
foto: dok. femina
Laura Dinda merupakan atlet renang kebanggan Indonesia. Pada gelaran Asean Para Games 2017, wanita yang belajar renang sejak usia 7 tahun ini, berhasil mengharumkan nama bangsa. Ia membawa pulang dua medali emas untuk nomor gaya bebas putri 50 meter dan 100 meter. Laura merupakan atlet pertama Indonesia yang berhasil meraih emas dalam pesta olahraga disabilitas se-Asia Tenggara yang digelar di Kuala Lumpur, Malaysia tersebut. Capaian ini mengantar Laura menjadi wakil Indonesia dalam ajang World Para Swimming Championship di Berlin, Jerman tahun 2018. Pada kategori S5 putri, ia meraih dua medali emas di 50 meter gaya punggung dan gaya kupu-kupu, satu medali perak di 50 meter gaya bebas, dan satu medali perunggu di 200 meter gaya bebas.
Berkat prestasi gemilang tersebut, Laura sering diundang oleh berbagai instansi untuk mengisi acara sebagai motivator. Laura senang mendapat kesempatan untuk memotivasi orang lain. “Sebenarnya semua orang punya potensi dalam diri, tapi bagaimana cara kita bisa menggali talenta yang sudah kita punya," katanya semangat.
Pencapaian wanita kelahiran 22 September 1999 ini tidak terjadi begitu saja. Ada peristiwa pilu di balik prestasinya. Sebelum peristiwa naas yang menimpanya pada tahun 2015, Laura adalah atlet renang. Tepat satu hari sebelum Pekan Olah Raga Pelajar Daerah (POPDA) di Semarang, ia mengalami kecelakaan, terjatuh saat berada di kamar mandi. Akibatnya, ia mengalami cedera tulang belakang. Usai peristiwa itu, ia masih bisa beraktivitas normal. Satu bulan kemudian saat sedang membungkuk untuk menjangkau ponselnya, Laura merasakan nyeri luar biasa. Saat diperiksa dokter, ternyata tulang belakangnya patah.
“Sejak jatuh sudah patah, tapi masih in line, masih satu garis. Gara-gara gerakan itu tulangnya jadi terpisah," ujar wanita yang menjadi atlet sejak usia 9 tahun tersebut. Kondisi tersebut menurunkan fungsi dan kekuatan motorik bawah Laura. Ia tak mampu lagi berjalan.
Mendapati kenyataan dirinya tak lagi bisa menggerakkan kaki, Laura mengaku sempat depresi hingga berbula-bulan, bahkan sampai ingin bunuh diri. Emosinya tak terkontrol, ia kerap membanting barang dan marah pada semua orang yang ditemui. Teman-teman yang datang menjenguk dan berusaha menghibur juga jadi sasaran amarah. “Mungkin karena tidak bisa melakukan apa-apa jadi saya melampiaskannya dengan marah-marah”, tambah Laura.
Laura sempat enggan kembali ke dunia renang. Wanita kelahiran Pekanbaru ini punya stigma negatif terhadap atlet disabilitas. “Pandangan saya olahraga disabilitas itu adalah olahraga main-main. Hanya sekadar apresiasi untuk kaum disabilitas”, kenangnya. Namun, seorang pelatih renang dari National Paralympic Committee, Gatot Doddy Jatmiko membuat Laura beranikan diri kembali ke dunia olahraga. Gatot mengungkapkan keyakinannya bahwa Laura justru akan lebih sukses sebagai atlet disabilitas.
Latihan berenang dengan keterbatasan fisik bukanlah hal mudah. “Wah susah sekali. Saya nangis terus awalnya. Karena dulu saya renang tapi bisa mengendalikan seluruh bagian tubuh. Sekarang kaki saya tidak bisa diatur dan menjadi beban”, kata wanita berdarah Bali ini. Kesabarannya membuahkan hasil. Lambat laun Laura bisa berenang kembali dengan cepat. “Tangannya harus lebih kuat. Padahal dulu waktu normal, saya kuat di kaki”, jelasnya.
Kejuaraan pertama yang ia ikuti adalah Pekan Paralimpik Nasional (Peparnas) ke XV di tahun 2016. Dalam kompetisi tersebut Laura menyabet 2 medali emas dan 1 medali perak. Selanjutnya Laura berhasil raih 2 medali emas dalam Asean Para Games 2017. Menjadi atlet Indonesia pertama yang membawa pulang emas di pesta olah raga disabilitas se-Asia Tenggara membuat semangat Laura bangkit sepenuhnya. “Senang banget karena itu pelatnas pertama yang sudah berbulan-bulan diperjuangkan. Ternyata berhasil. Jadi pay off-nya sangat terasa," katanya bangga.
Pengalaman hidup tersebut membuat atlet pembawa bendera merah putih kontingen Indonesia pada opening ceremony Asian Para Games 2018 ini lebih bijak hadapi masalah. “Satu lebih mensyukuri hidup. Kedua engga banyak mengeluh,” ujar Laura.
Kini wanita yang tercatat sebagai mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada ini tengah sibuk jalani kuliah. Laura tidak punya target khusus di dunia renang.”Renang itu suatu hobi yang puji Tuhan bisa menghasilkan. Renang membantu mengharumkan negara di tingkat dunia. Tapi menurut saya renang itu tidak membantu orang lain," jelasnya. Jiwa sosial yang tinggi membuat Laura ingin menjadi psikolog. “Saya ingin hidup itu ada gunanya. Apa yang Tuhan berikan harus kita salurkan pada orang lain. Dan saya ingin menyalurkannya lewat bidang psikologi,” pungkasnya. (f)
BACA JUGA:
Madeline Stuart, Model Profesional Penyandang Down Syndrome di Fashion Week Dunia
Inilah Kisah Tria Aditia Utari, Pramugari Garuda Indonesia yang Selamat dari Gempa dan Tsunami Palu
Sumarsih 20 Tahun Menagih Keadilan Lewat Aksi Kamisan
Topic
#atletrenang , #atletdisabilitas, #disabilitas, #atletberprestasi



