
Funnywati Sucipto (43) adalah wanita aktif dengan karier cemerlang di sebuah rumah produksi kenamaan. Semuanya berubah saat dokter menjatuhkan vonis bahwa kedua matanya terancam kebutaan. Semua terapi telah dijalaninya, tapi seolah membentur tembok keputusasaan. Penyakitnya makin parah!
Funny tiba pada satu kesadaran yang mengubah skenario rencana hidupnya. Menuntunnya melalui lorong berujung cahaya. Sebuah tekad hidup baru yang akan ia abdikan bagi sesama. Berbekal kecintaannya pada pempek, masakan khas tanah kelahirannya, ia menjadi kepanjangan tangan bagi kaum dhuafa yang tergeletak tak berdaya. Kepada femina, ia berkisah.
AWALNYA MIRIP FLU
Sekitar awal Juni 2015, saya merasa pusing selama beberapa hari. Hidung terasa seperti ditusuk-tusuk dan kedua kening persis di atas mata terasa amat sakit. Saya berpikir, mungkin saya kena sinusitis, sehingga saya putuskan untuk periksa ke dokter ahli THT. Hasilnya negatif, saya tidak terkena sinusitis. Saya lega.
Namun, di suatu malam, gejala yang sama terulang lagi. Mengira akan kena flu, saya meminum obat flu. Ditambah istirahat cukup di malam hari, saya berharap bisa kembali segar di pagi hari. Maklum, pekerjaan kantor saya sedang bertumpuk, tidak mungkin rasanya jika saya besok minta izin sakit.
Pagi harinya, saat membuka mata, saya terkejut bukan main. Ada bayangan berupa bulatan besar berwarna merah menutupi mata sebelah kanan, dan itu sangat mengganggu pandangan saya. Perlahan, saya kucek mata, berharap bayang itu akan hilang. Bukannya lenyap, bayangan merah itu malah melebar dan makin menutupi pandangan. Saya panik. Apa yang terjadi dengan mata saya?
Selama ini saya memang mengenakan kacamata minus, tapi belum pernah mengalami kejadian seperti ini. Memang, pada beberapa kesempatan tiap membaca pandangan saya tidak fokus. Tulisan yang sedang saya baca bergetar sehingga menjadi kabur. Waktu itu saya pikir mata saya sedang lelah saja akibat bekerja berjam-jam di depan layar komputer tiap hari.
Keringat dingin mengalir deras. Beberapa saat saya tidak bisa melihat apa-apa. Hanya ada bayangan merah yang sangat besar. Air mata saya mulai mengalir deras. Apa saya akan jadi buta? Kenapa saya bisa mengalami ini? Bagaimana hidup saya selanjutnya? Hati saya menjerit.
Setelah berusaha menenangkan diri, saya mencoba bercermin. Dengan mata kiri, saya perhatikan, bahwa meski mata kanan saya seolah tertutupi bayang merah, di cermin terlihat bening-being saja. Dengan kondisi mata yang tidak berfungsi maksimal, saya bergegas menyetir mobil sendiri menuju rumah sakit mata. Sengaja saya memilih rumah sakit mata dekat kantor, agar setelah memeriksakan diri bisa langsung masuk kantor.
Deg, saya langsung lemas dan merasa takut sekali, ketika dokter mengatakan ada pembuluh mata yang pecah di mata kanan. Untuk menghentikan perdarahan, dokter menyarankan agar saya diterapi dengan sinar laser. Saya setuju saja dengan saran dokter dan meminta untuk dilakukan saat itu juga.
Selesai pengobatan, dokter mewanti-wanti agar saya istirahat dulu dan tidak diperbolehkan memakai komputer atau menyetir mobil selama beberapa waktu. Menyetir mobil, walaupun siang hari akan membahayakan mata saya, karena di saat menyetir mata harus selalu aktif mengawasi jalan. Sedangkan bila menyetir di malam hari, kalau kena sorot sinar lampu, mata akan terasa sangat pedih.
Saya melanggar pesan dokter. Karena telanjur membawa mobil sendiri, saya nekat saja menyetir mobil menuju kantor. Saya juga tetap bekerja seperti biasa di kantor dengan hanya menggunakan satu mata, yaitu mata kiri. Walau sangat menyiksa, saya tetap berusaha bertahan bekerja sampai selesai. Benar saja, dalam perjalanan pulang, sorot lampu membuat mata saya terasa sangat pedih. Tapi, berusaha saya tahan. Siapa tahu, setelah dibuat tidur, keesokan hari mata saya akan membaik.
Memang, selama beberapa hari berikutnya mata saya kembali normal. Sampai pada suatu malam, saat sedang menyetir mobil sepulang kantor, kira-kira pukul sembilan malam. Posisi saya di sekitar daerah Pasar Senen, Jakarta Pusat masih cukup jauh dari rumah yang di daerah Cengkareng, Jakarta Barat. Tiba-tiba saya melihat ada serangkaian benang hitam di mata kanan saya.
Saya mencoba melirikkan mata ke arah kanan, tapi bayangan serupa benang hitam itu hilang. Saat itulah saya menyadari bahwa mata saya mengalami perdarahan lagi! Dengan rasa takut yang amat sangat, saya ngebut menuju rumah abang saya di Cengkareng. Saya segera ditolong oleh abang saya dengan cara akupunktur quantum. Puji Tuhan, pandangan mata saya kembali terang.
SINAR DI TENGAH GULITA
Kejadian malam itu membuat saya lebih berhati-hati menjaga kondisi mata. Begitu mata taerasa lelah, saya langsung menghentikan kegitan dan beristirahat, terutama setelah beberapa jam bekerja di depan komputer. Saya juga membatasi diri hanya menyetir mobil ke kantor.
Beberapa hari semua berjalan baik. Saya mulai merasa tenang. Namun, seminggu kemudian terjadi perdarahan lagi, mata saya dilaser lagi. Saya bingung dan khawatir. Apa yang akan terjadi kalau kondisi mata saya terus begini? Sementara itu saya juga harus tetap bekerja. Saya tidak mau menyusahkan orang lain. Sebab, meski terlahir bungsu dari lima bersaudara, saya sudah terbiasa hidup mandiri.
Sejak bekerja sambil kuliah di Jakarta, saya berusaha tidak bergantung kepada siapa pun, meskipun itu kakak-kakak kandung yang tinggalnya juga di Jakarta. Saya juga tidak ingin menyusahkan Mama yang sudah hidup sendiri di kampung. Tekad saya, ingin membahagiakan Mama di hari tuanya. Saya ingin mengajak Mama keliling dunia. Jadi, bagaimana dengan cita-cita saya untuk menyenangkan Mama, kalau kondisi kesehatan mata saya makin hari makin memburuk?
Meski saya di Jakarta dan Mama di kampung, kami aktif menjalin komunikasi. Untuk menjaga perasaan Mama, saya terkadang tidak menceritakan kondisi kesehatan mata saya yang sebenarnya. Saya tidak ingin Mama sedih. Namun, tidak bisa disangkal intuisi seorang ibu. Di saat kondisi saya sedang tidak baik, Mama pasti menelepon dan mencecar saya dengan pertanyaan, yang membuat saya mau tak mau bercerita kondisi yang sebenarnya.
Mama betul-betul shock demi mendengar mata saya sudah beberapa kali mengalami perdarahan. Beliau rupanya merasa cemas dan amat sedih, hingga jatuh sakit dan harus masuk rumah sakit. Ditemani abang tertua, saya memutuskan untuk pulang ke Lubuk Linggau, Sumatra Selatan, menjenguk Mama. Saya berusaha yakinkan Mama bahwa kondisi saya tidak separah yang beliau bayangkan. Setelah Mama sehat dan pulang dari rumah sakit, saya baru memutuskan untuk kembali ke Jakarta.
Pagi itu, saat sedang menunggu boarding di bandara Lubuk Linggau, tiba-tiba saya merasa ada yang jatuh di mata saya. Saya tersentak, jangan-jangan perdarahan lagi, nih! Saya gelisah sekali. Apalagi itu hari Minggu, berarti dokter tidak praktik dan saya tidak bisa langsung kontrol. Sampai di Jakarta, Abang membantu saya dengan terapi akupunktur quantum. Setelah diterapi, saya merasa agak tenang dan segera tidur.
Tapi, kondisi membaik ini hanya sementara. Sore harinya, saat menyetir mobil, mata saya kembali mengalami gangguan penglihatan. Saat memeriksakan diri keesokan harinya, dokter mengatakan bahwa perdarahan di mata saya kali ini luar biasa parah. Saya sampai tidak bisa membaca tulisan di layar monitor refraksi. Pantas saja, ternyata jarak pandang saya hanya seperempat, itu pun harus di bawah sinar yang terang benderang.
Saya kembali menjalani terapi laser, dan kali ini sangat menyakitkan. Saya pulang dari dokter dengan ketakutan luar biasa. Bayangkan, saat itu saya tidak mengenali lagi jalan yang biasa saya lalui, karena terbatasnya pandangan saya. Saya hanya bergantung pada mata kiri. Tidak ada lagi sinar yang masuk ke dalam mata kanan saya sejak malam itu.
Badan saya sampai bergetar menahan perasaan sedih, takut dan berbagai rasa yang sangat melemahkan semangat saya. Abang meminta saya untuk menginap sementara di rumahnya. Saya terpaksa menyerah, karena kondisi saya kali ini sangat parah. Saya tidak ingin keadaan lebih buruk hanya karena bersikeras tinggal di rumah sendirian.
Dari hari ke hari kondisi mata saya bukannya membaik, malah makin parah. Dokter menyarankan saya untuk istirahat selama 10 hari. Rasa takut yang amat sangat terus mendera. Saya stres berat. Sampai kapan saya dalam kondisi sakit seperti ini? Bagaimana saya bisa bekerja dan mencari uang kalau saya terus- menerus sakit? Saya tidak ingin menggantungkan hidup saya pada siapa pun.
Demi mengurangi perdarahan, saya terus mengonsumsi ramuan Cina. Untuk menstabilkan tekanan darah, dokter menyarankan untuk tidak mengonsumsi makanan yang mengandung penyedap, pengawet, dan harus mengurangi garam. Selama sebulan saya hanya makan sup wortel dan jagung dengan sedikit garam. Akibatnya, berat badan saya turun drastis.
Mama terus mengkhawatirkan kesehatan juga keuangan saya. Suatu hari Mama mengirim uang sebesar Rp2 juta ke rekening saya, abang saya memberi Rp3 juta. Saat itu saya merasa terpukul sekali. Sebab, untuk mendapat uang Rp100.000 saja bukan hal yang mudah bagi Mama. Belakangan saya tahu, Mama menjual perhiasannya. Selama ini saya berusaha memberi Mama uang dari hasil kerja saya. Tiba-tiba, sekarang Mama malah memberi saya uang untuk berobat. Saya malu dan merasa terpukul sekali.
Dalam kondisi amat sedih dan tak berdaya ini saya seperti berada di ruang yang gelap gulita. Separuh bagian dari diri saya merasa bahwa hidup saya kurang bermakna. Tetapi, separuh lainnya ada dorongan kuat untuk segera bangkit. Tiap malam, menjelang tidur, saya sempatkan mendengarkan lagu-lagu rohani Buddhis. Tiap pagi, saya juga membaca kalimat-kalimat motivasi yang mengingatkan saya untuk terus bersabar dan tetap menjaga api semangat hidup.
Pelan namun pasti, kalimat-kalimat penyemangat itu mengikis kegalauan dan rasa putus asa saya. Hingga pada suatu hari, terpikir untuk mengawali sebuah proyek sederhana dengan memanfaatkan apa yang ada dalam kehidupan saya. Saya punya keluarga di Lubuk Linggau yang menjual pempek. Pempeknya enak sekali, cukonya juga kental. Sedap. Saya akan coba pasarkan pempeknya. Dari situ, saya bisa mengambil keuntungan sedikit, lalu saya bagikan sebagian keuntungan itu untuk orang yang tidak mampu.
Seketika saya merasa bahagia, seperti keluar dari lorong gelap menuju terang. Misi saya ini bersambut baik. Famili saya bersedia menyediakan pempek berapa pun yang saya pesan. Melalui beragam media sosial saya coba tawarkan pempek kepada teman-teman saya dan mulai membuka pesanan. Tiap pempek yang terjual, saya mengambil keuntungan Rp1.000, dan setengahnya, yakni Rp500, akan saya sisihkan untuk membantu orang dhuafa. Siapa pun dia.
Memutuskan Operasi
Lebih dari sebulan saya menjalani pengobatan alternatif akupunktur seluruh tubuh. Kemajuan mulai terasa. Saya sudah bisa melihat huruf H dari jarak tiga meter. Namun, kekecewaan mendalam kepada seorang pria yang saya anggap lebih dari sekadar teman, membuat saya terguncang. Emosi yang hebat ini membuat mata saya kembali mengalami perdarahan.
Saya sempat mengambil cuti dan mengajak Mama ke Bangkok. Sambil berwisata, saya juga mengantar Mama operasi katarak di sana. Saya coba menjalani terapi suntik bola mata di Bangkok. Terapi itu tidak mampu menghentikan perdarahan di mata saya. Dokter di Bangkok menyarankan untuk operasi saja, tapi saya terpaksa menggeleng. Saya tidak punya dana untuk membayar biaya yang cukup mahal. Lagi pula, kemungkinan keberhasilannya hanya 50:50.
Saya harus lebih sering mengencangkan ikat pinggang. Karena tak sanggup terus-menerus membayar taksi yang mahal, saya sempat naik ojek ke kantor. Tetapi, karena rawan kecelakaan, akhirnya saya menyewa mobil murah, yaitu mobil yang sehari-hari digunakan untuk mengangkut ikan ke pasar. Tidak masalah jika kendaraan menebarkan bau amis ikan, yang penting saya aman sampai kantor.
Rasa sakit di bola mata terus datang dan pergi, juga ketika saya sedang bekerja di kantor. Hal ini mengundang keprihatinan teman-teman saya, termasuk seorang teman Facebook saya di Singapura yang menjadi manajer sebuah rumah sakit di sana. Berbekal nama dokter yang direkomendasikannya, saya berangkat ke Singapura ditemani Mama dan kakak perempuan saya. Saya berharap mata saya bisa sembuh tanpa harus operasi. Karena, biaya operasi sangat mahal, sekitar Rp.210 juta. Jumlah yang terlalu fantastis bagi keuangan saya.
Sama dengan dokter di Bangkok, dokter di Singapura menyarankan saya untuk segera operasi. Kalau tidak, akan terjadi komplikasi yang lebih parah. Karena menurut dokter, selain perdarahan akan terus berlangsung, retina mata saya juga sudah lepas seperempat. Saya tidak punya pilihan lain. Apalagi sakitnya luar biasa. Kali ini, dokter mengatakan bahwa kemungkinan keberhasilan operasinya 95%. Berita yang membangkitkan optimisme saya.
Ketika klain asuransi saya ditolak, Tuhan tidak tinggal diam. Ia menyentuh hati teman dan para kerabat yang dengan ringan tangan memberikan pinjaman. Operasi pun bisa segera dilaksanan. Saya ditangani oleh seorang dokter yang luar biasa sabar dan cermat dalam memeriksa saya. Rasa takut saya berganti rasa aman dan nyaman. Saya seperti melihat sosok almarhum ayah saya pada diri dokter keturunan India itu.
Puji Tuhan, operasi berlangsung lancar dan sukses. Kondisi mata saya berangsur membaik. Setelah berhenti menyetir selama empat bulan, akhirnya saya bisa menyetir mobil kembali. Awalnya masih kagok, karena terbiasa hanya mengandalkan mata kiri, saya kerap nyaris menabrak untuk arah kanan. Tapi, perlahan, semua kembali normal dan saya sudah bisa beraktivitas seperti sediakala. Saat ini saya harus ekstra hati-hati menjaga kondisi mata. Saya juga tidak mau terlalu memforsir diri saat bekerja. Apabila terlalu lelah, padangan saya mulai terasa kabur.
Seiring mulai pulihnya kondisi mata saya, bisnis pempek saya terus berkembang. Pesanan terus datang sampai pernah pembuat pempek di kampung meminta saya menghentikan pesanan sementara, karena mereka kehabisan tempat untuk membekukan pempek. Yang membuat terharu, pemesan tidak hanya dari Jakarta, tapi sampai seluruh kota besar di Indonesia. Bahkan ada yang bermukim di Singapura, Bangkok, dan Amerika! Pengirimannya dibantu oleh keluarga mereka yang tinggal di Indonesia.
Dengan menyisihkan sebesar Rp500 untuk donasi dhuafa, di tahap pertama saya berhasil mengumpulkan dana sebesar Rp455.000, yang kemudian saya genapi menjadi Rp500.000. Berdasarkan usulan seorang teman yang aktivis sosial, kami menggunakan dana itu untuk mengundang 30-an anak jalanan menikmati buka puasa bersama pada Ramadan 2015 lalu. Meski jumlah sumbangan yang terkumpul tidak begitu fantastis, melihat wajah-wajah mereka yang ceria menerbitkan rasa haru yang luar biasa. Tuhan telah mengizinkan saya berbagi dengan sesama.
Kini, sudah ribuan pempek yang terkirim tiap minggu, dan sudah ratusan penerima bantuan yang terangkul dari donasi yang terkumpul. Bila awalnya saya minta bantuan seorang teman, sekarang saya sudah bisa memutuskan sendiri. Sungguh membahagiakan tiap minggu bisa membuat orang lain merasa terbantu. Mulai dari anak jalanan di Jakarta, panti asuhan di Magelang, lima keluarga tunanetra di Bekasi, anak penderita kanker mata di Yogya, kakek buta penjual sapu lidi di Rancaekek Bandung, pengemudi becak yang istrinya terkena stroke di Lubuk Linggau, sampai kakek penjual kerupuk di Lampung. Tak hanya pempek, kini saya juga memasarkan keripik tempe yang keuntungannya juga saya bagi untuk sesama.
Kalau dipikir-pikir, mungkin inilah jawaban dari doa saya saat di Bangkok. Waktu itu dengan kondisi tidak bisa melihat, saya berdoa di kuil, agar dibukakan pintu maaf saya untuk orang lain, bisa memperbanyak cinta kasih dan belas kasih dalam hidup saya. Dan semua kini bisa terwujud dengan beramal lewat pempek!(f)
Marlini Hasan




