Foto: pixabayMeski pandemi masih berlangsung dan seluruh dunia terus berusaha untuk memerangi COVID-19, di sana sini mulai tampak titik terang.
Vaksin dan obat spesifik untuk COVID-19 memang belum ada, tapi bukan para ahli medis terus berusaha dengan menguji berbagai obat. Salah satu yang kini diuji adalah terapi menggunakan convalescent plasma (CP)) yaitu terapi menggunakan plasma darah dari pasien yang telah sembuh total dari COVID-19.
Dilansir di Journal of Korean Medical Science, dua pasien berusia 71 dan 67 tahun Korea Selatan berhasil sembuh setelah mendapat terapi CP. Kedua pasien tersebut termasuk yang mengalami gejala parah, pneumonia. Pemberian obat antivirus dan antimalaria tidak memberi hasil yang diharapkan. Setelah Korea Centers for Desease Control and Prevention mengumumkan mulai menguji terapi CP, mereka masing-masing mendapat 500 ml CP yang diberikan selama 12 jam, bersama obat steroid.
Sebelumnya ini lebih dulu dilakukan di Tiongkok. Uji coba yang dilakukan di Tiongkok terhadap lima pasien berusia 36 - 65 tahun berhasil sembuh setelah mendapat perawatan dengan convalescent plasma, seperti dilaporkan dalam Journal of the American Medical Association (Maret 2020).
Hal ini mendorong medis di Amerika Serikat untuk melakukan hal sama. Dikutip dari NPR.org, hal ini sudah disetujui dan akan dipimpin oleh FDA. Program ini melibatkan Mayo Clinic dan American Red Cross, dan mendapat pendanaan dari Biomedical Advanced Research and Development Authority. Mereka meluncurkan website untuk menerima pendaftaran bagi mereka yang ingin menyumbangkan plasma.
Terapi menggunakan plasma ini bukan hal baru. Pendekatan ini telah dilakukan sejak tahun 1890 untuk mengobati flu pada masa itu. Terapi CP juga pernah digunakan untuk merawat pasien SARS dan Ebola.
Pada prinsipnya, tubuh kita memiliki sistem imun yang menciptakan antibodi yang dibangun untuk melawan virus. Saat seseorang memiliki antibodi yang didapat sebagai respon dari infeksi atau dari vaksinasi, mereka disebut memiliki imunitas aktif. Jadi kali lain virus itu datang lagi, tubuh sudah punya senjata untuk melawannya. Imunitas aktif itu ada yang bersifat lama bahkan selamanya.
Sementara convalescent plasma atau terapi antibodi pasif disebut juga imunitas pasif. Ia akan memberikan antibodi secara segera setelah diberikan, tapi hanya bekerja selama beberapa minggu hingga beberapa bulan.
Dikutip dari CNBC, Mayo Clinic CEO Dr. Gianrico Farrugia mengatakan antibodi tersebut dapat menetralisir virus atau membuat reaksi imun. Jika perawatan ini terbukti efektif, maka ia bisa digunakan untuk mencegah kegawatan pada pasien, juga bisa diberikan pada orang yang berisiko seperti pekerja medis. Antibodi dari orang yang telah sembuh dari COVID-19 itu dapat melindungi tenaga medis yang bekerja di garis depan, selama beberapa bulan.
Hingga Rabu (8/04/2020) di Indonesia diumumkan ada 2956 positif, 240 meninggal dunia, 222 sembuh. Sementara di seluruh dunia ada lebih dari 1,4 juta kasus. (f)
Baca Juga:
Wanita Hamil Rentan COVID-19?
Di Tengah Pandemi COVID-19, Perlukah Memeriksakan Diri ke Rumah Sakit?
Orang Berusia Muda Bisa Menjadi Sumber Penularan
Topic
#corona, #covid19


