
Foto: 123RF
Saat ini, kata dr. Theresia, umumnya orang Indonesia kurang melakukan aktivitas fisik, merokok sejak usia muda, dan kurang mengonsumsi serat. Salah satu tanda perubahan yang paling mudah terlihat adalah meningkatnya persentase penderita obesitas di Indonesia. Menurut data WHO yang dipaparkan pakar gizi klinis, dr. Tirta Prawita Sari, Sp.GK, M.Sc., sebanyak 21 persen orang Indonesia menderita obesitas.
Baca juga:
Penyebab Detak Jantung Tak Beraturan
Asam Urat Bukan Hanya Penyakit Orang Usia Lanjut
BPJS Kesehatan Menanggung Biaya Perawatan Penyakit Akibat Rokok Hingga Rp7,57Triliun
Meski obesitas dan perilaku itu tampak sudah biasa terjadi di tengah masyarakat modern, dampak jangka panjangnya ternyata berbahaya. “Kuantitas dan kualitas gizi makro, seperti protein dan lemak, serta gizi mikro, seperti vitamin dan mineral, sangat memengaruhi proses pertumbuhan dan perkembangan otak manusia,” papar Sekretaris Jenderal Persatuan Ahli Gizi Indonesia, Dr. Entos Zainal, DCN, SP, MPHM.
Dampaknya sangat memengaruhi kualitas hidup manusia. mulai dari terhambatnya perkembangan kognitif karena pertumbuhan otak dan sel saraf yang kurang sempurna hingga gangguan metabolis tubuh yang akhirnya meningkatkan risiko penyakit tidak menular penyebab kematian.
Untuk mulai meningkatkan kualitas gizi, dr. Tirta menyarankan masyarakat Indonesia untuk lebih memperhatikan kualitas dan pola makan, termasuk pengolahan makanan rumah. “Kurangi mengonsumsi makanan yang telah diproses, ganti margarin dengan butter, dan pakai minyak zaitun atau minyak kelapa daripada minyak sayur,” saran dr. Tirta.
Pengolahan makanan menggunakan bahan-bahan itu akan meminimalkan lemak trans, lemak tak jenuh yang telah mengalami proses hingga berubah menjadi lemak jenuh, yang masuk ke dalam tubuh seseorang. “Pengolahan makanan rumahan yang tidak tepat bisa jadi silent killer,” pungkas dr. Tirta. (f)
Topic
#Kesehatan




