Trending Topic
Tradisi Kelulusan Kampus-Kampus di Dunia

30 Jun 2016

Mengenakan toga, menyimak pidato dosen dan rektor, mendengarkan paduan suara, plus mata ortu berkaca-kaca adalah pemandangan lazim saat wisuda. Namun, beberapa kampus di dunia punya tradisi wisuda tambahan selain duduk berjam-jam di auditorium kampus, tuh. Acara lulus-lulusan pun menambah cerita tak terlupakan tentang masa kuliah.
 
Lonceng Spesial (Oglethorpe University)
Setiap mahasiswa yang lulus dari universitas di Atlanta, Georgia, AS ini akan menandatangani satu buku khusus milik kampus. Tapi sebelumnya mahasiswa harus membunyikan lonceng Carillon yang terletak di menara Lupton, dalam komplek kampus. Masalahnya, tidak sembarang orang yang bisa naik ke menara Lupton. Hanya calon wisudawan yang berhak naik ke menara. Itu pun mereka harus mencari kunci yang tepat untuk membuka pintu-pintu di dalam kampus. Pintu ini adalah jalan rahasia menuju menara Lupton. Wah, seru!

Lingkaran ijazah (Smith College)
Umumnya, sih, kita menerima ijazah di podium dan diberikan oleh dosen. Tapi, lulusan kampus khusus perempuan ini menerima dari tangan teman-teman sesame wisudawan. Sebagai bagian upacara wisuda kampus yang berlokasi di Massachusetts, AS ini, wisudawan berkumpul di dekat asrama Laura Scales/Franklin King—asrama kampus. Di situ, mereka berbaris membentuk lingkaran, berurutan dari lingkaran berlapis, dari kecil sampai besar. Lalu masing-masing anggota lingkaran saling mengoper ijazah. Bagi yang telah menerima bisa meninggalkan lingkaran. Tradisi ini dimulai sejak tahun 1911, awalnya bernama Great Ring, lalu Magic Circle, terakhir sebagai Diploma Circle.
 
Jatuhkan arloji (Williams College)
Meramal masa depan bisa dilakukan saat wisuda, seperti kampus swasta di Massachusetts, AS ini. Mereka punya sebuah tradisi  telah dilakukan sejak tahun 1916, nih. Masing-masing wisudawan akan menjatuhkan arloji dari menara kapel kampus setinggi 24 meter. Nah, bila arlojinya rusak (hancur), mereka percaya sebagai tanda bahwa si pelempar arloji akan meraih kesuksesan setelah lulus ini. Kalau nggak, ya…namanya juga tradisi, boleh percaya, boleh tidak.
 
Topi khas doktor (Lund University)
Upacara wisuda besar-besaran universitas di kota Lund, Swedia ini dilakukan terutama bagi lulusan tingkat doktor. Bertempat di katedral kampus, para lulusan mengenakan pakaian hitam-hitam. Bagi pemegang gelar doktor fakultas teologi, hukum, kedokteran, dan teknik, menggunakan topi doctor khas Swedia (doktorshatt). Sedangkan dari fakultas filsafat, mengenakan lingkaran daun pohon Laurel. Untuk menandai kehadiran para doktor baru ini, meriam ditembakan oleh resimen tentara setempat (Wendes Artillery Regiment). Suara meriam ini bakal terdengar, tuh, hampir ke seluruh kota. Tiap fakultas ditandai satu kali tembakan sebagai peringatan bagi pemegang gelar doktor kehormatan dan tiga kali buat lulusan doktor baru.
 
Menghormati nenek moyang (Sungkyunkwan University)
Sejauh apapun langkah kita, jangan pernah melupakan budaya nenek moyang. Itulah makna tersirat ditampilkannya tarian Konfusius tradisional bagi wisudawan salah satu universitas terkemuka di Korea Selatan ini. Tarian ini guna menghormati nenek moyang dalam acara besar seperti kelulusan ini. Tarian ini dilakukan oleh para mahasiswa yang belum habis masa studinya. Uniknya, orang umum bisa menyaksikan tarian ini karena dilakukan sepanjang jalan kota Seoul, sekitar kampus. Penari mengenakan pakaian tradisional Korea bernama Dop’o—pakaian khas cendikiawan Korea.
 
Balap hula hoop (Wellesley College)
Setiap acara wisuda, kampus khusus cewek yang berlokasi di Massachusetts, AS, ini menjalankan tradisi yang berusia ratusan tahun, menggelindingkan hula hoop. Mereka melakukan dengan memakai topi dan toga wisuda. Yang pertama melintasi garis finish, akan diceburkan ke Danau Waban sekaligus dianggap orang pertama dalam angkatannya yang menikah. Saat ini, sih, maknanya sudah berubah. Sang pemenang adalah orang pertama yang sukses. Hmm…apakah Hillary Clinton—alumninya—adalah salah satu pemenangnya? (f)


Topic

#tradisikampus

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?