
Mengusung tema Women in Fast Changing Society di hari ketiga, Indonesian Women’s Forum (IWF) 2021 yang diprakarsai Femina menghadirkan topik-topik conference dan master class yang terkait dengan kondisi perempuan Indonesia saat ini dan di masa depan.
“Kita melihat ulang peran kita dalam keluarga dan masyarakat, bisa saling berkolaborasi untuk segala sesuatu yang baik bagi kemajuan dan kesejahteraan semua. Kita, perempuan, sedang berada pada masa yang paling menantang. Masyarakat terus berubah cepat, dan sangat cepat. Kita punya pilihan: ikut arus, terbawa arus, atau justru bisa menjurus arus. Itu hal-hal yang ingin dibahas di hari ketiga IWF ini,” kata Petty S. Fatimah, CCO Femina dan Direktur Editorial Prana Group, dalam kata sambutannya di hari ketiga.
Dalam pidato kuncinya, I Gusti Ayu Bintang Darmawati, SE. M.Si, Menteri Pemberdayaan Perempuan & Perlindungan Anak RI, mengungkap bahwa perempuan adalah kekuatan bangsa untuk mencapai kemajuan. Bukan hanya dari jumlahnya yang mengisi hampir setengah populasi, namun juga berbagai sumber membuktikan bahwa perempuan menentukan kualitas generasi penerus.
“Kepemimpinan perempuan meningkatkan ekonomi ketahanan pangan dan membuka berbagai peluang lintas generasi, serta partisipasi setara yang penuh dari perempuan dan laki-laki menjadi kunci kesejahteraan suatu bangsa. Dalam perjuangan melawan COVID-19, perempuan menjadi tulang punggung dari proses pemulihan dalam komunitas, baik secara sosial maupun ekonomi,” papar Bintang.
Namun, Bintang menyayangkan, akibat konstruksi sosial yang berkembang dalam masyarakat, perempuan masih terpinggirkan dalam mendapatkan akses, partisipasi, kontrol, dan manfaat pembangunan yang setara dengan laki-laki, sehingga potensinya pun tidak muncul secara maksimal. Sementara, pandemi kian parah.
“Untuk itu, perempuan harus bersatu, karena perempuan adalah advokat terbaik bagi kaumnya, paling tahu masalah dan solusi yang melingkupi dirinya. Kolaborasi menjadi kunci kesetaraan gender. Untuk itu, Kementerian PPPA selalu dorong kolaborasi lintas sektor maupun antar perempuan dalam tiap program kerja kami,” jelas Bintang.
Beratnya tantangan yang dihadapi perempuan, bukan berarti menutup pintu-pintu kesempatan. Justru tantangan adalah kesempatan berkembang. Bintang meyakinkan, pandemi adalah waktu terbaik membangun kelekatan dengan anak-anak kita, juga memaksa kita untuk menjadi kreatif dan melek teknologi yang akhirnya membuat kita menjadi bisa dan biasa. Pandemi juga menjadi cara Tuhan mengingatkan kita arti persatuan. Jika para pendahulu kita bersatu melawan penjajah, maka sekarang kita harus bersatu melawan pandemi melalui disipilin kolektif dan gotong royong.
“Perempuan akan kuat jika bersatu, bersama mari kita ciptakan dunia yang aman, nyaman, dan sejahtera bagi semua tanpa ada yang tertinggal. Perempuan berdaya, anak terlindungi, Indonesia maju,” tegas Bintang. (f)
Penulis: Gracia Danarti
Baca Juga:
4 Produk Lokal Bertahan dan Gemilang di Tengah Pandemi
Wanita Wirausaha Perlu Gercep, Geber dan Gaspol untuk Bangkit Hadapi Tantangan Ekonomi
Adaptasi Dunia Kerja yang Tak Lagi Sama
Topic
#iwf2021, #menterippa, #keluarga




