
Foto: Fotosearch
Banyak faktor yang bisa menyebabkan kenapa sebuah keluarga tidak bisa disebut ideal. Ideal dalam arti satu ayah, satu ibu, dan anak. Keluarga yang kompleks itu bisa saja, seorang anak yang hanya dibesarkan oleh single mom atau single dad, atau bahkan memiliki lebih dari satu ayah atau ibu, misalnya, karena pernikahan kedua, ketiga, dan seterusnya. Anak yang tumbuh di keluarga poligami, anak yang lahir di luar hasil pernikahan.
Contoh lain, kita sebagai orang tua, membesarkan anak tiri atau anak angkat, menikah dengan pria yang sudah punya mantan-mantan istri, atau berada dalam situasi pernikahan di ujung tanduk.
Gambaran profil keluarga masa kini atau sebutlah ‘modern family’. Hal-hal yang tadinya dipandang tabu, dipersepsi tak pada tempatnya, mendadak menjadi makin umum. Apa yang tadinya dipandang aneh atau tidak wajar, kini telah menjelma menjadi ‘the new normal’.
Ada pula, karena tuntutan ekonomi membuat seorang anak harus dibesarkan oleh kakek-neneknya, sementara kedua orang tuanya harus bekerja. Contoh lain, pernikahan jarak jauh, yang membuat keluarga tidak bisa hidup satu rumah. Realitas tersebut terkadang merupakan sebuah konsekuensi yang tak bisa dihindari.
Retaknya keluarga karena perceraian adalah salah satu fakta yang menyebabkan kompleksitas ini terjadi. Sejak tahun 2010, angka perceraian di Indonesia mencapai 285.184 kasus. Dalam empat tahun terakhir jumlahnya meningkat 52%, menjadi 382.231 (Puslitbang Kementerian Agama, 2014). Artinya dalam sehari terjadi 1.047 perceraian di Indonesia!
Tren ini kecenderungannya meningkat. Di tahun 2014, jumlah pasangan yang melakukan talak serta gugat cerai mencapai angka 344.237. Penyebabnya beragam, KDRT (fisik dan emosional), perselingkuhan, ekonomi, poligami, penelantaran keluarga, perselisihan dengan keluarga besar, atau juga karena suami yang lalai dalam memenuhi kewajiban, itulah beberapa alasan di balik terjadinya kasus perceraian.
Sosiolog keluarga dari Universitas Indonesia, Erna Karim, melihat, sekarang telah terjadi perubahan sosial dalam masyarakat. Tuntutan era serba cepat, di mana setiap orang harus berjuang untuk mendapat akses penghidupan yang layak. Hal ini sedikit banyak ikut berpengaruh terhadap bagaimana orang sekarang mempersepsi makna keluarga idealnya. Semua kondisi tersebut merupakan indikasi logis dari berkembangnya era industrialisasi dan teknologi yang menjadi roda modernisasi.
Orientasi dalam kehidupan berkeluarga pun mengalami pergeseran. Bukan lagi, mengacu pada kesatuan dua individu, melainkan berorientasi keluar. Orang tidak mau dikekang keinginannya untuk beraktualisasi ataupun berprestasi. Kalaupun itu harus mempertaruhkan keluarga. Menurut Erna, era industri ini juga membuat keterlepasan ikatan dari keluarga extended. Tetapi, lebih mengarah ke keluarga conjugal, yakni keluarga mandiri di mana apa pun yang terjadi diputuskan sendiri oleh pasangan.
Tak dipungkiri, profil keluarga yang kompleks ini pun disadari oleh para pendidik di sekolah. Menurut RB. Sutarno, Guru di SD Paskalis, Jakarta Pusat, mengatakan, keluarga yang non-konvensional tak selamanya berdampak negatif pada anak. Ada pula sisi positif. Misalnya, anak menjadi terpicu untuk belajar keras karena menyadari ayah atau ibunya yang telah berjuang keras untuk menyekolahkan mereka.
Sebaliknya, anak-anak yang berperilaku agresif atau nakal, tak selamanya berasal dari keluarga ‘retak’, tapi juga dari keluarga yang utuh namun kurang memberi perhatian pada anak atau kerap memberi tekanan psikologis pada anak, sehingga mereka tumbuh menjadi anak-anak ‘bermasalah’.
Jessica (28) tumbuh di keluarga poligami. Ibunya adalah istri ke-2 dari empat orang istri. Ia merupakan putri tunggal dari ibunya, dengan tujuh saudara tiri dari ketiga istri ayahnya yang lain. Ia mengaku tidak tahu pasti jumlah istri dan anak-anak ayahnya. Tetapi, setidaknya, merekalah selama ini yang pernah bersosialisasi dengannya.
Setelah dewasa, bagaimana Jessica menyikapi kondisi keluarganya? “Efeknya terasa hingga sekarang. Perasaan trauma itu memengaruhi hubungan saya dengan sekitar, salah satunya pasangan,” ungkap Jessica, saat ditanya tentang trauma pribadinya tumbuh di tengah keluarga poligami seperti dirinya. Tidak hanya dirinya, tapi juga pada saudara-saudara tirinya.
“Dari semua kakak tiri saya yang telah berada di usia menikah, baru satu orang saja yang berani mengambil komitmen itu,” lanjutnya.
Saat ini, Jessica merasa bahwa hubungannya dengan sang ayah terbilang baik-baik saja. Ia bisa menceritakan semuanya, mulai dari urusan pekerjaan hingga pacaran. Tetapi, ia mengakui, ada satu episode dalam hidupnya, saat ia membutuhkan seorang ayah, sosok itu tidak ada.
“Bisa saja kami tidak bertemu hingga setahun, padahal sama-sama di Jakarta,” kata Jessica, tentang sang ayah.
Dalam hal ini, Salmaa Chetisza Muchtar dan Salwaa Chetisza Muchtar (20), putri dari artis Titi DJ, termasuk yang sangat beruntung. Meskipun telah bercerai, kedekatan ayah-anak tetap berlanjut. “Kami bisa bertemu dan menghubungi mereka kapan saja. Begitu juga sebaliknya. Sejak awal Mama tidak pernah melarang-larang,” jelas Salmaa.
Saat weekend tiba, mereka bisa saja menginap di rumah sang ayah dan menghabiskan waktu di sana. Begitu juga saat ada masalah dan membutuhkan masukan dari sosok ayah, mereka selalu tersedia bagi mereka.
Bahkan, untuk mengambil keputusan penting, seperti urusan memilih sekolah mereka, ibunya selalu berdiskusi dengan Bucek dan Andy, sebagai ayah mereka.
Sekarang, ketika Daffa dan Stephani, adik Salmaa dan Salwaa, mulai mengambil pekerjaan di dunia hiburan, kedua ayah mereka juga diikutsertakan. “Papa Bucek dan Daddy ingin agar kami menomorsatukan sekolah,” jelas Salwaa, memberi contoh.
Memang, tidak semua keluarga memiliki keistimewaan seperti yang dimiliki oleh Salmaa dan Salwaa. Dalam kondisi terburuk, hidup dalam keluarga yang mengalami disfungsi bukanlah hal mudah. Terkadang hanya menyisakan dua pilihan, yaitu bertahan atau tenggelam dalam berbagai emosi negatif. (f)
Topic
#saudara



