Foto: unsplashIsu perubahan iklim yang menggema seantero jagat saat ini membuat semakin banyak konsumen sadar dan ingin ikut berkontribusi dalam melestarikan lingkungan. Ini tak luput dari pengamatan produsen produk. Tidak sedikit produsen kini mulai membuat produk yang lebih ramah lingkungan.
Menurut penelitian tahun 2017 yang dilakukan Unilver bersama lembaga riset di Brazil, Europanel dan Flamingo, sepertiga dari 20.000 konsumen yang survei memilih untuk membeli merek yang mereka yakini melakukan kebaikan terhadap masyarakat dan lingkungan hidup. Dengan makin luasnya pemahaman tentang pentingnya menjaga lingkungan berkat berbagai kampanye di masyarakat, kemungkinan besar persentasenya kini meningkat.
Tak hanya desainer sekelas Stella McCartney yang sejak awal telah menekankan produk yang terbuat dari material ramah lingkungan, perusahaan retail pun ikut melakukan aksi. Uniqlo tak hanya akan mengganti plastik kantong belanjanya, juga akan menerima jaket musim dingin lama dari konsumen untuk didaur ulang. H&M juga meluncurkan lini busana yang terbuat dari serat kulit jeruk, daun nanas, dan alga.

Foto: unsplash
Selama ini industri fashion disebut-sebut sebagai salah satu yang memperburuk kondisi lingkungan hidup. Misalnya dari kapas yang digunakan untuk bahas baku kain, limbah pabrik tekstil yang mencemari lingkungan, hingga sampah fashion yang menambah tumpukan sampah di tempat pembuangan akhir karena sulit terurai secara alami. Langkah yang dilakukan perusahaan retail dan pabrik tekstil bisa memberi dampak positif.
Bukan hanya fashion, industri lain juga mulai menunjukkan perubahan. Unilever baru-baru ini meluncurkan sikat gigi terbuat dari bambu yang bisa diubah menjadi kompos. Nestle pun mengubah sedotan plastik hijau dalam minuman Milo yang khas, menjadi sedotan kertas yang lebih mudah terurai. Sedotan plastik, meski kecil tetap dapat membahayakan lingkungan.
Tak dipungkiri label ramah lingkungan kini menjadi sebagai salah satu keunggulan produk, sekaligus pembeda dari merek lain. Membuatnya sebagai nilai yang meningkatkan daya saing di belantara pasar. Semoga saja ini bukan berarti produk ramah lingkungan bukan sekadar tren pasar, namun perubahan pada konsumen dan produsen itu memang didasari kesadaran produsen untuk berbuat lebih baik bagi bumi.
Jangan lupa, sebagai konsumen Anda pun bisa membuat perubahan. (f)
Baca Juga:
5 Inspirasi Dari Rumah Tradisional Indonesia
Greta Thunberg, Aktivis Lingkungan Termuda yang Gerakkan Jutaan Orang di Dunia
Alternatif Ramah Lingkungan Bagi Pencinta Olahraga
Bukan hanya fashion, industri lain juga mulai menunjukkan perubahan. Unilever baru-baru ini meluncurkan sikat gigi terbuat dari bambu yang bisa diubah menjadi kompos. Nestle pun mengubah sedotan plastik hijau dalam minuman Milo yang khas, menjadi sedotan kertas yang lebih mudah terurai. Sedotan plastik, meski kecil tetap dapat membahayakan lingkungan.
Tak dipungkiri label ramah lingkungan kini menjadi sebagai salah satu keunggulan produk, sekaligus pembeda dari merek lain. Membuatnya sebagai nilai yang meningkatkan daya saing di belantara pasar. Semoga saja ini bukan berarti produk ramah lingkungan bukan sekadar tren pasar, namun perubahan pada konsumen dan produsen itu memang didasari kesadaran produsen untuk berbuat lebih baik bagi bumi.
Jangan lupa, sebagai konsumen Anda pun bisa membuat perubahan. (f)
Baca Juga:
5 Inspirasi Dari Rumah Tradisional Indonesia
Greta Thunberg, Aktivis Lingkungan Termuda yang Gerakkan Jutaan Orang di Dunia
Alternatif Ramah Lingkungan Bagi Pencinta Olahraga
Topic
#ramahlingkungan


