Trending Topic
Peneliti Universitas Indonesia Sebut Lulusan SMK Paling Banyak Jadi Pengangguran

3 Apr 2023


Foto: Shutterstock


Lembaga Demografi FEB UI pada Jumat (31/3) lalu menyelenggarakan diskusi terkait “Penyiapan SDM Lulusan Vokasi di Masa Depan”. Di awal diskusi, Dr. Dwini Handayani, S.E., M.Si., peneliti LD FEB UI, memaparkan kondisi pendidikan dan pekerjaan di Indonesia, antara lain adalah kesesuaian potensi permintaan dan ketersediaan lulusan, sumber daya manusia, kurikulum, prasarana, dan kualitas lulusan. 

Berdasarkan olahan data Sakernas 2022, menurut Dr. Dwini ditemukan bahwa jumlah pengangguran terbuka lulusan vokasi di tahun 2022 sebesar 1,8 juta atau 22% dari total pengangguran. Angka tersebut terbilang besar. 

“Jumlah dan tingkat pengangguran terbuka lulusan vokasi yang paling tinggi merupakan lulusan SMK,” sebut Dr. Dwini. 

Narasumber diskusi lainnya, Ratna Indrayanti, S.E., M.S.E.,  peneliti LD FEB UI, menjelaskan bahwa jumlah pengangguran lulusan SMK tertinggi ada pada bidang keahlian teknologi dan rekayasa serta bisnis manajemen. Sedangkan yang terendah ada pada bidang keahlian energi dan pertambangan serta seni dan industri kreatif. 

Lantas apa yang menjadi tantangan para ulusan vokasi ini dalam mendapatkan pekerjaan? Menurut Ratna angkatan kerja yang mengikuti pelatihan dalam setahun terakhir masih sangat minim, padahal memiliki pengalaman lebih dari satu jenis pelatihan dapat memudahkan untuk masuk ke dalam pasar kerja.

Dr. Dwini pun menyampaikan beberapa strategi kebijakan dalam pemenuhan permintaan tenaga kerja. Pertama, pelatihan tenaga kerja yang responsif dan adaptif, sesuai dengan permintaan pasar, dan kebutuhan yang heterogen (secara umur, gender, potensi wilayah, dan jabatan pekerjaan) menggunakan modul yang menitikberatkan pada praktik dan magang serta adanya evaluasi secara berkala sesuai permintaan pasar. 

Kedua, mendorong penciptaan lapangan pekerjaan berkelanjutan dengan melakukan tracer study dan memperbaiki database lulusan, meningkatkan pendidikan dan pelatihan keterampilan (lebih dari satu jenis pelatihan), mengembangkan sistem informasi pasar tenaga kerja, dan menguatkan sistem perlindungan sosial.

Menanggapi paparan dari Universitas Indonesia, Ir. Muhammad Iqbal Abbas, MBA, Perencana Ahli Utama Kedeputian Kependudukan dan Ketenagakerjaan Kemen PPN/Bappenas memaparkan mengenai “Peta Okupasi Nasional” sebagai upaya penciptaan link and match. Peta Okupasi Nasional merupakan peta kebutuhan okupasi riil IDUKA (Industri dan dunia kerja) pada suatu area fungsi yang berisi definisi dan diintegrasikan ke dalam kerangka kualifikasi yang dapat menjadi acuan dalam perencanaan dan pengembangan standardisasi. 

Menurut Iqbal, bagi tenaga kerja, siswa dan peserta pelatihan, peta ini dapat membantu untuk pengembangan profesinya. Sedangkan bagi lembaga pendidikan dan pelatihan, peta ini mendukung pengembangan kurikulum dan profil lulusan pendidikan dan pelatihan. 

Peta tersebut juga mendukung lembaga sertifikasi profesi mengembangkan perencanaan dan asesmen. Bagi otoritas sertifikasi (BNSP), peta ini mendukung pengembangan skema sertifikasi secara nasional. Dan bagi industri dan dunia kerja, peta ini mendukung rekrutmen berbasis kompetensi dan pengembangan karir profesional SDM. (f) 



Baca Juga: 
Mencari Bentuk Pendidikan (Kejuruan) yang Menjawab Tantangan Zaman
Survei Ungkap 1 Dari 3 Karyawan di Asia Mengalami Kelelahan, Perusahaan Bisa Apa?
Makin Tinggi Pendidikan, Makin Mudah Cari Kerja? Ini Faktanya
 


Faunda Liswijayanti


Topic

#pendidikanvokasi, #angkatankerja

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?