Fiction
Cerber: Intan yang Kucari [1]

1 Jul 2017


Kelas konseling. Minggu pertama, bulan ketiga.
Tigor lagi….
Setelah menemui dia di kantor gereja ini, aku belum berjumpa dengannya lagi. Pertemuan waktu itu berakhir begitu saja. Tigor tetap diam bersandar dan aku akhirnya pergi setelah satu jam menangis di depannya. Tak ada tukar-menukar nomor telepon atau alamat.

Calon suamiku memang orang baik. Meski waktu di danau dia sangat marah padaku,  ternyata dia tak mengabaikanku. Tiap hari dia tetap rutin menelepon, meski hanya sekadar mengatakan bahwa dia sedang capek, atau akan bermain bulu tangkis dengan temannya.

Ternyata ada juga gunanya aku menemui Tigor. Sebab sekarang, meski jantungku masih berdebar tak beraturan, aku sudah berani melihat ke arahnya.

Dia menyapa kami semua. Semua membalas sapaannya, termasuk aku, untuk yang pertama kali. Calon suamiku sampai memalingkan wajah untuk melihatku. Pasti dia tak menyangka bahwa aku sekarang berani membalas sapaan Tigor.

Tigor membuka bukunya, lalu Alkitabnya. Kami juga membuka buku dan menunggu dia memberi tahu kami ayat Alkitab yang harus kami baca.
“Sekarang kita akan berdiskusi tentang Perbedaan Antara Laki-laki dan Perempuan.”

Dia berhenti setelah mengucapkan kalimat itu, mengambil pena dari saku bajunya, lalu menulis di bukunya.
Aku terperangah. Aku baru tahu dia menulis menggunakan tangan kiri….

Seperti ada yang membangunkanku dari tidur lelap. Aku tak mengerti menjelaskannya, tapi aku yang tadinya tertidur, sekarang sudah terbangun. Dunia yang tadi gelap, sekarang menjadi terang benderang.
Aku baru tahu dia kidal…. Pengetahuan ini menyentakku.

Sepuluh tahun mencarinya, sepuluh tahun merindukannya. Sore ini baru tersadar, aku mencintai apanya? Aku merindukan apanya? Aku tak mengenal dia sedikit pun. Aku tak tahu apakah dia bisa mengucapkan seluruh abjad tanpa cacat, aku tak tahu dia suka makan apa, hobinya apa, di mana rumahnya, apakah dia lebih suka memakai kaus dibandingkan kemeja, apa pekerjaan orang tuanya, apa yang membuat dia marah, apa yang dia lakukan di waktu senggangnya. Sungguh, aku tak tahu sedikit pun, sebab aku memang tak mengenal dia!

Sebaliknya, setahun bersama calon suamiku membuatku sangat banyak tahu tentang dia. Aku tahu dia lebih suka makan telur dibandingkan daging, dia selalu merasa geli kalau telinganya dibisiki, dia pernah jatuh dari motor yang membuat tempurung lututnya retak, dia anak kedua dari lima bersaudara, dia bisa sangat senang hanya karena aku membuatkan kue bolu untuknya, dia marah kalau melihat orang bermalas-malasan, dia tak menganggap lelaki menangis sebagai tanda ketidakjantanan. Yah, aku mengenal dia, aku masih bisa menyebutkan deretan  hal lain, yang membuktikan bahwa aku mengenalnya.

Kesadaran itu ternyata bagai tangan yang mengangkat seluruh beban yang kupikul selama ini. Mendung yang selama ini menutupi cahaya wajahku, terusir oleh kuatnya dorongan angin kesadaran. Aku bisa tersenyum lepas, aku merasa bebas.
 
.****.
 


Topic

#fiksifemina

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?