
Foto: Fotosearch
Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013, kasus kanker di Indonesia terjadi sebanyak lebih kurang 330.000 orang dengan kasus terbesar adalah kanker serviks atau kanker leher rahim. Sementara itu, data dari WHO Information Centre on HPV and Cervical Cancer menyatakan bahwa 2 dari 10.000 wanita di Indonesia menderita kanker serviks dan diperkirakan 26 wanita meninggal setiap harinya karena kanker serviks.
Kanker serviks bisa dicegah lewat deteksi dini papsmear atau Inspeksi Visual dengan Asam Asetat (IVA). Vaksin Human Papilloma Virus (HPV) juga akan menambah perlindungan dari kanker serviks.
Baca juga: Vaksin HPV Tidak Sebabkan Menopause Dini
Vaksinasi HPV dilakukan gratis dan telah direncanakan sebagai salah satu vaksin wajib program imunisasi nasional yang dilakukan di dua kota dengan prevelansi kanker serviks paling tinggi, yaitu DKI Jakarta dan DI Yogyakarta.
Program ini dilakukan serempak untuk seluruh siswa SD negeri dan swasta, dan sederajat lewat program Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS), dimulai di seluruh wilayah di DKI Jakarta pada bulan Oktober 2016 lalu dan akan dilanjutkan pada tahun depan di dua Kabupaten di Provinsi DI Yogyakarta yaitu Kabupaten Kulonprogo dan Gunung Kidul. Pemberian vaksin HPV kepada siswi perempuan diberikan 2 kali, yaitu pada saat kelas 5 SD untuk dosis pertama dan kelas 6 SD untuk dosis kedua.
Berdasarkan data klinis, pemberian vaksin HPV paling efektif di usia 9-13 tahun yaitu di kelas 5 dan 6 SD. Hal ini karena pada usia tersebut anak belum melakukan hubungan seks. Bila vaksin HPV diberikan di atas usia 13 tahun kurang efektif, karena kemungkinan infeksi sudah lebih dulu masuk.
Para orang tua diharapkan bisa menyadari bahaya kanker serviks dan mau membawa anaknya untuk imunisasi lewat program BIAS. Jika membeli sendiri, harga vaksin HPV berkisar Rp170 ribu dan belum terjangkau oleh seluruh masyarakat. (f)
Topic
#Kanker, #vaksin, #imunisasi


