
Foto: Pixabay
Setelah kedatangan 3 juta dosis vaksin Sinovac dari Cina pada akhir Desember lalu, kini Indonesia bersiap untuk memulai program vaksinasi COVID-19 secara nasional. Sebagai langkah awal, pemerintah telah mengirimkan pemberitahuan sms blast kepada sasaran vaksin COVID-19 tahap pertama yaitu kelompok prioritas penerima vaksin COVID-19 yang terdiri dari tenaga kesehatan, petugas publik, dan lansia.
Sedangkan vaksin COVID-19 tahap kedua yang rencananya akan dimulai April 2021 akan menyasar kelompok masyarakat rentan yang berada di daerah dengan lokasi penularan tinggi dan masyarakat lainnya dengan pendekatan klaster.
Dari dua tahap pelaksanaan vaksin COVID-19 tersebut, kelompok usia kerja akan mendapatkan prioritas. Hal ini berbeda dengan beberapa negara seperti Amerika Serikat dan Inggris yang sudah memulai program vaksinasi ini. Kedua negara tersebut memprioritaskan lansia yang rentan terhadap penyakit pernafasan.
Alasan memprioritaskan orang dewasa usia kerja ini sesuai rencana pemerintah untuk mencapai kekebalan kelompok (herd immunity) dengan cepat dan menghidupkan kembali ekonomi. Walaupun seperti dilansir dari reuters.com, para ahli masih menekankan tentang pentingnya penelitian lebih lanjut dilakukan untuk memastikan apakah orang yang divaksinasi dapat menularkan virus atau tidak.
Meski begitu, alasan prioritas usia ini juga tidak lepas dari jenis vaksin yang saat ini telah tersedia di Indonesia. Seperti dijelaskan oleh dr. Siti Nadia Tarmizi, juru bicara Vaksinasi COVID-19 bahwa Indonesia masih menunggu rekomendasi dari BPOM untuk memutuskan rencana vaksinasi pada orang tua. Hingga saat ini uji klinis vaksin Sinovac yang dilakukan di Indonesia melibatkan orang-orang berusia 18-59 tahun.
Sementara Inggris dan Amerika Serikat memulai imunisasi dengan suntikan yang dikembangkan oleh Pfizer Inc dan mitranya BioNTech yang menunjukkan bahwa vaksin itu bekerja dengan baik pada orang-orang dari segala usia.
Pendekatan kelompok prioritas penerima vaksin COVID-19 di Indonesia yang berbeda ini mendapat sorotan dari beberapa pihak. Reuters menulis, Profesor Dale Fisher dari Fakultas Kedokteran Yong Loo Lin di National University of Singapore mengatakan ia memahami dasar pemikiran pendekatan Indonesia, yang memilih usia produktif sebagai kelompok pertama penerima vaksin.
"Orang dewasa yang bekerja lebih muda umumnya lebih aktif, lebih sosial dan lebih banyak bepergian sehingga strategi ini bisa mengurangi penularan komunitas lebih cepat daripada memvaksinasi orang yang lebih tua," kata Fisher.
"Tentu saja orang tua lebih berisiko terhadap penyakit parah dan kematian, jadi memvaksinasi mereka memiliki alasan alternatif. Saya melihat manfaat dari kedua strategi tersebut," lanjutnya kemudian.
Kepala BPOM Penny K Lukito, seperti dikutip dari health.detik.com mengungkap lansia tetap bisa dapat vaksin COVID-19, tapi memang harus menunggu data uji klinis pada kelompok tersebut.
"Kita memberikan vaksin yang ada saat ini yaitu Sinovac untuk rentang usia 17-59, karena memang uji kliniknya diberikan pada rentang usia tersebut. Namun sebetulnya, vaksin Sinovac juga sekarang di fase dua (uji klinis) untuk lansia. Jadi kita menunggu data tersebut yang sedang dilakukan kalau tidak salah di Brasil dan di China sendiri," jelas Penny.
Budi Gunadi Sadikin, Menteri Kesehatan Indonesia, menyebutkan negara perlu memvaksinasi 181,5 juta orang, atau sekitar 67% dari populasinya, untuk mencapai kekebalan kawanan. Untuk itu dibutuhkan hampir 427 juta dosis vaksin, dengan asumsi rejimen dosis ganda dan 15% tingkat pemborosan.
Tetap disiplin protokol kesehatan 3M: memakai masker, mencuci tangan, jaga jarak dan hindari kerumunan agar terhindar dari COVID-19. (f)
Baca Juga:
Palsukan Hasil Tes Covid-19 Bisa Masuk Penjara
Update Vaksin COVID-19: Butuh Waktu 15 Bulan Guna Menuntaskan Program Vaksin COVID-19 untuk 181,5 Juta Penduduk Indonesia
Sudah Tepatkan Anda Bermasker?
Faunda Liswijayanti
Topic
#3m, #ingatpesanibu, #corona, #covid19, #vaksin




