Family
Kasus Reza Artamevia dan 3 Cara Menyiapkan Anak Menghadapi Kabar Buruk

4 Sep 2016


Foto: Fotosearch

Awal pekan ini, penyanyi Reza Artamevia tertangkap di sebuah hotel dan setelah melalui tes urine, ia dinyatakan positif mengonsumsi narkoba. Lama tak terdengar, kabar ini tentu mengejutkan publik. Keluarganya pun ikut menjadi sorotan, termasuk putrinya yang langsung diserbu media massa dan ditanyai tentang gaya hidup sang ibu.

Menurut jurnal ilmiah Pediatric Annals (Krugman & Wissow, 1998), anak-anak dengan orang tua yang memiliki masalah emosi dan perilaku butuh perhatian khusus untuk mencegah timbulnya masalah serupa pada diri mereka. Apalagi, 10 dari 20% orang dewasa setidaknya pasti mengalami satu episode depresi akut dalam hidupnya. Saat orang tua mengalami masa-masa krisis, anak serta merta menjadi korban pertama. Diperkirakan ada 2 juta anak di dunia yang tercatat mengalami kekerasan atau pelecehan oleh pengasuhnya atau orang tuanya.

Baca juga:
Kenali Pertanda Depresi
Gejala Depresi dan Gangguan Depresi

Orang tua yang bermasalah cenderung kehilangan fokus pada anaknya, dan kalaupun ada, biasanya mereka memberikan perhatian dengan nada negatif pada anak. Lebih jauh lagi, saat krisis orang tua tidak menjalankan perannya membantu anak dalam fase perkembangan penting, seperti belajar memecahkan masalah, atau melatih  mengendalikan emosi dan perilakunya.

Dalam hidup, kita tak pernah tahu bagaimana dan kapan musibah dan tragedi akan menghampiri keluarga kita.  Ada cara untuk menyiapkan anak menghadapi kabar buruk atau situasi krisis.
Ini 3 langkah yang bisa Anda lakukan:

1/ Matikan televisi. Anak-anak bisa merasakan kecemasan orang tua, baik saat mereka menonton berita tentang tragedi di televisi atau mendengar orang lain membicarakannya. Apalagi berita di televisi terus-menerus diulang, menampilkan wajah orang tuanya sebagai pusat perhatian dengan segala ‘bumbu’ berita yang sebagian mungkin belum tentu benar. Terpapar berita tentang krisis selama berjam-jam bisa membuat seseorang kehilangan harapan, merasa tidak aman, bahkan bisa mengarah ke depresi. Temani anak melakukan kegiatan lain, jauhkan ia dari layar televisi.

2/ “Siapa yang akan mengurus saya?” Pertanyaan itu wajar muncul saat seorang anak mendengar kabar buruk tentang keluarganya, misalnya orang tua akan berpisah, atau salah satu orang tuanya mengalami musibah. Anak bergantung pada orang tua untuk bertahan hidup. Sebagai keluarga terdekat yang menemani mereka, yakinkan bahwa akan ada orang yang mengurus mereka di situasi krisis ini. Ingatkan juga, pihak yang berwenang, seperti polisi atau tenaga medis akan menjaga anggota keluarganya yang terkena musibah.

3/ Kemarahan anak pada situasi krisis sangat manusiawi. Amarah muncul saat seseorang merasa tak berdaya. Sampaikan padanya, tak apa merasa marah, tapi ia tidak boleh melukai dirinya atau orang lain. Dengan memberikan hak anak untuk marah, kita bisa membantunya melakukan hal-hal positif dengan perasaannya. Ini akan berguna hingga ia dewasa. (f)


Topic

#RezaArtamevia

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?