Trending Topic
Insiden Perampokan di Pulomas dan 6 Cara Membantu Anak yang Terpapar Kekerasan

27 Dec 2016


Foto: Pixabay
 
Di pekan liburan akhir tahun ini warga dikejutkan dengan berita perampokan sebuah rumah di kawasan Pulomas, Jakarta Timur. Perampokan itu memakan korban jiwa  6 orang anggota keluarga pemilik rumah, terdiri dari ayah, dua anak, dua supir keluarga, dan seorang teman anak pemilik rumah yang kebetulan sedang menginap di sana. Enam korban diduga tewas karena kehabisan oksigen karena disekap lebih dari 15 jam. Lima korban lainnya berhasil diselamatkan. Menurut pihak kepolisian, insiden ini belum tentu murni perampokan dan sedang diselidiki motifnya.
 
Bagaimana jika situasi ini terjadi di lingkungan Anda dan anak Anda juga mengenal korban kejahatan itu? Umumnya, insiden kejahatan yang terjadi di sekitar tempat tinggal seseorang dapat menerbitkan fear of crime atau perasaan takut akan bahaya secara fisik yang didapat dari lingkungannya.
 
James Garofalo (1981), mengatakan ada dua macam perasaan takut akan bahaya, yaitu: ketakutan aktual dan ketakutan antisipatif. Pada ketakutan aktual, ada perasaan takut bahwa ancaman kejahatan memang nyata, dan ketika semakin sering mereka menemukan diri mereka berada dalam situasi yang menakutkan secara nyata.
 
Sedangkan ketakutan antisipatif ditandai dengan adanya perasaan takut akan mengalami kejahatan, saat seseorang berada dalam suasana yang sama dengan peristiwa kejahatan yang pernah dialaminya, baik sebagai korban maupun sebagai saksi. Ketakutan antisipatif berhubungan timbal balik dengan ketakutan aktual. Perasaan ini terjadi pada siapa pun, baik pada orang dewasa maupun anak-anak.
 
Berada di lingkungan yang dekat dengan peristiwa kejahatan dapat mengubah cara pandang seseorang terhadap kehidupan, terutama pada anak-anak. Menurut jurnal Pediatric Nursing, anak yang menyaksikan kekerasan—baik itu berupa teriakan keras dari anggota keluarga, kekerasan fisik, atau melihat seseorang yang terluka parah atau tewas—akan sering merasakan gugup, depresi, dan kesepian. Jika hal itu terjadi pada remaja, mereka bisa merasa takkan sanggup memasuki kehidupan dewasa dan ini bisa berujung pada perilaku berisiko atau keinginan bunuh diri.
 
Studi lain tentang Perkembangan dan Perilaku Anak mendapati paparan kekerasan dapat meningkatkan risiko masalah tidur pada anak usia 6-7 tahun. Anak yang sering terpapar kekerasan juga mudah sakit kepala, yang merupakan salah satu tanda stres.
 
Orang tua mungkin tidak bisa sepenuhnya mengisolasi anak-anak dari dunia yang penuh dengan kekerasan setiap hari. Namun, Anda bisa membantu anak beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan situasi yang ada. Salah satu langkah praktis yang bisa dilakukan adalah membatasi anak dari paparan video games dan televisi yang kerap menyiarkan berita kriminal dan kekerasan.
 
Menonton berita tentang perampokan atau pembunuhan di televisi tidak menimbulkan trauma separah saat seseorang menyaksikan kejahatan langsung di jalan. Tapi, menyaksikan gambar-gambar seram di televisi dan pembunuhan virtual di video games secara berkala dapat memengaruhi pandangan anak terhadap dunia. Bahkan, menurut laporan American Psychological Association, ‘hiburan’ mengerikan itu dapat memperbesar kesempatan anak tumbuh menjadi orang dewasa yang agresif dan kasar.
 
Apa yang bisa dilakukan oleh orang tua untuk membantu anak yang berhadapan dengan kekerasan, baik di layar televisi, games maupun di dunia nyata? Berikut 6 kiat dari The National Institute of Mental Health yang bisa Anda lakukan:
 
1/ Jelaskan pada anak apa yang sedang terjadi sejelas mungkin untuk membantu ia memahami situasi.
2/ Ajak mereka bercerita dan menuangkan perasaan dan pendapatnya terhadap situasi terkini.
3/ Yakinkan anak Anda yang ketakutan bahwa Anda akan mendampinginya dan membantunya jika sesuatu yang buruk terjadi.
4/ Hindari membuat situasi yang buruk menjadi bahan candaan dan jangan mengolok-olok anak jika ia bereaksi ketakutan dan berlebihan dibanding usianya sebenarnya.
5/ Jika anak mengalami gangguan tidur, biarkan ia tidur dengan lampu menyala atau tidur di kamar Anda hingga perasaannya normal kembali. Jika mungkin, berikan kesempatan agar ia merasa memegang kendali situasi, misalnya biarkan ia memilih sendiri pakaian atau makanannya.
6/ Batasilah anak dari kemungkinan paparan kekerasan di sekitar mereka, terutama di rumah. Anak butuh rasa aman dari dunia yang kejam di luar sana. Jika tidak, rasa takut akan membuatnya stres dan mendorong penyakit secara fisik dan emosional.
 
Pada akhirnya, anak yang terpapar kekerasan sangat mungkin menjadi pelaku kekerasan di masa depan. Lingkaran setan ini yang harus kita putus demi masa depan yang lebih anak untuk generasi mendatang. (f)

Baca juga:


Topic

#Kekerasan, #Kejahatan

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?