
Foto: Pexels
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melihat peran wanita dan para ibu sebagai ujung tombak dalam edukasi bencana di lingkungan keluarga. Ini melatarbelakangi untuk memperkuat pengetahuan risiko sehingga mereka dapat membagikannya kepada anggota keluarga yang lain. Khususnya dalam masa pandemi COVID-19, adaptasi kebiasaan baru dapat diterapkan keluarga untuk menjadi aman dan produktif.
Latar belakang tersebut mendorong BNPB untuk meningkatkan kapasitas multipihak yang tergabung dalam Gerakan Pengurangan Risiko Bencana (GPRB). GPRB merupakan gerakan penguatan kapasitas individu dan komunitas yang berfokus pada kegiatan partisipatif dalam melakukan aksi individu maupun kolektif, serta membangun budaya aman dan peningkatan kualitas hidup berbasis pengurangan risiko bencana (PRB).
Wisnu Widjaja, Deputi Bidang Sistem dan Strategi BNPB, menyampaikan bahwa kolaborasi strategis melalui pendekatan 'Gerakan' diharapkan mampu melibatkan dan memobilisasi kapasitas sumber daya, kepempimpinan, teknologi, dan taktik dari seluruh komponen pentaheliks.
Ia juga mengatakan bahwa BNPB berkomitmen untuk menindaklanjuti peningkatan kapasitas. Peningkatan kapasitas ini untuk memperkuat gerakan melalui kegiatan bimbingan teknis kolaboratif dengan beberapa topik. Topik tersebut mencakup:
1. Pemahaman risiko COVID-19 dan upaya pencegahan (pengegahan dan mitigasi).
2. Gender dan inklusivitas dalam membangun keluarga tangguh dalam menghadapi COVID-19.
3. Inisiatif membangun ketangguhan keluarga berbasis ekonomi produktif dan aman COVID-19.
4. Penanganan kesehatan di rumah untuk COVID-19 (kesiapsiagaan dan penanganan darurat).
5. Beradaptasi dengan kondisi COVID-19 (tatanan kebiasaan produktif dan aman COVID-19.
Di sisi lain, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah mengembangkan berbagai media komunikasi publik yang sederhana, menarik dan mudah dipahami untuk pesan utama pencegahan COVID-19.
Setiap pesan dikembangkan dalam ragam media dan dapat diadopsi sebagai materi standar dalam pelatihan. Pelibat utama yang perlu dipastikan dalam gerakan adalah Posyandu, PKK, organisasi, kelompok perempuan yang telah eksis di masyarakat, dan organisasi di tingkat lokal, seperti organisasi kader atau relawan.
Sementara itu, gerakan ini akan diperluas secara bertahap sesuai dengan situasi di berbagai daerah dan dukungan dari pemangku kepentingan.(f)
BACA JUGA:
Twitter Luncurkan Notifikasi Khusus Kekerasan Berbasis Gender
Sambut Hari Keluarga Nasional, Facebook Luncurkan Grup Pengasuhan Anak
Jawaban Mendikbud Nadiem Makarim Seputar Sekolah Selama Pandemi COVID-19
Topic
#BNPB, #GPRB, #normalbaru, #corona




