
Foto: 123RF
Mengamati riuh rendahnya dunia media sosial, tak dipungkiri, tagar atau hashtag punya peran besar dalam meramaikannya. Gara-gara tagar, banyak peristiwa di Indonesia jadi populer sampai ke belahan dunia lain. Simak beberapa tagar yang populer di Twitter sepanjang 2016.
Marking Percakapan
Hashtag atau tagar atau simbol #, dipopulerkan oleh Twitter. Menurut twitter.com, tagar digunakan untuk mengindeks kata kunci atau topik di Twitter. Fungsi ini dibuat di Twitter dan memungkinkan pengguna untuk mengikuti topik yang mereka minati dengan mudah.
Cipluk Carlita, Communication Manager Twitter Indonesia, menambahkan, “Awal kemunculan tagar lebih digunakan untuk menggabungkan suatu topik pembicaraan supaya mudah dimonitor oleh pengguna. Tagar ini datangnya bukan dari Twitter. It was an idea of a user.”
Pada awalnya, Twitter dibuat oleh Jack Dorsey untuk meng-update status pekerjaannya ke semua rekan sekantornya. Dorsey berasumsi, ia tak perlu memberi tahu satu per satu temannya, jadi komunikasinya bersifat satu arah. Karena itu, Twitter hanya terdiri atas 140 karakter. “Tapi, begitu dibawa ke dunia luar, interpretasinya jadi bermacam-macam, termasuk penggunaan tagar tersebut,” ujar Abang Edwin, pengamat media sosial.
Tak hanya itu, dengan menggunakan tagar, bisa dikelompokkan berapa orang yang memberi komentar pada sebuah posting. Maklum, Twitter terlalu scattered atau berantakan. “Kadang-kadang posting-an yang sudah kita post sejak pagi, ada yang mengomentari di malam hari. Jika tidak ada tagar, tidak bisa dideteksi. Jadi, fungsinya seperti marking percakapan kita dan mudah dihitung,” jelas Abang Edwin, yang biasa dipanggil Bang Win. Karena itu, sekarang banyak aktivasi, gerakan, kampanye, topik, bahkan yang ringan-ringan seperti kuis dan pertanyaan, yang memanfaatkan tagar.Tentu gunanya agar kegiatan-kegiatan itu mudah diingat.
Sebelumnya, tagar digunakan oleh industri lain, seperti pengganti kata nomor (nomor 7 menjadi #7), di pesawat telepon, serta jaringan Internet Relay Chat (IRC) untuk mengelompokkan topik dan kelompok tertentu. “Pada tahun 2007, Chris Messina memopulerkannya lewat Twitter, hingga sekarang akhirnya digunakan di platform media sosial lainnya,” ujar Cipluk. Meski penggunaannya sama, tujuan akhirnya cukup berbeda. Di Instagram misalnya, selain untuk mengelompokkan topik, tagar banyak digunakan untuk berjualan atau promosi.
Namun, membuat tagar tak bisa sembarangan. Untuk membuat orang tertarik, kata yang digunakan untuk tagar biasanya adalah kata yang mudah diingat. Selain itu, tidak ada ketentuan apa pun, kecuali yang bersifat teknis, misalnya hanya bisa satu kata, tidak bisa menggunakan spasi atau tanda baca.
“Yang pasti, penambahan tagar membuat orang aware, bahwa ada sesuatu di balik pesan ini. Baik promosi produk atau acara. Untuk masalah sosial politik dan berbentuk gerakan, tagar sekarang makin banyak digunakan sebagai judul atau headline kampanye,” ujar Bang Win.
Di sinilah tagar biasanya dimasuki oleh ‘penumpang gelap’. Jika tagar digunakan untuk kampanye, maka jumlah orang yang mencari dan melihat posting-posting yang menggunakan tagar tersebut meningkat. “Nah, para penumpang gelap tagar ini adalah orang-orang yang mem-posting sesuatu, yang tidak ada hubungannya dengan kampanye yang menggunakan tagar tersebut. Tujuannya hanya untuk bisa menggaet perhatian banyak orang. Istilahnya nebeng. Biasanya, para penebeng ini memang spam, yaitu orang berjualan,” jelas Bang Win.
Ada yang harus diingat, meski awalnya tagar diciptakan tanpa intensi apa pun, sayangnya ada tagar yang diciptakan dengan niat buruk dan kata yang memprovokasi, misalnya #bunuhahok. “Itu kan jelas tidak baik, dan jika meresahkan dan tak sesuai dengan undang-undang, bisa dijerat dengan UU ITE. Sebenarnya bisa saja pihak berwenang langsung bertindak. Namun, yang terjadi saat ini adalah seperti menunggu ada yang melapor dulu, baru bergerak,” ujar Bang Win, prihatin.
Menggerakkan Massa
Ramainya penggunaan tagar ini berawal pada Oktober 2007. Nate Ritter, seorang warga San Diego, California, Amerika Serikat, selalu menggunakan tagar #sandiegofire di tiap unggahan Twitter-nya. Tujuannya adalah memberi informasi atau status terbaru (update) kepada seluruh dunia mengenai status kebakaran yang terus-menerus terjadi di area tersebut.
Beberapa tahun terakhir, peran tagar makin besar, yaitu menjadi simbol untuk menggerakkan massa. Yang termasuk paling besar di dunia adalah saat tagar menjadi salah satu alat penggerak revolusi Mesir, Januari 2011. Tagar #jan25 di Mesir meningkat dari 2.300 menjadi 230.000 tiap hari, seminggu sebelum Presiden Hosni Mobarak lengser. Dalam hal ini, peran generasi muda, yang merupakan 60% dari pengguna internet di Mesir, sangat besar. Merekalah yang berkumpul di Tahrir Square, Kairo, menuntut turunnya Mobarak setelah 30 tahun berkuasa.
Di Amerika Serikat, gerakan #BlackLivesMatter menjadi sangat viral di seluruh dunia, dan memiliki arti yang amat dalam bagi kaum Afrika Amerika di AS. Tagar ini dibuat oleh Alicia Garza, Patrisse Cullors, dan Opal Tometi untuk menunjukkan kemarahan mereka terhadap dibebaskannya George Zimmerman dari tuduhan pembunuhan pemuda kulit hitam, Trayvon Martin (17), pada tahun 2012 lalu.
Mungkin, tagar yang pertama kali menggerakkan masyarakat Indonesia adalah #KoinKeadilan. Tagar ini dibuat untuk menyatakan simpati kepada Prita Mulyasari yang harus membayar denda kepada RS Omni karena ia didakwa mencemarkan nama baik RS Omni.
Gerakan ini tak hanya ramai di dunia maya, tapi juga di dunia nyata. Masyarakat yang simpati pada Prita ramai-ramai mengumpulkan uang, hingga akhirnya terkumpul empat kali lipat daripada yang dibebankan, yaitu Rp824 juta, yang seharusnya hanya Rp204 juta. Namun, karena RS Omni memutuskan untuk menghapus dendanya, maka semua uang yang terkumpul disumbangkan untuk pengungsi Merapi oleh Prita.
Menurut Bang Win, pengguna internet di Indonesia termasuk yang paling banyak dan paling aktif di dunia. “Tak mengherankan, jika ada topik yang menarik mereka, bisa dengan cepat viral hingga menjadi trending topic dunia. Seperti kasus Prita itu. Contoh yang terbaru adalah #telolet atau Om Telolet Om, yang bisa bertahan selama dua hari menjadi trending topic dunia. Padahal, ini kan bukan hal yang penting,” tutur Bang Win.
Namun, topik ‘yang tidak penting’ ini jugalah yang membuat dunia media sosial yang akhir-akhir ini penuh perbedaan dan kebencian menjadi lucu dan menyenangkan. “Itulah guyubnya orang Indonesia. Jika tepat menggunakannya, maka tagar pun bisa membuat masyarakat bersatu dan negara kita menjadi lebih kokoh,” ujar Bang Win.
Menurut data Twitter tahun 2016, beberapa tagar yang paling ramai di Twitter adalah tentang Indonesia. Di antaranya adalah #RI71 yang diciptakan dalam menyambut Hari Kemerdekaan Indonesia ke-71, menjadi tagar yang paling populer dan menjadi top trending topic Indonesia dan dunia. Penggunaan tagar tersebut meningkat disertai tagar #Rio2016, saat Liliyana Natsir dan Tontowi Ahmad meraih medali emas di Olimpiade Rio de Janeiro, Brasil.
#KamiTidakTakut juga menjadi tempat bagi masyarakat Indonesia menunjukkan keberanian melawan terorisme dan berbagi dukungan saat terjadinya aksi penembakan oleh teroris di daerah Sarinah, Jakarta, 14 Januari 2016 lalu. Lalu #PrayForJakarta, masih tentang kejadian bom Sarinah yang menjadi perhatian dari masyarakat dunia.
Melihat aktifnya netizen Indonesia, media sosial sebenarnya bisa menjadi tools kuat untuk menyatukan negara dan mengembalikan kedamaian. Namun, banyaknya orang yang menutup diri membuat hal ini menjadi tidak mudah. Harus ada trigger yang bisa menggabungkan semua orang. “Contohnya, ketika timmas sepak bola Indonesia masuk final dalam piala AFF 2016 lalu. Beragam tagar, seperti #Ayoindonesia #Timnasday #IndonesiaJuara dan #IndonesiaBisa berseliweran di media sosial, mengalahkan tagar yang sedang tren saat itu, seperti #212,” ungkap Bang Win, panjang lebar. Demikian juga saat #KamiTidakTakut menjadi trending topic, musuh Indonesia hanya satu dan menyebabkan semua masyarakat bergabung memberikan simpatinya.
Beberapa bulan terakhir media sosial dipenuhi beragam tagar, baik yang positif maupun negatif. Ada yang sukses menggerakkan massa, menimbulkan simpati, menciptakan kebencian, hingga membangkitkan semangat. Misalnya saja, #SaveAhok sempat menjadi trending topic saat Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok diperiksa Bareskrim. Tujuan tagar dari para pendukung Ahok ini adalah untuk saling berbagi dukungan membela dan semangat.
Ada lagi #PresidenKemana yang mempertanyakan keputusan Presiden Jokowi mengapa tak mau menemui perwakilan massa aksi saat Aksi Damai 4 November tahun lalu. Sayangnya, isi posting-nya lebih banyak memfitnah dan menghina Presiden Jokowi, seperti mengatakan ia pengecut dan pencitraan.
Namun, ketika Presiden Jokowi hadir menemui massa di Aksi Damai 2 Desember lalu, muncullah @Jokowi212, yang kali ini kebanyakan berisi apresiasi kepada beliau akan kehadirannya, bahkan ikut salat Jumat bersama massa. Sebelumnya, #SuperDamai212 yang diciptakan menyambut aksi damai umat Islam di Monas itu terbukti membuat semua yang datang bisa bersikap tertib dan tidak anarkis.
Meski demikian, tagar yang menjadi trending topic di media sosial tak sepenuhnya sesuai kenyataan di dunia nyata. “Topiknya memang sesuai, tapi ditambah bumbu berdasarkan point of view masing-masing. Misalnya, topiknya kasus Ahok... ya Ahok sudah terkena kasus, ‘kan? Tapi, yang pro-Ahok akan mengangkat betapa tidak adilnya kasus tersebut terhadap Ahok. Sementara, yang anti-Ahok juga akan mengangkat mengapa tidak langsung dieksekusi saja,” ungkap Bang Win.
“Inilah challenge di media sosial yang harus kita hadapi, yaitu berpikir panjang dan mengendalikan emosi. Jangan langsung share tagar atau hoax yang ternyata tidak benar dan penuh kebencian. Pada akhirnya, jika screen capture sudah telanjur naik, yang harus dilakukan seseorang adalah mencari alasan, yang kita semua tahu bahwa itu adalah ‘ngeles’,” kata Bang Win, menutup pembicaraan. (f)
Baca juga:
Kaleidoskop 2016: 10 Tagar Populer di Twitter Indonesia
Kaleidoskop 2016: 10 Momen Populer di Twitter Indonesia
Kaleidoskop 2016: 10 Akun Twitter di Indonesia yang Memiliki Follower Terbanyak: Dari Agnez Mo hingga Luna Maya
Topic
#Kaleidoskop2016


