Trending Topic
Pola Konsumsi Masyarakat Pengaruhi Kelestarian Hutan dan Laut

11 Jun 2021


Foto: Unsplash


Hari Kelautan Sedunia yang jatuh pada Selasa, 8 Juni 2021 merupakan momentum tepat untuk memperkuat upaya masyarakat menjaga ekosistem laut Indonesia yang terancam bahaya akibat perubahan iklim dan aktivitas manusia yang berlebihan. Seperti terungkap dalam webinar bertajuk Hutan, Gambut, dan Laut Kita yang diselenggarakan UNDP dan dan UNEP dalam rangka memperingati Hari Kelautan Sedunia dan Hari Lingkungan Hidup Sedunia.

Menurut Dwi Ariyoga Gautomo, koordinator nasional proyek UNDP ATSEA2 (Arafura & Timor Seas Ecosystem Action), kondisi rusak sejumlah biota laut seperti terumbu karang dapat mengancam punahnya populasi ikan besar di laut Indonesia. 

“KLHK dan LIPI merilis hampir 20 persen hutan bakau dan 36 persen terumbu karang di Indonesia berada pada kondisi rusak. Ini berpengaruh pada terancamnya spesies ikan seperti hiu dan ikan pari menuju kepunahan, yang pada akhirnya akan berakibat pada keseluruhan ekosistem laut, dan semuanya memiliki hubungan dengan aktivitas manusia,” ungkap Dwi.

Turut hadir dalam acara ini dekan bidang akademik FTSL ITB dan dosen kelompok keahlian teknik pantai, Nita Yuanita, menyebutkan pentingnya solusi restorasi dengan pendekatan secara alamiah untuk melindungi ekosistem laut. Nita menyampaikan solusi dengan pendekatan ke alam, seperti pemulihan hutan bakau untuk melindungi area pesisir terbukti lebih efisien secara finansial dan sumberdaya lain.”

Rubama, penggiat konservasi komunitas Yayasan HAKA memberikan pandangan mengenai pentingnya keterlibatan wanita dalam upaya restorasi. ”Keterlibatan wanita akan memastikan representasi untuk menjaga keberlangsungan ekosistem dan memastikan sinergi seimbang dalam mengelola hutan,” katanya. Salah satu inisiatif yang dilakukan Yayasan HAKA adalah membentuk kelompok patroli hutan berbasis komunitas. 

Dalam kesempatan ini, para narasumber juga masyarakat untuk mulai mengubah perilaku konsumsi yang akan memberikan dampak besar pada perlindungan kawasan hutan dan laut. “Kuncinya adalah konsumsi secara cukup,” imbau Dwi. 

Ia mencontohkan dalam mengonsumsi komuditas laut misalnya, pastikan ikan yang ditangkap adalah ikan dengan usia yang dewasa, jumlah ikan masih belimpah di laut, bukan ikan yang langka atau dilindungi, serta ditangkap dengan cara yang memastikan keberlangsungan ekosistem.

Sedangkan Johannes Kieft, spesialis teknis senior UNEP Indonesia, mendorong masyarakat untuk mengonsumsi komoditas pangan alternatif yang lebih ramah lingkungan. Salah satu tanaman yang secara ekologis memberikan banyak manfaat bagi lingkungan adalah sagu. (f) 


Baca Juga: 
Soal Harga Siluman Di Tempat Wisata, Jadilah Konsumen Cerdas
7 Fakta Unik BTS Meal di Indonesia!
Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Yuk, Bergerak Lebih Aktif Untuk Lestarikan Bumi


Faunda Liswijayanti


Topic

#hutan, #pelestarianlingkungan

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?