Trending Topic
Perempuan Pebisnis di Era Ekonomi Digital

13 Mar 2023


Mengambil momen peringatan Hari Perempuan Internasional, Bank Dunia, Women’s World Banking, dan Kedubes Australia berkolaborasi dengan Femina menggelar webinar “Perempuan di Era Teknologi: Pemanfaatan Layanan Digital untuk Pertumbuhan Bisnis”, pada Rabu (8/3/2023) lalu. 

Kecakapan digital dapat menjadi jalan yang kuat untuk mendorong pelibatan perempuan. Sederet pembicara menarik turut meramaikan webinar yang dibagi ke dalam dua panel. Upaya untuk mendorong potensi perempuan di bidang ekonomi, bukan hanya tanggung jawab satu pihak saja, melainkan butuh sinergi berbagai pihak.
 

Akses dan Literasi Digital

Sebagaimana disampaikan Satu Kahkonen, Kepala Perwakilan Bank Dunia untuk Indonesia dan Timor-Leste, dalam sambutannya mengatakan, jumlah perempuan yang berwirausaha terus meningkat. Dengan e-commerce, bisnis menjadi lebih terakselerasi. Jika Indonesia meningkatkan angka partisipasi perempuan, negara ini bisa menaikkan pemasukan hingga 22 miliar dolar AS. 

Beberapa rekomendasi yang dikemukakan Satu, antara lain, meningkatkan literasi digital di kalangan perempuan, merancang teknologi dan inovasi digital yang bisa memenuhi kebutuhan, pentingnya penelitian dan investasi untuk masa depan, serta tak kalah penting, mendorong pembagian kerja rumah tangga yang lebih setara dan adil sehingga perempuan punya lebih banyak waktu dan kesempatan untuk mendapat peluang ekonomi. 

 


Senada dengan Satu, turut berbicara dalam webinar ini, Christina Maynes, Direktur Regional Asia Tenggara Women’s World Banking. Ia menyampaikan, akses digital adalah langkah pertama yang sangat penting untuk perempuan dalam membangun keuangan. Literasi digital meningkatkan kepercayaan diri perempuan sehingga perempuan bisa lebih banyak kontribusi secara ekonomi.  

Perwakilan Menteri Keuangan RI,
Masyita Crystallin, Staf Khusus Menteri Keuangan Bidang Perumusan Kebijakan Fiskal dan Makroekonomi, menambahkan, dari data BPS 2021, terdapat 64,2 juta UMKM. UMKM berkontribusi membuka 117 juta lapangan kerja, sebanyak 64,5% nya adalah perempuan, dan berkontribusi menyumbang 61,07% terhadap PDB Indonesia. 
 


Perempuan punya akses ke ekonomi yang sangat besar melalui wirausaha. Dan digitalisasi, dapat meningkatkan akses usaha milik perempuan terhadap kredit. Masyita memaparkan, telah banyak program dan kebijakan pemerintah untuk mendukung perempuan UMKM, akan tetapi PR-nya juga masih banyak. 

“Jalan ke depan masih panjang, masih ada
gap pendapatan, gap dalam literasi keuangan, gap perempuan menduduki posisi eksekutif maupun pekerjaan lain. Di 2045, kita bisa menjadi negara maju yang kita cita-citakan. Harapannya, perempuan pengusaha bisa menjadi lebih luas dan maju dengan value added bisnis yang jauh lebih tinggi, sehingga dampaknya ke kesejahteraan keluarga, anak, dan negara juga lebih tinggi,” tukasnya. 
 

Tantangan UMKM Perempuan

Turut berbicara di panel pertama, antara lain, Ahmad Dading Gunadi, Direktur Pengembangan UMKM dan Koperasi, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas; Ririn Salwa Purnamasari, Senior Economist World Bank; dan Vitasari Anggraeni, Wakil Direktur Kebijakan Asia Tenggara Women’s World Banking, membahas tantangan yang dihadapi para perempuan pelaku UMKM. 

“Dari sisi kapasitas, lingkungan, ekosistem perlu didorong supaya perempuan punya akses ke sumber daya produktif lebih baik. Kemungkinan dari sisi akses pasar masih terbatas. Dari sisi bagaimana UMKM perempuan ini punya akses ke keuangan. Beberapa bank masih belum ramah ke perempuan. Data menunjukkan, dari sisi layanan keuangan digital, jumlah perempuan masih sedikit. Dari sisi hukum, perizinan usaha, halal, sertifikat kesehatan, dan lainnya,” demikian dipaparkan oleh Ahmad Dading Gunadi.

Ririn, ekonom dari Bank Dunia menambahkan, masalah peran ganda. Norma di Indonesia tentang tanggung jawab keluarga dan domestik lebih berat ke perempuan. Ia menyarankan, harus ada pembagian tanggung jawab mengurus rumah tangga sehingga perempuan bisa punya kesempatan berperan aktif dalam kegiatan ekonomi mereka. “Dalam survei digital bekerjasama dengan Shopee, perempuan lebih banyak kena penalti. Alasannya, tidak bisa beraktivitas lebih banyak karena ada beban untuk mengurus anak, keluarga, dan kegiatan rumah tangga.”

Vitasari dari Women’s World Banking juga menguatkan temuan Ririn, dengan mengatakan, terkait layanan
e-commerce, dari 1.000 merchant terdapat ketimpangan pendapatan 22% antara pemilik usaha perempuan dengan laki-laki. “Ada beban ganda di situ sehingga mobilitas terbatas. Masih banyak perempuan yang berpendapat, buat apa berbisnis kalau tidak punya banyak waktu untuk dropping barang di kurir.”
 

Edukasi Berbagai Lini

Di sesi kedua, menampilkan empat pembicara yaitu Faye Wongso, CEO & Co-Founder Kumpul ID; Tessa Wijaya, COO & Co-Founder Xendit; Nadlrotursariroh, Direktur Yayasan Annisa Swasti (Yasanti); dan Diah Yusuf, Chairperson Womenpreneur Indonesia Networks. 

Diah memandang, digitalisasi adalah sebuah keniscayaan bagi perempuan wirausaha, terlebih karena peran gandanya. Dalam melakukan edukasi, perlu dikawal ketat. Tidak cukup hanya motivasi, Womenpreneur Indonesia Networks juga melakukan pelatihan, sampai
1 on 1 bisnis advisory, sehingga perempuan wirausaha punya fondasi kuat.  

Lewat Kumpul ID yang banyak membuat program kewirausahaan, Faye awalnya tidak menyasar khusus perempuan. “Semakin ke sini kami lihat perlu program untuk mendesain bagaimana akses ke perempuan ini bisa diakselerasi. Tahun ini, kami bekerja sama dengan Microsoft menjalankan program Perempuan Bijak Berusaha, mendukung perempuan Indonesia membangun
skill berwirausaha melalui teknologi, strategi, dan inovasi.” 

Xendit, sebuah perusahaan penyedia layanan pembayaran di Indonesia, juga aktif melakukan edukasi. Seperti yang disampaikan Tessa, misi Xendit ingin membantu generasi pebisnis ke depan untuk
go digital. “Pembayaran adalah esensi yang sangat penting bagi pengusaha untuk go digital. Kami lakukan program keliling, kolaborasi dengan berbagai pihak, mendidik pengusaha untuk go digital,” jelas Tessa, yang sebelum membangun Xendit, pernah mengalami beberapa kegagalan dalam membangun bisnis. 

Pengalaman melakukan edukasi di level mikro dilakukan oleh Nadlrotussariroh lewat Yasanti. Lembaganya sudah berdiri selama 40 tahun, membina perempuan yang bekerja sebagai buruh tani, buruh industri, buruh gendong di pasar, maupun pekerja rumahan. Latar belakang pendidikannya bahkan ada yang tidak lulus SD. Tidak semuanya memiliki handphone. Untuk edukasi digital, Yasanti memberi pendampingan agar para perempuan ini lebih memaksimalkan
handphone-nya untuk usaha. 

Baik Faye, Tessa, Diah, maupun Nadlrotursariroh harapannya sama, yakni semakin banyak perempuan Indonesia melek digital maupun keuangan, sehingga usaha perempuan wirausaha juga semakin maju. (f) 

Penulis : Ficky Yusrini (Kontributor - Jakarta)


Baca Juga : 

Menjurus Arus Masa Depan di Indonesian Women’s Forum 2022
Investasi Pada Pengasuhan Anak, Mendorong Partisipasi Perempuan dalam Angkatan Kerja
Rayakan Hari Ibu, Srikandi BUMN Luncurkan Program DAYA



Topic

#worldbank, #ukm, #wanitawirausaha, #wanwirfemina, #ekonomidigital, #digital, #bisnisdigital

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?