Trending Topic
Kenali Perkembangan Generasi Z yang Haus Eksistensi

31 Aug 2022

 
generasi z
Foto: Shutterstock
 

Perkembangan kehidupan dari masa ke masa memberikan suatu warna yang unik dan memiliki karakteristik yang tidak biasa. Setiap era untuk periode masa tertentu bisa dikatakan memiliki kekhasan yang berbeda. Hal ini disebabkan adanya perbedaan generasi yang terbagi atas lima jenis utamanya yaitu dikenal dengan generasi baby boomers (terlahir tahun 1946-1964), generasi X (terlahir tahun 1965-1980), generasi Y (terlahir tahun 1981-1995), dan terakhir generasi Z (1996-2010). Perbedaan istilah generasi dimaksud digunakan untuk mengelompokkan orang yang terlahir dalam rentang tahun tertentu untuk memahami salah satu karakteristik manusia berdasarkan tahun kelahirannya. Namun, yang akan dibahas kali ini tidak semua generasi di atas, saya tertarik untuk membahas generasi Z yang tentunya juga sering kali menjadi topik pembicaraan kekinian.

Dominasi Generasi Z: Bebas dan Kreatif

Kehadiran generasi Z memiliki perbedaan yang sedikit mencolok dibandingkan dengan generasi pendahulunya. Generazi Z hadir pada masa yang dikenal dengan disrupsi akibat revolusi industri 4.0 dan pergeseran gaya hidup akibat tren perkembangan teknologi di dalamnya. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (2021), disebutkan bahwa generasi Z adalah generasi yang memiliki proporsi terbanyak yaitu sekitar 27,94% dimana pada masa ini status mereka adalah berasal dari kelompok pelajar hingga mereka yang fresh graduated baru menapaki dunia kerja.

Generasi Z sedikit banyaknya sudah mulai banyak menggeser generasi di atasnya yaitu generasi X dan Y, bahkan Baby Boomers. Menariknya, berdasarkan beberapa penelitian disebutkan bahwa sebuah perusahaan baru berkembang dan memiliki banyak karyawan dengan rentang usia 20-26 tahun, lebih banyak untuk memilih untuk berhenti bekerja daripada mengalami persoalan kesehatan mental akibat perbedaan pandangan, pola kerja, dan gaya komunikasi.

Menurut Zeffane (2003), potensi sumber daya manusia memiliki peluang besar dalam perkembangan dunia usahanya. Namun, dibalik itu semua terdapat pula kecenderungan setiap karyawan untuk berhenti bekerja dari pekerjaannya untuk melakukan sesuatu yang lain dan lebih baik. Tantangan terbesar ini dilihat khususnya dari perusahaan yang memiliki karyawan Generasi Z.

Hal apa sebenarnya yang memengaruhi generasi Z yang sepertinya mudah sekali untuk mengubah haluannya di dunia kerja? Apakah hal ini juga terjadi dalam perkembangan kehidupan sehari-hari mereka dan bahkan kehidupan sosial secara luas?

Generasi Z dikenal dengan istilah generasi yang memiliki batasan yang minim (atau lebih dikenal dengan istilah boundaryless generation), dimana generasi Z memiliki banyak harapan dan perspektif yang cenderung berbeda dan sering kali memiliki pertentangan dengan nilai organisasi dan kehidupan pada umumnya yang pernah dijalani oleh generasi sebelumnya. Hal ini bisa saja terjadi karena perkembangan dunia yang dinamis dan sering kali berubah-ubah tidak jelas memberikan pengaruh pula kepada setiap pola dan sikap kepada lingkungan masyarakat di dalamnya.

Hal yang menonjol tersebut memberikan dampak kepada generasi Z melihat perubahan sebagai bagian dari nafas kehidupan yang cenderung memudahkan mereka untuk mencapai sesuatu tanpa berusaha lebih banyak.

Area penguasan keterampilan yang dimiliki oleh seorang generasi Z tidak terlepas dari era mereka berada saat ini. Era yang membutuhkan setiap individunya berkreativitas secara lepas dan bebas serta dapat terhubung kepada siapa saja. Tentunya, hal tersebut mendorong generasi Z untuk terus menjelajah kepada setiap ruang komunikasi tanpa batas namun pergeseran yang paling muncul adalah ruang komunikasi yang dialami cenderung kepada
penggunaan ruang koneksi secara virtual sehingga memudahkan mereka terhubung kepada banyak orang dari beragam belah dunia.

Hal positif dari generasi Z adalah generasi yang tumbuh dengan era keterbukaan, tertarik kepada hal-hal yang baru, mampu berpikir kritis, dapat melakukan banyak hal dalam satu waktu (multitasking), dan menuntut kebebasan dalam berpendapat, ingin selalu berbeda dan diakui keberadaannya. Namun, hal ini menyebabkan generasi Z memiliki kesulitan dalam memahami diri mereka sendiri akan sebuah perbedaan sudut pandang terhadap keadaan dunia. Hal tersebut menyebabkan generasi Z cenderung untuk mengedapankan sikap yang represif, impulsif dan konsumtif, kurang dapat menghargai proses, terburu-buru mengambil keputusan, takut dibilang ketinggalan zaman (fear of missing out), boros, kurang mandiri secara finansial, boros, kurang mau bergerak secara fisik karena mereka merasa segala sesuatu sudah mudah dilakukan hanya melalui gawai.

Hal yang Perlu Diperhatikan Dari Generasi Z

1. Memahami Lebih Dekat Generasi Z
Generasi Z kini merupakan generasi yang mendominasi lini kehidupan seiring dengan perkembagan teknologi dan dunia di dalamnya. Tidak dipungkiri pula bahwa revolusi industri saat ini memiliki kontribusi besar terhadap perkembangan karakter, pola hidup, pola sosial, dan pola karir bagi seorang yang terlahir pada generasi Z.

Menurut Wijoyo (2020) generasi Z memiliki karakteristik yang berbeda dengan generasi sebelumnya, antara lain, generasi yang fasih secara teknologi, interaksi sosial yang dilakukan adalah menggunakan media sosial, cenderung ekspresif dimana cenderung toleran dengan perbedaan kultur dan peduli dengan lingkungan, selanjutnya generasi Z adalah generasi yang multitasking yang memiliki aktivitas banyak dalam satu waktu bersamaan. Hal lainnya adalah generasi yang cepat berpindah dari pemikiran atau pekerjaan ke pemikiran/pekerjaan lain (fast switcher), dan terakhir generasi yang senang dalam berbagi.

Namun demikian, beberapa riset juga mengatakan generasi Z adalah generasi yang banyak juga mengidap gangguan kesehatan mental, di antaranya kecemasan, depresi, kurang motivasi, mudah mengalami perundungan, dan generasi yang paling kesepian.

Kelahiran generasi Z yang menyukai hal-hal instan dalam proses bekerja memengaruhi terhadap pola pikir dan cara mereka bekerja juga. Pemahaman dasar melalui pengenalan terhadap karakteristik setiap orang tentunya dapat membantu orang untuk dapat mengenal cara berinteraksi kepada mereka yang berbeda sekalipun.

2. Dorong Generasi Z dalam Berliterasi
Kebutuhan literasi di saat ini merupakan sebuah keharusan. Jika dibandingkan dengan negara Asia lainnya, kemampuan literasi orang Indonesia masih cenderung rendah walaupun akses terhadap informasi digital bisa dikatakan tinggi. Mengapa demikian? Bisa saja, setiap orang memiliki kepedulian terhadap informasi yang dibacanya namun memiliki kelemahan dalam memahami tulisan yang cenderung naratif, informatif, dan panjang ataupun cenderung kompleks. Keuntungan dari memperbanyak literasi adalah memudahkan seseorang untuk belajar atas perubahan zaman dari beragam perspektif.

Referensi akan memudahkan seseorang menjadi lebih terhubung lintas waktu dan menumbuhkan daya saing dan rasa ingin tahu untuk menciptakan terobosan dan pembaharuan.

3. Pengasuhan untuk Generasi Z
Dalam membesarkan generasi Z biasanya akan diasuh oleh paling sedikit dua generasi di atasnya seperti generasi X dan generasi Y. Tentunya, seperti yang telah dijelaskan di atas bahwa setiap generasi memiliki karakteristik yang berbeda, namun dua generasi di atas tersebut secara tidak langsung masih memiliki relevansi dengan generasi Z namun tentunya menghadapi anak yang terlahir pada generasi Z perlu memiliki pengasuhan dari orang tua yang mampu mengimbanginya.

Generasi orang tua dari generasi X cenderung memberikan penghargaan terhadap waktu dan kembandirian. Sedangkan generasi Y lebih dikenal dengan generasi milenial lebih cenderung dekat dengan generasi Z karena sama-sama terlahir pada dunia digital dan millennium. Ciri khas dari generasi Y yang percaya diri, multitasking dan toleransi. Untuk menjembatani lintas generasi sebagai pola orang tua kepada generasi Z tentunya perlu menjadi orang tua yang adaptif dengan perubahan dan perlu menjadi diri sebagai orang tua yang smart parents.

Banyak orang tua mencari bentuk pola pengasuhan dari beragam sumber mulai dari membaca buku populer, belajar dari pengalaman pola asuh mereka sebelumnya, bahkan ada juga yang belajar melalui platform media sosial. Namun, bagaimana juga, orang tua kekinian perlu mampu mempelajari karakteristik anak masa kini sehingga pola pengasuhan yang tepat sekalipun perlu tetap diterapkan secara bervariatif dimana tetap ada otoritas terhadap pengasuhan, namun juga tetap memberikan kesempatan anak untuk berpendapat, berkreativitas, dan tidak terlalu mengistimewakan anak agar anak dapat belajar untuk berusaha dan mandiri.

4. Bangun Pola Komunikasi yang Lebih Asertif
Pola komunikasi asertif merupakan sebuah perilaku yang mendorong seseorang untuk tetap dapat mengungkapkan segala perasaan, pikiran, harapan secara lebih tegas dan jujur namun juga tetap menghargai pilihan orang lain tanpa memaksakan kehendak kepada orang lain. Membangun sikap yang asertif diharapkan dapat membangun kedekatan interpersonal terhadap orang lain yang lebih hangat. Hal ini diperkuat dengan adanya pola komunikasi dua arah yang akan menjadi bekal seseorang untuk membangun relasi tanpa
mempermasalahan sebuah perbedaan yang ada.

5. Ubah Sudut Pandang Bersama
Kemuculan generasi Z memang tidak dapat dipungkiri akan menjadi lapisan roti sandwich yang suka tidak suka menjadi bagian dari perubahan dunia. Pada dasarnya, tidak melulu generasi ini dianggap sebagai sesuatu yang negatif. Kemunculan mereka ada karena memang memiliki masanya sama seperti dengan kekhasan generasi-generasi sebelumnya.

Generasi Z sebagai generasi muda yang kreatif, cerdas, namun terburu-buru dalam pengambilan keputusan dan mudah bosan. Maka hal yang perlu disikapi oleh generasi di atasnya adalah sama-sama untuk mengubah sudut pandang dan bersikap yang relevan untuk memberikan mereka tantangan sesuai dengan potensi yang dimilikinya.
Penutup

Kemunculan generasi Z akan terjadi karena memang sudah menjadi masanya. Generasi ini memiliki peran yang penting untuk mendukung kemajuan sebuah bangsa, karena generasi muda yang memegang perubahan sesungguhnya. Generasi Z perlu disikapi dengan serius dan bimbingan yang disesuaikan dengan kebutuhan usianya. 

Pemerintah perlu menyikapinya dengan bijaksana dengan memperlengkapi kurikulum pendidikan yang disesuaikan dengan zamannya namun tanpa mengurangi esensi kenegaraan Indonesia. Hal ini dilakukan demi mendukung penguatan mental dan memajukan gagasan kreativitas untuk mendukung kemajuan sebuah negara. (f) 

Ditulis: Silvany Dianita Sitorus, S.Psi., M.Psi., Psikolog.
Psikolog Klinis Dewasa anggota Ikatan Psikolog Klinis Indonesia
Kerjasama Femina dengan Ikatan Psikolog Indonesia


Baca juga:
IG Live @feminamagazine - Gen Z, Haus Eksistensi? Selasa, 30 Agustus 2022 pukul 15.00
4C Yang Pengaruhi Kesehatan Mental Gen-Z, Apakah Itu?
Trik Berteman dengan Kolega Usia Lebih Tua


Topic

#generasiz, #genz

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?