Ayu Gani, salah satu Alumni Wajah Femina yang berkarier di kelas internasional. Foto: Dok. Femina/Ifan ArioHari kedua Karantina Wajah Femina 2025 jadi momen seru bagi 20 Finalis Wajah Femina.
Setelah berlatih jalan di catwalk bersama Ayu Gani, mereka bisa mengobrol lebih jauh dan mengambil pelajaran dari pengalaman Ayu Gani.
Ayu Lestari Gani, atau Ayu Gani, adalah Pemenang Favorit Wajah Femina 2011 yang kini dikenal sebagai model internasional, mentor, sekaligus Co-Founder Top Model District.
Kisah perjalanan Ayu Gani menginspirasi Finalis Wajah Femina 2025. Dari perempuan pemalu asal Solo hingga menjadi model internasional, Gani membuktikan bahwa percaya diri adalah langkah pertama menuju perubahan besar.
Berawal dari tantangan
“Aku ikut Wajah Femina waktu umur 21 tahun tanpa basic modeling sama sekali. Bahkan aku enggak tahu cara pakai makeup,” kenang Gani. “Aku orang Solo, jarang ke Jakarta, dan waktu itu penampilanku tomboi banget.”Perjalanan Gani dimulai dari tantangan sang ibu agar bisa lolos jadi Finalis Wajah Femina. “Aku merasa tertantang dan akhirnya ikut,” ceritanya sambil tersenyum.
Masa karantina menjadi titik balik hidupnya. Di sana, Gani bertemu dengan Ratih Ibrahim, M.M., Psikolog (CEO & Founder Personal Growth, Psikolog Klinis), yang mengajarkannya arti percaya diri.
“Aku pemalu dan takut ngomong sama orang. Tapi dari Mbak Ratih, aku belajar untuk berani. Bahwa percaya diri bukan soal tampil sempurna, tapi berani mengenal diri sendiri,” kata Gani.
Pertemuan dengan Petty S. Fatimah, Pemimpin Redaksi Femina saat itu, juga menjadi pelajaran penting.
“Mbak Petty bilang, ‘Kamu enggak bisa ikut kompetisi kalau enggak punya percaya diri.’ Dari situ aku sadar, tujuan hidup harus datang dari dalam diri,” ujar Gani.
Sejak jadi salah satu pemenang dan tampil di cover Femina, Gani mulai sering ke Jakarta untuk pemotretan, dan kariernya di modeling terbuka lebar.
Peserta Karantina Wajah Femina 2025 menyimak kisah perjalanan dan pesan percaya diri Ayu Gani. Foto: Dok. Femina/Vidi Putra Hagiansyah Membuka jalan bagi yang lain
Gani juga mempelajari industri mode secara mendalam. “Aku baca semua majalah Femina, hafalin nama-nama fotografer, desainer, makeup artist. Aku jadi tahu siapa yang lagi hits dan apa yang sedang tren.”
Pertemuan dengan Panca Makmun, koreografer fashion ternama, jadi momentum baru.
“Mas Panca tanya, ‘Kamu sudah pernah show apa?’ Aku jawab, belum pernah. Tapi dari situ aku belajar banyak, sampai akhirnya jadi ikon di Jakarta Fashion Week,” ucapnya bangga.
Bahkan, Gani turut mengubah standar tinggi badan model di ajang tersebut.
“Dulu minimal 175 cm (untuk jadi model JFW), sementara aku cuma 173 cm. Akhirnya (standar model JFW) diturunkan jadi 172 cm, bahkan sekarang 170 cm. Aku merasa ikut membuka jalan buat banyak perempuan,” kata Gani.
Di balik kesuksesannya, Gani juga melewati perjalanan penuh tantangan pribadi.
“Aku pindah ke Jakarta tanpa persetujuan orang tua. Mamaku sempat kecewa karena aku belum selesai kuliah. Tapi aku belajar tanggung jawab,” ungkapnya.
“Dari Femina aku belajar arti uang dan kerja keras. Aku enggak cuma belajar jalan di panggung, tapi juga belajar berdiri di atas kaki sendiri,” ujarnya.
Kesungguhannya membuahkan hasil besar: Ayu Gani memenangkan Asia’s Next Top Model Cycle 3, membawa nama Indonesia ke level internasional.
“Semua itu berawal dari Wajah Femina. Dari sini aku belajar disiplin dan profesional. Kalau tidak ikut ajang itu, mungkin aku enggak akan sampai ke titik ini,” katanya.
Ayu Gani bersama 20 Finalis Wajah Femina 2025 di Karantina Wajah Femina 2025 hari kedua. Foto: Dok. Femina/Vidi Putra Hagiansyah
Kembali berbagi dan menginspirasi
Kini, setelah berkarier di luar negeri, Gani memilih pulang dan membangun Top Model District di Jakarta, lembaga yang ia dirikan untuk mencetak model muda berkarakter kuat dan berwawasan luas.
“Aku ingin berbagi. Dulu aku belajar dari para mentor di Femina, sekarang giliran aku membimbing generasi baru,” jelasnya.
Baginya, Wajah Femina bukan sekadar ajang pencarian wajah baru, melainkan rumah tempat perempuan menemukan kepercayaan diri.
“The biggest part of my life itu Wajah Femina. Dari sini aku menemukan arah hidup,” ungkapnya. “Karantina memang cuma empat hari, tapi pengalaman dan hubungan yang terbentuk di sini bisa bertahan seumur hidup.” Inspiratif!
Wajah Femina 2025 bersama Indonesia Kaya, ghd Indonesia, dan Garmin Indonesia menghadirkan dukungan yang selaras dengan semangat program dalam menumbuhkan kepercayaan diri dan kreativitas perempuan Indonesia. (f)
Laili Damayanti
Topic
#WajahFemina2025 , #PerempuanInspiratif, #BerdayaBergayaBerbudaya


