Fiction
Cerber: Kota Kelahiran [2]

15 Oct 2017


MANTEL MERAH

Rasanya senang sekali ketika akhirnya aku tiba di rumah Rose. Aku bisa duduk di  ruangan berpenghangat. Dari jendela,  aku bisa menyaksikan salju. Ternyata, aku lebih suka menyaksikan salju dari jauh, dibanding berada di bawah guyurannya seperti yang baru saja kualami saat berjalan dari stasiun metro ke rumah Rose. Aku harus berjalan tertatihtatih karena harus memilih jalan agar tidak terpeleset, sementara salju merintangi pandanganku.

Dari balik jendela ini, aku bisa melihat serpihan putihnya, tampak lembut di bawah semburat lampu jalan. Membuat perasaanku terayun-ayun, mellow. Apalagi sambil mendengarkan suara penyanyi favorit Rose, Bob Marley, penyanyi asal Jamaika. Urusan Ibu tampaknya sudah menjelang babak akhir. Mudah-mudahan aku sudah memberinya penghormatan terbaik untuknya, seperti yang Ayah harapkan. Dan aku merasa gembira menunaikannya.

Kini, rasa kesalku kepadanya yang membatu bertahun-tahun,  sudah mencair,  seperti salju yang mendarat di atas rambutku. Aku percaya, banyak hal  baik yang telah ia lakukan. Pasti, ia punya alasan yang tidak kuketahui saat melakukan sesuatu.  Sebentar lagi, aku  akan kembali ke hotel. Menuntaskan kebutuhan tidurku yang terpotong.  Mudah-mudahan bisa tidur lelap.

Besok, masih ada waktu sehari untuk mendatangi kampus tempat  dulu Ayah dan Ibu bersekolah. Siapa tahu aku jadi bersemangat sekolah. Setelah itu, sedikit bersenang-senang, mencoba sandwich Schwartz, seperti yang disarankan Ayah, karena konon itu merupakan ikon Montreal dan salah satu yang  terenak di dunia.

Kata Ayah, dulu sekali aku pernah mencicipinya. Tapi, lagi-lagi aku tak ingat. Lalu, aku akan  membeli oleh-oleh buat Mama Mona dan adik kembarku. Ayah minta dibelikan bagel di Jalan St Viater, yang masih dibuat secara tradisional. Aku sudah cek, semua lokasinya tak jauh dari hotel. Lusa siang, kembali ke Jakarta. Kembali mencari kerja, aktif di Geng Baca.
  
“Rumahmu simpel dan nyaman,” ucapku, sambil mengedarkan pandangan di dalam rumah mungil dua lantai dengan dua kamar tidur di lantai atas. Lantai bawah digunakan untuk dapur kecil yang menyatu dengan meja makan. Sisa ruangan digunakan untuk ruang keluarga berisi kursi dengan jok yang nyaman untuk bersandar yang menghadap ke televisi berlayar sedang. Sebuah meja segiempat, penuh dengan pigura foto keluarga.

“Aku membeli rumah ini 3 tahun lalu, setelah bertahun-tahun tinggal di apartemen. Aku tinggal sendirian.  Dua anakku kerja di luar kota. Brian di Toronto dan Nikita di New York. Suamiku meninggal 2 tahun yang lalu.” 

Rose menunjukkan sebuah foto keluarga.  Keempatnya kulihat sedang tertawa lebar. Rose kemudian bercerita bahwa sebagai seorang perawat di rumah sakit, ia perlu mengumpulkan uang untuk membeli rumah yang nyaman. Selama ini, ia mencari uang sendiri karena suaminya terkena stroke menahun. Bebannya baru lepas beberapa tahun kemudian, setelah kedua anaknya lulus kuliah dan bekerja.

Berulang kali ia menekankan, bahwa sebagai imigran, untuk meraih sesuatu dibutuhkan kerja yang tiga kali lebih keras. Rose, meskipun sudah menjadi perawat di negaranya, ia tetap harus mengambil sekolah lagi di negeri barunya. Dan itu bukan hal mudah, karena sambil sekolah ia harus bekerja apa saja.

“Tapi aku senang karena aku bisa lulus dan bekerja sebagai perawat,” ceritanya. Tak lama kemudian, Rose mengajakku melahap poutine dan salad yang kami beli di dekat stasiun metro. Makanan khas Quebec, salah satu provinsi di Kanada,  berupa kentang goreng yang diguyur gravy cokelat dan sobekan keju curd yang  gurih dan enak. Berulang kali aku mengacungkan jempol kepada Rose dan berterima kasih telah memilihkan makanan itu.
 


Topic

#fiksifemina

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?