
Foto: Shutterstock
Sebagai negara dengan iklim tropis, Indonesia mengalami masa pancaroba atau peralihan musim sebanyak dua kali dalam setahun. Masa-masa ini biasa terjadi pada bulan September-November sebagai masa peralihan dari musim kemarau menuju musim penghujan, dan pada bulan Maret-April selama pergantian musim penghujan menuju musim kemarau.
Selain identik dengan pergantian cuaca esktrem, masa pancaroba juga dikenal sebagai masa-masa rentan munculnya beberapa jenis penyakit karena imunitas yang menurun akibat pergantian cuaca tersebut. Salah satu penyakit yang sering muncul adalah panas dalam. Hal ini terlihat juga dari survei Populix bulan Maret lalu yang mencatat kenaikan pembelian larutan penyegar panas dalam sebesar 8% dibandingkan bulan Januari.
“Selain itu, sebagai upaya masyarakat dalam menjaga daya tahan tubuh, di periode yang sama, kami juga mencatat kenaikan pembelian multivitamin dan vitamin C masing-masing sebesar 11%,” kata Eileen Kamtawijoyo, Chief Operating Officer Populix.
Berdasarkan Monthly Data Tracking Populix selama bulan Januari hingga Maret 2022, Populix mencatat 78% responden membeli larutan penyegar panas dalam setidaknya satu kali dalam sebulan pada bulan Januari-Maret, dengan 30% di antaranya membeli setidaknya satu kali dalam seminggu.
Di antara responden tersebut, 43% responden mengatakan membeli larutan penyegar panas dalam di minimarket, 38% responden membeli di warung dan 11% membeli di supermarket. Hal ini menunjukkan bahwa responden membutuhkan produk tersebut dikonsumsi secara cepat sehingga mereka membelinya dari lokasi terdekat.
Sementara itu, terkait dengan anggaran yang dikeluarkan untuk membeli larutan penyegar panas dalam, 92% responden menyediakan anggaran kurang dari Rp 100.000 dalam sebulan.
Untuk mempersiapkan diri menghadapi masa pancaroba, masyarakat Indonesia juga terlihat semakin rutin mengonsumsi multivitamin dan vitamin C guna meningkatkan imun tubuh. Data Populix menemukan adanya kenaikan pembelian sebesar 11% pada kategori multivitamin dan vitamin C di bulan Maret dibandingkan Januari 2022.
Survei online yang melibatkan 1.023 responden ini juga menunjukkan bahwa 90% responden membeli multivitamin dan vitamin C setidaknya satu kali dalam sebulan. Terkait anggaran yang disediakan, 75% responden dan 62% responden menghabiskan kurang dari Rp100.000 untuk membeli vitamin C dan multivitamin dalam sebulan. Namun, ada juga 31% responden yang menyediakan anggaran lebih, yaitu sebesar Rp100.000-Rp250.000 untuk membeli multivitamin.
Sebagai produk yang rutin dikonsumsi untuk meningkatkan imun tubuh, mayoritas responden masih mencari produk multivitamin dan vitamin C di minimarket dan apotek. Secara lebih detail, terdapat 32% responden membeli multivitamin di minimarket, 19% responden membelinya di apotek dan 16% responden bertransaksi menggunakan e-commerce. Di sisi lain, 37% responden membeli vitamin C di minimarket, 17% responden membeli di apotek dan 14% responden membelinya di supermarket. (f)
Baca Juga:
Studi Terbaru, Mayoritas Pengguna Sosial Media di Indonesia Gunakan Fitur Keamanan Data Pribadi
Menarik, Bersosialisasi Jadi Alasan utama Orang Indonesia Ikutan Fandom
Cuaca Panas Bisa Bikin Dehidrasi, Cek Gejala dan Cara Atasinya
Faunda Liswijayanti
Topic
#multivitamin, #kesehatan, #pancaroba, #musim



