
Foto: Fotosearch
Wacana Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy soal sistem belajar full day school atau sekolah sehari penuh menimbulkan pro dan kontra. Sebelum kita protes dengan dengan ide ini, ada baiknya kita tahu dulu komentar tokoh pendidikan, Prof. Dr. H. Arief Rachman, M.Pd perihal ini.
Arief berpendapat bahwa sistem full day school ini cocok untuk orangtua yang sangat sibuk. “Sistem full day school sangat baik. Sebab memang ada beberapa tempat yang memerlukan full day school. Saya ambil contoh di Jakarta yang orangtua bekerja sampai malam hari, sebaiknya anak-anak berada di satu tempat yang terlindungi dan terawasi dengan baik,” katanya.
Itu dari sisi orangtua, lalu bagaimana dari sisi anak? Tidakkah anak akan terbebani bila diharuskan sekolah seharian? “Siswa tidak akan terbebani selama sekolah itu menyenangkan. Kalau menyenangkan, mereka kadang-kadang nggak mau pulang. Itu pengalaman saya. Saya katakan, ‘Ini sudah jam 6 sore, Dek, pulang. Dia menjawab, nggak mau. Ngapain pulang? Lebik baik di sekolah daripada di rumah’,” cerita Arief tentang pengalamannya mendidik di full day school.
Baca Juga: 5 Negara Ini Menerapkan Full Day School
“Saya sudah puluhan tahun mendidik untuk full day school ini. Contohnya di Sekolah Garuda Cendekia yang ada di Jl. Bangka, Jakarta. Anak-anak ini sangat senang sekolah sampai sore. Proses pembelajarannya, hubungan guru dan anak, kreativitas dalam pembelajaran yang bikin mereka senang. Kalau cara belajarnya asyik, anak-anak akan suka,” tambah pria duta UNESCO ini.
Namun Arief mengakui bahwa tidak semua tempat di Indonesia siap dengan sistem full day school ini. “Tidak semua sekolah di Indonesia siap dengan hal ini karena tidak semua guru terlatih dengan sistem ini,” ungkapnya. Selain itu, sarana di sekolah itu sendiri harus disiapkan. Salah satu contohnya makanan. Sekolah harus siap dengan kantin yang bisa menyediakan makanan sehari penuh.
Meskipun mendukung dengan sistem full day school ini, Arief menyarankan untuk orangtua yang masih memiliki banyak waktu untuk anak, sebaiknya tidak menyekolahkan anaknya dengan sistem ini. “Lebih baik orangtuanya mengasuh anaknya, tapi harus ada pelatihan bagi orangtua agar menjadi orangtua yang baik. Sebab tidak semua orang tua mengerti bagaimana pembinaan anak. Pendidikan itu harus mencapai target pengembangan lima potensi, yaitu potensi kedekatan kepada Tuhan, potensi budi pekerti, potensi akal, potensi jasmani, dan potensi sosial,” tutur pria kelahiran Malang, 19 Juni 1942 ini.
Anda setuju? Share di kolom komentar ya.. (f)
Baca Juga: Pro dan Kontra Sekolah Sehari Penuh: Solusi bagi Anak atau Masalah Baru Orangtua?
Bahan wawancara: Reynette Fausto
Topic
#fulldayschool




