  Efeknya, semalam aku sibuk  mencerna ulang dan merangkai semua cerita yang membuat aku berguling-guling tak bisa tidur.

Otakku begitu sesak dan serasa hendak meledak. Aku membutuhkan tempat untuk meledakkannya.  Akhirnya,  pukul 3 dini hari waktu Montreal, sama dengan pukul 3 sore di Jakarta, aku menelepon Ayah. Selama satu jam aku mempertanyakan sikap Ayah kepada Ibu, mengungkapkan kekesalanku dengan bahasa yang amburadul karena kuutarakan dalam keadaan emosi dan terisak-isak.

 “Ayah sudah menyiapkan diri bahwa suatu saat kamu akan mempertanyakan semuanya. Ayah tidak akan membela diri. Ayah minta maaf.”  Ayah mengatakan itu saat isakku mulai berkurang dan emosiku mulai melunak.

Percakapan itu membuatku lega dan bisa tidur lelap. Aku baru bangun ketika jam menunjukkan pukul 8.00. Dari jendela hotel, aku bisa melihat puncak Mount Royal yang kerontang dan beku. Langit kelabu. Menurut ramalan cuaca yang kulihat di televisi, hari ini Montreal akan diguyur salju. Tapi di luar sana, aku melihat sebuah hari baru yang menggairahkan. Pukul 11.30, kudengar telepon berdering. Rose mengabarkan, ia sudah menungguku di lobi hotel.

“Restoran apa yang paling Ibu sukai saat musim dingin?” Itu yang pertama kutanyakan saat menemuinya di lobi.

“Pho Bang New York, di Cina Town.” Rose menjawab pertanyaanku dengan kening berlipat-lipat.

Menurutnya,  ia mulai sering menemukan  tindakan spontanku yang  ‘nyeleneh’  seperti Ibu.

“Restoran Vietnam? Ayo, kita makan siang di sana.”

“Mudah-mudahan antrean tak panjang.” Rose melirik jam tangannya. “Masih terlalu pagi untuk makan siang.”

Restoran itu, menurut Rose, di  tiap musim tak pernah sepi pengunjung. Mereka tak keberatan, jika harus antre. Aku jadi penasaran, sedahsyat apa makanan Vietnam di tempat itu. Sepuluh menit kemudian kami sudah tiba di China Town, karena letaknya ternyata tak jauh dari hotel. 

Seperti harapan Rose, belum ada antrean sehingga kami mendapat meja dengan cepat. Menu yang dijual sebenarnya tak beda dengan restoran pho yang ada di Jakarta. Aku dan Rose sama-sama memilih sup daging sapi. Rasanya hampir sama dengan sup Vietnam pada umumnya. Bedanya, terasa lebih nikmat karena disantap dalam cuaca dingin.

“Kafe apa yang disukai  Ibu?” tanyaku, saat keluar restoran dan melihat antrean sudah mengular. Luar biasa, untuk menikmati makanan Vietanam ini mereka tak keberatan antre sambil menggigil.

“Boulangerie Premiere Moisson di Jean Talon,” Rose menjawab sambil meneliti wajahku.
“Ayo, kita ke sana.”  Aku meraih tangannya.
 


Topic

fiksifemina

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?