
Foto: Stocksnap.io
Indonesia disebut-sebut akan mendapatkan bonus demografi pada tahun 2020 – 2030. Istilah bonus demografi digunakan mengacu pada kondisi populasi yang menguntungkan pertumbuhan ekonomi, menurut Maliki, Direktur Perencanaan Kependudukan dan Perlindungan Sosial - Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS), perlu dikoreksi.
“Lebih tepat jika disebut dividen demografi. Karena untuk mendapat keuntungan dari jumlah penduduk perlu investasi jauh-jauh hari,” ujarnya dalam seminar bulanan Ending Child Violence yang diselenggarakan oleh Pusat Kajian Perlindungan Anak (PUSPAKA) dan United Nations Children's Fund (UNICEF).
Anak-anak adalah investasi kita untuk masa depan. Apa yang kita lakukan pada anak-anak kita akan memengaruhi produktivitas mereka di masa datang, yang berarti memengaruhi pertumbuhan suatu negara. Menurut Maliki ada dua skenario besar di bidang human capital yang akan memiliki pengaruh besar dalam pertumbuhan.
Investasi kecil terhadap human capital (pendidikan tidak terlalu tinggi) akan membuat mereka lebih cepat masuk ke bursa tenaga kerja namun produktivitasnya lebih ranedah dan lebih cepat menurun karena daya saing yang lebih rendah. Sementara investasi yang lebih besar terhadap pendidikan, meski lebih lambat masuk bursa kerja tapi memiliki masa produktivitas lebih lama.
“Dalam kaitannya dengan anak-anak, pemerintah berusaha mendorong investasi demi meraih dividen demografi dengan: wajib belajar 12 tahun, menekan jumlah pekerja anak, dan memenuhi hak-hak anak seperti dalam mendapatkan perlindungan dan pendidikan,” ujar Maliki. Lebih jauh ia mengatakan, kekerasan terhadap anak-anak akan memengaruhi performa di sekolah dan produktivitas mereka di masa datang.
Ini disetujui oleh Turro Wongkaren, Kepala Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LD FEB UI). Menurutnya, investasi yang salah akan membuat Indonesia tidak akan mendapatkan dividen demografi.
“Yang perlu diingat, kekerasan pada anak tidak sekadar kekerasan fisik tapi juga berefek pada kesehatan mental, percaya diri, dan rasa aman saat anak tumbuh dewasa. Juga memengaruhi kemampuan saat bekerja,” ujarnya.
“Kekerasan pada anak perempuan akan berefek negatif pada performanya di dunia kerja dan membuatnya lebih mudah berhenti bekerja,” tambahnya. (f)
Baca juga:
Kongres Ulama Perempuan Indonesia: Respons Ulama Wanita Terhadap Isu Kekerasan terhadap Wanita Insiden Perampokan di Pulomas dan 6 Cara Membantu Anak yang Terpapar Kekerasan
Topic
#kekerasan



