
Foto: Stocksnap.io
Senjata api kembali memakan korban di Amerika Serikat. Ironisnya, bukanlah sebuah tindak kriminalitas atau kekerasan, apalagi terorisme. Seorang balita bernama Mariah Davis meninggal dari pistol di tangannya sendiri. Tragedi ini terjadi di sebuah rumah keluarga di Detroit, 11 Mei lalu. Saat itu, kedua orang tua si bocah sedang tak di rumah. Kakek dan neneknyalah yang sedang menjaganya. Di malam hari, sang nenek memasak di dapur. Si kecil Mariah tengah bermain dengan dua saudaranya, yang masing-masing berusia 1 dan 3 tahun.
Secara tak sengaja, Mariah menemukan pistol di bawah bantal neneknya. Karena penasaran, ia memainkan pistol yang ternyata di dalamnya berisi selongsong peluru. Kakeknya yang sedang berada di lantai atas, terkejut ketika mendengar suara tembakan dan segera berhambur menuju kamar Mariah. Betapa terkejutnya ia ketika mendapati senjata api sudah melukai Mariah, hingga akhirnya menewaskannya. Kedua anak yang bersama Mariah, tak mengalami luka.
Peristiwa penembakan karena anak yang memegang senjata api bukan pertama kalinya terjadi di Amerika. Selama tahun 2016 saja, terhitung ada 88 peristiwa penembakan karena senjata api jatuh ke tangan anak-anak. Sebagian besar di antaranya, mengakibatkan kematian si anak ataupun orang tuanya. Secara rata-rata, di Amerika Serikat, 9 anak menjadi korban tembakan setiap harinya, dan 7 di antaranya meninggal.
Hal yang sangat disayangkan, kejadian ini sebetulnya bisa dicegah dan tingkat kematian anak karena penembakan bisa dihindari. Sekarang di Amerika sedang ada wacana untuk mengkriminalisasi orang dewasa yang gagal mencegah senjata api jatuh ke tangan anak. (f)




