Trending Topic
Mencari ‘Cahaya’ di Rimba Digital

20 Jun 2016


 
Foto: Fotosearch, Meme

Berdoa adalah ritual kita semua sehari-hari walaupun dengan intensitas dan cara yang berbeda-beda. Belakangan ini, sejak munculnya tren media sosial, mudah sekali kita menemukan pemandangan timeline yang dipenuhi doa, baik itu dari kutipan ayat-ayat kitab suci, quote wisdom, doa pribadi, maupun share dari akun-akun bertema spiritual.
 
Di Facebook atau Twitter, mungkin Anda pernah menemukan status doa-doa singkat semacam ini: “Semangat pagi! Semoga pagi ini penuh berkah dan senyuman”, “Biar langit mendung, semoga hati terang”, “Berilah kesehatan pada kami, agar kami dapat berkarya sesuai rencanaMu,” dan banyak lagi lainnya.    

Kadangkala status doa dilatari karena kegalauan, sedang tertimpa masalah berat, keprihatinan pada masalah tertentu, motivasi dan semangat untuk diri sendiri, ataupun harapan. Sekarang, kebiasaan berdoa ini juga berlaku untuk banyak hal di luar konteks agama, misalnya, untuk kemenangan tim sepak bola unggulan, tim bulu tangkis, dukungan untuk vote kontes, kesembuhan dari penyakit, peristiwa internasional seperti #saveRohingya, dan banyak lagi lainnya.

Uniknya lagi, ketika menulis status doa, lalu disertai persuasi untuk like dan share sebanyak-banyaknya, atau kata-kata “Kalau suka, aminkan doa ini.” Ada pula ‘fatwa’ yang beredar, dengan like status tertentu, ada ‘pahala’-nya. Untuk 1 like = 10 kebaikan, 1 komentar = 100 kebaikan, dan 1 share = 1.000 kebaikan.
Jika kita amati, akun-akun bertema spiritual dan doa memang kian marak. Doa tidak hanya tradisi milik satu agama tertentu saja, tapi milik semua agama. Hampir semua orang dengan beragam keyakinan membawa kebiasaannya yang berkaitan dengan kehidupan religiositasnya itu ke media sosial. 

Mengenai hal ini, Budi Munawar Rahman, dosen Studi Islam dan Filsafat Islam, berkomentar, tidak ada yang salah dengan media sosial sebagai sarana untuk doa dan syiar agama. Sama seperti media tradisional, syiar agama juga beredar lewat buku, CD, apps, dan lainnya. Karena sekarang media sosial yang sedang tren, maka wajar jika semua kegiatan kehidupan masuk ke media sosial.

Tak sedikit pula para tokoh agama dan spiritual dunia yang bermain di media sosial, sebab ‘umat’ mereka juga ada di situ. Sebutlah, Dalai Lama (@dalailama), Pope Francis (@Pontifex), Paulo Coelho (@Paulocoelho), Deepak Chopra (@deepakchopra), Sri Sri Ravi Shankar (@srisri), dan banyak lagi lainnya.    

Tak sedikit kutipan-kutipan mereka yang seolah menjadi ‘siraman rohani’, yang banyak di-retweet atau share oleh publik. Begitu juga, kutipan-kutipan dari kitab suci yang ‘diabadikan’ menjadi meme, mudah sekali ditemukan di media sosial.  “Di media sosial, status yang kita anggap personal itu sebetulnya menjadi publik, sebab semua orang bisa melihatnya,” tutur Budi, yang mengatakan, kita tidak perlu heran dan merasa terganggu dengan hal tersebut.
Budi mengatakan, tidak ada istilah atau label kesalehan online. Apa yang kita lakukan di online sebetulnya hanya lanjutan saja dari apa yang sudah menjadi kenyataan di dalam kehidupan kita sehari-hari.  

Mereka yang senang dengan status doa, sebaiknya juga tidak perlu menghakimi orang lain yang memilih untuk tidak ‘berdoa’ di media sosial. Begitu juga sebaliknya, yang tidak suka, tidak perlu merasa terganggu. Terlebih dengan mereka yang berbeda keyakinan. “Kalau tidak suka, ya, unfriend saja,”  ujar Budi.
 
Media sosial mempunyai efek viral. Ketika teman kita like atau share sesuatu, maka kita pun terdorong untuk melakukan hal yang sama. Begitu juga ketika menulis status, ada kecenderungan kita menantikan respons orang lain. “Facebook memberi ruang untuk  ego kita. Rasanya kalau mendapat like dari banyak orang, kita jadi senang. Ketika sebuah status kita mendapat like banyak, kita cenderung akan menuliskan jenis status yang sama,” jelas Budi.

Harus diakui, sebagai medium yang bersifat netral, media sosial telah membawa banyak hal positif. Budi bercerita, dirinya juga kerap terhibur saat menemukan  post yang  menyejukkan. Hal-hal seperti motivasi, semangat hidup, kisah-kisah kebaikan hati, dan quote-quote yang mengingatkan kita tentang arti hidup atau untuk menjadi orang yang lebih baik. 

Media sosial juga bisa membawa manfaat besar, jika digunakan untuk aktivitas sosial ataupun keagamaan. Misalnya, seperti yang dilakukan oleh artis Sandra Dewi dan Daniel Mananta untuk membantu pembangunan gereja di Flores, atau menggalang solidaritas ketika terjadi peristiwa penembakan Charlie Hebdo di Paris dan pembantaian komunitas muslim Rohingya di Myanmar.   

Namun demikian, ada pula hal-hal yang perlu kita cermati. Tak sedikit yang menangkap peluang dari karakter masyarakat kita terhadap hal-hal yang sifatnya spiritual ini untuk keuntungan bisnisnya. Ada banyak sekali bermunculan akun-akun yang memang didedikasikan untuk tujuan komersial, yakni untuk meraih viewer sebanyak mungkin. Tidak harus berjualan barang secara fisik, seperti halnya bisnis e-commerce, tapi hanya dari tiap like dan share yang diperoleh, ia akan mendapatkan keuntungan dari pengiklan.

Ada pula  modus SMS berlangganan. Kalau dulu  berupa ringtone atau kata-kata mutiara, meminta nomor akun bank, atau sekadar sapaan ‘Hai’, maka sekarang yang sedang ramai adalah SMS doa. Misalnya, SMS semacam ini, “Ya Allah, semoga yang mempunyai HP ini & keluarganya selalu dalam kasih sayang-Mu, diberkahi rezekinya & dijauhkan dari marabahaya. Jawab ‘Amin’ jika Anda berkenan.”

Padahal, kalau kita meng-amin-kan alias membalas SMS tersebut, maka nomor ponsel kita akan terpotong pulsa  tiap hari, karena dianggap registrasi ke nomor berlangganan tersebut. Untuk modus yang semacam ini, tentu harus kita waspadai.

“Itu adalah watak dunia yang sekarang, yang dirajut oleh kapitalisme, perdagangan, dan ekonomi. Kita tidak bisa menutup mata dari konsekuensi itu,” tutur Budi.

Hal lain yang disesalkan, tidak sedikit pula yang menggunakan media sosial untuk hal buruk, menyebarkan kebencian, dijadikan sebagai alat kampanye hitam, menyudutkan lawan, dan keburukan lainnya, yang sayangnya menggunakan kedok agama. Padahal, ketika keburukan itu disebarkan di media sosial, efeknya akan direplikasi begitu rupa, menyebar ke mana-mana.

Budi menyebut, kalau dengan bahaya pornografi, sudah banyak yang aware dan waspada. Tapi sayangnya, kesadaran mengenai bahaya dari keagamaan yang eksklusif, garis keras, dan radikal  itu belum terlalu disadari. Masyarakat kita belum bisa membedakan mana yang moderat dan mana yang garis keras.
“Asal ada bahasa Arab, lalu dianggap itu pasti dari Alquran. Padahal, mungkin akun tersebut ada yang isinya mau dibawa ke Islam yang membenci kemanusiaan. Kesadaran seperti itu sangat penting,” jelas Budi.

Di media sosial, kelompok radikal seperti ISIS  juga punya akun untuk mempromosikan jaringan mereka. “Mereka menulis tentang kebenaran agama dari versi mereka sendiri, menyerang kelompok atau agama lain, dan membangga-banggakan apa yang mereka lakukan di Suriah, padahal sebetulnya mereka tengah melakukan kejahatan,” kata Budi, mengamati.  

Ia menambahkan, seharusnya para tokoh masyarakat atau agama memberikan contoh role model dalam memanfaatkan media sosial untuk kehidupan agama. Sebab, kata  Budi, tak bisa dipungkiri, fatwa ulama memengaruhi cara pandang komunitas muslim di Indonesia. Jika ada seorang ulama mengatakan, membaca Alquran dengan langgam Jawa itu hukumnya haram, sementara pemerintah sekarang sedang mempromosikan kekayaan dari kebudayaan Islam, maka itu bisa menjadi psy war di online.

“Seorang tokoh harusnya punya tanggung jawab lebih ketika dia mau meng-upload, menulis status, like atau share tentang apa yang menjadi perhatiannya, berkaitan dengan keagamaan. Masyarakat pada umumnya hanya mengikuti arus, dan dibimbing oleh kediriannya yang sebenarnya tidak matang,” jelas Budi. (f)  

 


Topic

#puasadanlebaran

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?