
Beredarnya image surat dengan kop Kementerian Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB), yang berisi permohonan agar Konsulat Jenderal RI di Sydney memfasilitasi kunjungan kolega Menteri PANRB Yuddy Chrisnandi, menjadi bahan pembicaraan di antara masyarakat. Nggak sedikit, tuh, netizen yang menganggapinya dengan negatif. Menurut mereka, isi surat ini menunjukkan adanya nepotisme di kalangan pejabat.
Maraknya media sosial memang memudahkan tiap orang menyuarakan pendapat mereka, termasuk terkait dengan kasus nepotisme. Bahkan, kadang beberapa dari kita tidak sungkan mencerca. Padahal, nih, memanfaatkan hubungan dengan koneksi untuk kepentingan pribadi nggak hanya dilakukan public figure. Tanpa disadari, mungkin orang biasa seperti kita juga pernah melakukannya, seperti yang diakui Wuri, 33.
“Dulu teman dekat saya adalah anak dari pemilik salah satu majalah remaja. Ketika band favorit saya datang ke Indonesia, saya pun berkesempatan mewancarai band tersebut, plus menonton gratis konser mereka. Senangnya lagi, saya bisa foto bareng dan mendapatkan tanda tangan mereka,” ujarnya.
Katharina, 25, juga memiliki pengalaman yang mirip dengan Wuri. Saat ada salah satu idol group Korea mengadakan konser di Indonesia, dia pun mengikuti kuis yang digelar media. Kebetulan, temannya bekerja di media tersebut. Hasilnya, Katharina ‘menang’ kuis dan mendapat tiket konser gratis.
Jika Katharina dan Wuri pernah menjadi pihak yang memanfaatkan, Dyanna, 34, justru pernah dimanfaatkan. Berhubung kerja di salah satu hotel terkemuka di Jakarta, nggak jarang klien atau temannya minta special rate untuk harga kamar dan makan di restoran.
“Kalau bekerja di hotel, tuh, nggak boleh menolak. Jadi, saya biasanya menuruti permintaan mereka. Kadang saya memberi harga net tanpa pajak,” jelas Dyanna.
Menanggapi hal ini, Psikolog Dian Permatasari, M.Psi, dari Meilia Hospital mengungkapkan kalau seseorang bisa melakukan nepotisme karena dirinya merasa tidak puas atau merasa kurang dengan apa yang dimilikinya. Hasilnya, mereka memanfaatkan koneksi untuk mendapatkan hal yang mereka mau agar nggak perlu keluar uang.
“Tidak melulu karena faktor ekonomi. Banyak di antara mereka yang sebenarnya mampu secara finansial, tapi tidak mau harta berkurang. Kadang, mereka masih merasa kurang dengan apa yang sudah mereka miliki. Jadi saat ada sesuatu yang bisa didapatkan dengan gratis, mereka pun memanfaatkannya,” jelas Dian.
“Jika dibiasakan—apalagi memanfaatkan fasilitas umum atau negara melalui teman—bisa-bisa kita terjerat kasus hukum. Mulai sekarang ubah pola pikir ‘meminta’. Sebaiknya, sih, usaha sendiri untuk memperoleh hal yang diinginkan,” tutup Dian. (f)
Foto: Fotosearch



